Di suatu daerah hiduplah seorang anak dalam keluarga yang bahagia bersama dengan orang tua dan sanak saudaranya. Dan dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja.
Dia bisa bebas bermain, mengganggu adik dan kakaknya, dan membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa”.
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Semua itu begitu saja dijalaninya sehingga dia merasa bahwa hal itu memang sudah sewajarnya.
Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk meminta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa”.
Ketika dia agak besar lagi, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu tapi itu bukanlah masalah karena dia masih punya banyak teman baik yang lainnya. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, bermain, mengerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-teman yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia bertemu dengan seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya.
Dia begitu terhanyut dengan pekerjaannya karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mingkin. Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, sekalipun hanya melalui telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku menghubungi mereka”. Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja yang selalu mau diajak keluar. Jadi waktupun berlalu, dan dia lupa sama sekali untuk menelpon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras lagi agar dapat membahagiakan keluarganya. Begitu sibuknya dia sehingga dia bahkan tidak pernah lagi ada waktu untuk membeli bunga atau hadiah lain untuk istrinya ataupun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak menjadi masalah baginya karena istrinya selalu mengerti dia dan tidak pernah menyalahkannya.
Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan tapi dia tidak pernah sungguh-sungguh mengupayakannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok saya pasti masih bisa melakukannya” .. Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, dan dia tidak tahu bahwa ini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang mengikuti rapat. Dia tidak sadar bahwa itu adalah kecelakaan yang fatal dan dia baru tiba di rumah sakit saat istrinya sudah hampir dijemput maut. Dan sebelum dia sempat berkata, “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri dengan mendekatkan diri kepada anak-anaknya setelah kematian istrinya, tapi dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak mau (tidak terbiasa) berkomunikasi dengannya.
Segera, anak-anaknya tumbuh dewasa dan membangun keluarga mereka masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktu untuk mereka.
Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60 dan 70.
Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand dan negara-negara lainnya bersama istrinya tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, dia hanya ditemani oleh orang-orang tua sesama penghuni panti dan suster yang merawatnya.
Kini dia merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saat mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu……” Kemudian perlahan-lahan ia menghembuskan napas terakhir, dan dia meninggal dunia dengan air mata dipipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, dan sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika anda pernah bertengkar, segeralah berbaikan dan jika kamu merasa ingin mendengar suara temanmu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.
Terakhir… tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa ingin mengatakan kepada seseorang bahwa kamu menyayangi dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus berpikir bahwa masih ada hari esok untuk memberitahu, sadarlah bahwa mungkin hari tersebut tidak akan datang. Jika kamu selalu berpikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan pergi dengan begitu cepatnya hingga kamu baru menyadarinya ketika kesempatan itu telah meninggalkanmu.
Selasa, 01 Juni 2010
Kebahagiaan ada dimana – mana
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang kau risaukan..?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku.
Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?” Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu.
Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal.
Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ” Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.”
“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.” Kakek Tua itu mengangkat tangannya.
Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.
Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu.
Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Percayalah, kebahagiaan itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?” Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu.
Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal.
Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ” Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.”
“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.” Kakek Tua itu mengangkat tangannya.
Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.
Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu.
Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Percayalah, kebahagiaan itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Minggu, 23 Mei 2010
Misteri Hari Esok
Hari esok adalah misteri dan tak seorang manusiapun yang bisa mengetahuinya. Orang kita jumpai pada hari ini dalam keadaan segar bugar bisa jadi keesokan harinya sudah terbujur kaku di sebuah peti mati. Bukankah hal yang seperti ini sering kita lihat? Kemarin kita masih ngobrol panjang lebar, tetapi hari ini kita menerima sepucuk surat pemberitahuan kematian dan waktu penguburannya. Tak perlu terkejut, sebab itulah kehidupan.
Melihat pengetahuan manusia yang terus berkembang, rasanya kita dibuat semakin kagum saja. Penemuan-penemuan mutakhir abad ini menunjukkan bahwa semakin hari semakin hebat saja pengetahuan manusia. Mulai dari alat-alat medis yang memungkinkan mencangkok ginjal, sistem komputer nan canggih, penjelajahan ke ruang angkasa yang sepertinya mustahil dan masih banyak lagi. Tetapi sehebat-hebatnya manusia menciptakan berbagai penemuan mutakhir, mereka tetap saja tak bisa memecahkan misteri hari esok. Kalau sudah berbicara tentang hari esok, maka pengetahuan yang tinggi itu tiba-tiba merosot sampai ke titik nol.
Kita boleh jadi orang yang sangat jenius dan brilian dalam segala hal, namun tetap saja kita tak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Hari esok adalah misteri ilahi dan tak ada seorang manusia yang bisa memahami dan memprediksikannya dengan pasti.
Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok, sungguh bijaksana kalau kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan yang empunya hari esok. Kita tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada hari esok, tapi kita bisa mempersiapkannya. Dan isilah rencana hari esok dengan perbuatan-2 mulia sebagai rasa syukur kita masih diberika kesempatan oleh-NYA untuk terus berkarya.
Melihat pengetahuan manusia yang terus berkembang, rasanya kita dibuat semakin kagum saja. Penemuan-penemuan mutakhir abad ini menunjukkan bahwa semakin hari semakin hebat saja pengetahuan manusia. Mulai dari alat-alat medis yang memungkinkan mencangkok ginjal, sistem komputer nan canggih, penjelajahan ke ruang angkasa yang sepertinya mustahil dan masih banyak lagi. Tetapi sehebat-hebatnya manusia menciptakan berbagai penemuan mutakhir, mereka tetap saja tak bisa memecahkan misteri hari esok. Kalau sudah berbicara tentang hari esok, maka pengetahuan yang tinggi itu tiba-tiba merosot sampai ke titik nol.
Kita boleh jadi orang yang sangat jenius dan brilian dalam segala hal, namun tetap saja kita tak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Hari esok adalah misteri ilahi dan tak ada seorang manusia yang bisa memahami dan memprediksikannya dengan pasti.
Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok, sungguh bijaksana kalau kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan yang empunya hari esok. Kita tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada hari esok, tapi kita bisa mempersiapkannya. Dan isilah rencana hari esok dengan perbuatan-2 mulia sebagai rasa syukur kita masih diberika kesempatan oleh-NYA untuk terus berkarya.
Minggu, 16 Mei 2010
Fokus Pada Solusi Bukan Pada Masalah
Nicolo Paganini adalah seorang pemain biola classic. Setiap pertunjukan yang digelarnya selalu dihadiri ratusan orang dan tiket yang dijual pun pasti habis. Paganini memang luar biasa. Bila biola sudah dimainkan, siapapun yang mendengar pastilah akan hanyut dalam setiap petikan dawainya. Bila dia memainkan musik bertema bahagia, maka bahagialah perasaan mereka yang mendengarnya hingga dunia terasa indah. Bagitu juga bila dia memainkan musik bertema kesedihan, maka sedihlah mereka yang mendengarnya hingga tanpa terasa meneteskan air mata. Kalau ada musisi yang selalu dibicarakan, itu tidak lain pastilah Nicolo Paganini Sang Pemain Biola.
Suatu hari, Paganini berencana untuk mengadakan sebuah pertunjukan. Lain dengan sebelumnya, kali ini dia akan mengadakan pertunjukkan yang akan menghebohkan seantero Italia. Pertunjukan paling berkesan yang takkan dilupakan oleh masyarakat Italia hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Untuk hal tersebut, Paganini menyiapkan segala-galanya. Dia tidak ingin pertunjukan termegahnya itu tampil mengecewakan. Berbagai pilihan lagu yang berkualitas dicari dan dikumpulkannya. Tak lupa pula segera berita pertunjukan tersebut disebarkan ke seluruh penjuru Italia. Dengan demikian dalam waktu singkat saja, orang-orang sudah membicarakan seperti apa nanti kira-kira pertunjukan yang akan digelar oleh Paganini.
Hari H pun tiba. Seluruh tiket yang ada sudah habis terjual sejak tiga hari sebelumnya. Harganya, tentu 2x lipat dari harga pertunjukan biasa karena ini adalah pertunjukan terhebatnya. Para audience pun tak peduli meski mereka tidak mendapatkan tempat duduk (karena penuhnya). Mereka hanya ingin mendengar alunan dawai biola Sang Paganini.
Pertunjukan dimulai. Untuk malam itu, Paganini menyiapkan 10 lagu terbaiknya. Dia yakin malam itu akan menjadi malam yang tidak terlupakan. Satu demi satu lagu yang telah dipersiapkan sebelumnya dia mainkan. Suasana tribun silih berganti. Kadang penuh dengan senyum kebahagiaan. Kadang penuh dengan isak tangis para penonton. Ini semua tergantung tema musik yang dimainkan oleh Paganini. Semua berjalan lancar pada awalnya.
Ketika Paganini memainkan lagu ke-10, tiba-tiba saja musibah itu terjadi. Satu dawainya tiba-tiba putus. Pertanda apakah ini? Seluruh penonton pun berdiri dan memberikan tepuk tangan. Mereka menyerukan kepada Paganini bahwa mereka mengerti dan akan menunggu Paganini untuk mengganti dawai biolanya terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi? Paganini berkata melalui microphonenya, “Paganini dengan 3 dawai biola.” Dia pun memainkan lagu ke-10 tersebut dengan 3 dawai saja.
Lagi-lagi kesialan itu datang. Dawainya kembali putus hingga tersisa 2 buah saja. Namun tetap saja Paganini hanya berkata, “Paganini dengan 2 dawai biola.” Dan dia pun memainkannya dengan dua dawai biola yang tersisa. Penonton pun semakin larut dalam permainannya yang sungguh menggugah hati.
Hingga… Tus…, putuslah dawai ketiga. Kini hanya tersisa satu dawai saja. “Petaka apa ini?”, pikir Paganini. Reaksi penonton kali ini terdiam. Mereka memberikan tepukan tangan perlahan. Mereka terus memberikan segenap dukungan pada Paganini sembari menyerukannya untuk mengganti biolanya. Mereka memaklumi itu semua. Namun, apa reaksi Paganini?
Dia hanya berdoa dalam hati dan berkata, “Paganini dengan 1 dawai biola.” Dia tahu itu sulit. Tapi dia terus meyakinkan dirinya bahwa Paganini akan menampilkan pertunjukan yang takkan terlupakan. Dia fokus pada tujuan akhirnya, konser yang sukses. Dengan susah payah, dia mencoba menemukan permainannya yang bisa terdengar indah hanya dengan 1 dawai. Dia tidak fokus pada masalah putusnya 3 dawai.
Luar biasa… ibarat sebuah keajaiban, permainannya menjadi sangat indah. Permainan yang bahkan lebih bagus dan memberikan kesan mendalam dibandingkan dengan 9 lagu sebelumnya. Dan pertunjukan itu dia tutup dengan manisnya sembari mengucapkan terima kasih pada penonton yang selalu mendukungkan. Banjir air mata dan suara tepuk tangan pun tak terelakkan lagi.
Maka semenjak pertunjukan termegah malam itu, tak pernah ada musik yang dibicarakan selain permainan Sang Pemain Biola 1 Dawai… Siapa lagi kalau bukan Nicolo Paganini.
Nah, sepengal kisah hidup Paganini Sang Pemain Biola 1 Dawai sudah saya sharingkan. Sekarang waktunya kita bedah pelajaran apa yang bisa diambil di dalamnya.
Ketika memainkan biolanya, dawai Paganini putus satu persatu. Itu tentu merupakan sebuah masalah. Namun, lihatlah bagaimana Paganini bersikap. Dia tidak peduli dengan masalah itu. Paganini tidak memfokuskan dirinya pada masalah. Dia memilih untuk bersikap tenang dan fokus bagaimana solusi pemecahan dari masalahnya. Sekali lagi bukan pada masalah, tapi fokus pada solusi.
Paganini bisa melakukan itu semua karena dia memiliki sebuah keyakinan yang mendalam serta visi yang begitu berakar di dalam hatinya. Visinya adalah menjadikan pertunjukan malam itu menjadi pertunjukkan yang tidak akan terlupakan sepanjang masa dan dia yakin pasti bisa mewujudkannya.
Ngomong-ngomong, kalau kita senantiasa fokus pada solusi ketika masalah datang, maka kita memberikan kesempatan pada otak kita (khususnya sisi kreatifitas) untuk bekerja dan mencari jalan keluarnya. Kalau ini sering dilakukan maka sama artinya kita melatih otak untuk kreatif dan inovatif.
Sebaliknya, manakala kita fokus pada masalah yang ada, maka kita menutup jalan otak kita untuk bisa berpikir dan berkembang. Ujung-ujungnya, hanya mengeluh dan selalu merasa tidak pernah ada jalan keluar untuk masalah ini. Kalau Anda tertarik mempelajari hal ini lebih dalam, silahkan baca buku “MANAGE YOUR MIND FOR SUCCESS” karangan Adi W. Gunawan.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat.
Suatu hari, Paganini berencana untuk mengadakan sebuah pertunjukan. Lain dengan sebelumnya, kali ini dia akan mengadakan pertunjukkan yang akan menghebohkan seantero Italia. Pertunjukan paling berkesan yang takkan dilupakan oleh masyarakat Italia hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Untuk hal tersebut, Paganini menyiapkan segala-galanya. Dia tidak ingin pertunjukan termegahnya itu tampil mengecewakan. Berbagai pilihan lagu yang berkualitas dicari dan dikumpulkannya. Tak lupa pula segera berita pertunjukan tersebut disebarkan ke seluruh penjuru Italia. Dengan demikian dalam waktu singkat saja, orang-orang sudah membicarakan seperti apa nanti kira-kira pertunjukan yang akan digelar oleh Paganini.
Hari H pun tiba. Seluruh tiket yang ada sudah habis terjual sejak tiga hari sebelumnya. Harganya, tentu 2x lipat dari harga pertunjukan biasa karena ini adalah pertunjukan terhebatnya. Para audience pun tak peduli meski mereka tidak mendapatkan tempat duduk (karena penuhnya). Mereka hanya ingin mendengar alunan dawai biola Sang Paganini.
Pertunjukan dimulai. Untuk malam itu, Paganini menyiapkan 10 lagu terbaiknya. Dia yakin malam itu akan menjadi malam yang tidak terlupakan. Satu demi satu lagu yang telah dipersiapkan sebelumnya dia mainkan. Suasana tribun silih berganti. Kadang penuh dengan senyum kebahagiaan. Kadang penuh dengan isak tangis para penonton. Ini semua tergantung tema musik yang dimainkan oleh Paganini. Semua berjalan lancar pada awalnya.
Ketika Paganini memainkan lagu ke-10, tiba-tiba saja musibah itu terjadi. Satu dawainya tiba-tiba putus. Pertanda apakah ini? Seluruh penonton pun berdiri dan memberikan tepuk tangan. Mereka menyerukan kepada Paganini bahwa mereka mengerti dan akan menunggu Paganini untuk mengganti dawai biolanya terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi? Paganini berkata melalui microphonenya, “Paganini dengan 3 dawai biola.” Dia pun memainkan lagu ke-10 tersebut dengan 3 dawai saja.
Lagi-lagi kesialan itu datang. Dawainya kembali putus hingga tersisa 2 buah saja. Namun tetap saja Paganini hanya berkata, “Paganini dengan 2 dawai biola.” Dan dia pun memainkannya dengan dua dawai biola yang tersisa. Penonton pun semakin larut dalam permainannya yang sungguh menggugah hati.
Hingga… Tus…, putuslah dawai ketiga. Kini hanya tersisa satu dawai saja. “Petaka apa ini?”, pikir Paganini. Reaksi penonton kali ini terdiam. Mereka memberikan tepukan tangan perlahan. Mereka terus memberikan segenap dukungan pada Paganini sembari menyerukannya untuk mengganti biolanya. Mereka memaklumi itu semua. Namun, apa reaksi Paganini?
Dia hanya berdoa dalam hati dan berkata, “Paganini dengan 1 dawai biola.” Dia tahu itu sulit. Tapi dia terus meyakinkan dirinya bahwa Paganini akan menampilkan pertunjukan yang takkan terlupakan. Dia fokus pada tujuan akhirnya, konser yang sukses. Dengan susah payah, dia mencoba menemukan permainannya yang bisa terdengar indah hanya dengan 1 dawai. Dia tidak fokus pada masalah putusnya 3 dawai.
Luar biasa… ibarat sebuah keajaiban, permainannya menjadi sangat indah. Permainan yang bahkan lebih bagus dan memberikan kesan mendalam dibandingkan dengan 9 lagu sebelumnya. Dan pertunjukan itu dia tutup dengan manisnya sembari mengucapkan terima kasih pada penonton yang selalu mendukungkan. Banjir air mata dan suara tepuk tangan pun tak terelakkan lagi.
Maka semenjak pertunjukan termegah malam itu, tak pernah ada musik yang dibicarakan selain permainan Sang Pemain Biola 1 Dawai… Siapa lagi kalau bukan Nicolo Paganini.
Nah, sepengal kisah hidup Paganini Sang Pemain Biola 1 Dawai sudah saya sharingkan. Sekarang waktunya kita bedah pelajaran apa yang bisa diambil di dalamnya.
Ketika memainkan biolanya, dawai Paganini putus satu persatu. Itu tentu merupakan sebuah masalah. Namun, lihatlah bagaimana Paganini bersikap. Dia tidak peduli dengan masalah itu. Paganini tidak memfokuskan dirinya pada masalah. Dia memilih untuk bersikap tenang dan fokus bagaimana solusi pemecahan dari masalahnya. Sekali lagi bukan pada masalah, tapi fokus pada solusi.
Paganini bisa melakukan itu semua karena dia memiliki sebuah keyakinan yang mendalam serta visi yang begitu berakar di dalam hatinya. Visinya adalah menjadikan pertunjukan malam itu menjadi pertunjukkan yang tidak akan terlupakan sepanjang masa dan dia yakin pasti bisa mewujudkannya.
Ngomong-ngomong, kalau kita senantiasa fokus pada solusi ketika masalah datang, maka kita memberikan kesempatan pada otak kita (khususnya sisi kreatifitas) untuk bekerja dan mencari jalan keluarnya. Kalau ini sering dilakukan maka sama artinya kita melatih otak untuk kreatif dan inovatif.
Sebaliknya, manakala kita fokus pada masalah yang ada, maka kita menutup jalan otak kita untuk bisa berpikir dan berkembang. Ujung-ujungnya, hanya mengeluh dan selalu merasa tidak pernah ada jalan keluar untuk masalah ini. Kalau Anda tertarik mempelajari hal ini lebih dalam, silahkan baca buku “MANAGE YOUR MIND FOR SUCCESS” karangan Adi W. Gunawan.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat.
PECUT KEMANDIRIAN
"Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari , maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. " (HR. Ahmad)
Sahabat seringkali kita memandang sebelah mata sebuah pekerjaan yang membutuhkan peras keringat, lelah fisik dengan resiko yang tinggi. Pedagang-pedagang keliling, Kaki Lima, Tukang Sapu, Nelayan, Petani, Penggembala, Asongan. Apalagi kalau status kita adalah seorang sarjana atau anak orang ternama atau mantan pejabat tinggi, pensiunan pegawai negeri, mungkinkah kita sanggup melakoninya ?
Kenapa tidak ? padahal Allah dan Rasulnya memberi penghargaan yang sangat tinggi untuk mereka yang siap memeras keringat, banting tulang, berkutat dalam lelah dan dahaga untuk mencari nafkah bagi keluarga dan Agamanya.
Suatu hari menjelang Hari Raya Qurban saya kedatangan salah seorang santri saya. Dengan santunnya dia menjabat tangan saya dan berkata “ Ustad Saya jualan kambing, mohon do’anya agar cepat laku dan habis “, jawab saya “ Insya Allah, tapi beritahukan dulu semua panitia Qurban disekitarmu jangan sampai ada yang gak tau kamu jualan kambing Qurban, segera tunaikan panggilan Allah jangan ditunda2 dan Bangunlah Malam Hari untuk Sholat Tahajjud lalu berdo’alah : Ya Allah Engaku Yang Maha Kaya, hanya Engkaulah yang pasti mampu membeli seluruh kambing yang saya jual, hanya Engkau harapanku satu-satunya “. Pada hari H – 2, dia datang lagi kepada saya melaporkan “ Alhamdulillah Ustadz, kambing saya tinggal dua ekor yang kecil “. Saat ini santri saya tersebut rutin berjualan kambing tiap Idul Qurban dan Buka Bengkel Servis Spring Bed, dikaruniai seorang anak mampu beli rumah dan mobil pick up
Sahabat sering kali kita dalam berdagang selalu mengedepankan Penampilan, letak yang strategis, kecanggihan sistem dan manajemen tetapi sering melupakan FAKTOR PENENTU yaitu ALLAH SWT, sejauhmana ketergantungan kita kepada kemahaanNYA ? sejauhmana sistem dan aturanNYA kita implementasikan ?
Ada dua orang dengan panggilan yang sama, yaitu Abah Komar. Yang satu tinggal di sekitar Cikampek berusaha 81 tahun. Dan yang satu lagi adalah tetangga saya di Cimahi dengan usia yang sepertinya tidak jauh dari 80-an. Keduanya sudah tua, namun keduanya memberikan inspirasi bagi saya.
Abah Komar yang di Cikampek, dengan usia setua itu masih berkeliling setiap hari dengan jalan kaki untuk menjajakan jasanya. Rata-rata setiap hari menempuh jarak sampai 20 km. Bukan jarak yang dekat bagi saya, apalagi bagi seorang kakek seusia 81 tahun ini. Jarak yang luar biasa jauh, yang menguras tenaga.
Mengapa Abah Komar melakukan ini? Satu alasan terucap dari mulutnya, yaitu tidak mau merepotkan anak dan cucu. Luar biasa, sebuah keinginan untuk tetap mandiri meski usia sudah senja. Padahal, sudah cukup alasan untuk menggantungkan hidup kepada anak dan cucu.
Sungguh malu, jika ada orang yang masih muda dan kuat tetapi tidak berusaha untuk mandiri. Masih menggantungkan hidup kepada orang lain, mudah menyerah, mengeluh, dan begitu mudah mengatakan sulit. Abah Komar, menempuh jarak 20 km per hari dengan penghasilan Rp 30.000 per hari, demi sebuah kemandirian.
Sementara Abah Komar tetangga saya juga luar biasa. Yang pertama si Abah (begitu saya memanggilnya) hampir tidak pernah absen untuk shalat shubuh di Masjid, bahkan beliaulah yang mengumandangkan adzan subuh dan menjadi iman untuk segelintir makmum yang jarang sekali anak mudanya.
Untuk hal mencari nafkah pun tidak kalah hebatnya. Dengan tubuh yang mungil dan sudah termakan usia, namun tidak kalah gesit dengan anak mudah saat bekerja sebagai kuli bangunan. Mendorong beban yang berat, memasang batu bata, dan berbagai pekerjaan yang menguras tanaga lainnya.
Terima kasih abah Komar (keduanya) yang telah memberikan inspirasi kepada saya agar tidak mudah menyerah. Yang telah memberi semangat menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Memberi contoh untuk memberikan kontribusi kepada orang lain. Semoga saya bisa meneladaninya.
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” ( H.R Bukhari )
Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang sahabat, Sa'ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuhkarena kerja keras. Nabi bertanya, "mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?" Sa'ad menjawab, "tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku." Nabi yang mulia berkata, "ini tangan yang dicintai Allah," seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini
mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh.
Sahabat seringkali kita memandang sebelah mata sebuah pekerjaan yang membutuhkan peras keringat, lelah fisik dengan resiko yang tinggi. Pedagang-pedagang keliling, Kaki Lima, Tukang Sapu, Nelayan, Petani, Penggembala, Asongan. Apalagi kalau status kita adalah seorang sarjana atau anak orang ternama atau mantan pejabat tinggi, pensiunan pegawai negeri, mungkinkah kita sanggup melakoninya ?
Kenapa tidak ? padahal Allah dan Rasulnya memberi penghargaan yang sangat tinggi untuk mereka yang siap memeras keringat, banting tulang, berkutat dalam lelah dan dahaga untuk mencari nafkah bagi keluarga dan Agamanya.
Suatu hari menjelang Hari Raya Qurban saya kedatangan salah seorang santri saya. Dengan santunnya dia menjabat tangan saya dan berkata “ Ustad Saya jualan kambing, mohon do’anya agar cepat laku dan habis “, jawab saya “ Insya Allah, tapi beritahukan dulu semua panitia Qurban disekitarmu jangan sampai ada yang gak tau kamu jualan kambing Qurban, segera tunaikan panggilan Allah jangan ditunda2 dan Bangunlah Malam Hari untuk Sholat Tahajjud lalu berdo’alah : Ya Allah Engaku Yang Maha Kaya, hanya Engkaulah yang pasti mampu membeli seluruh kambing yang saya jual, hanya Engkau harapanku satu-satunya “. Pada hari H – 2, dia datang lagi kepada saya melaporkan “ Alhamdulillah Ustadz, kambing saya tinggal dua ekor yang kecil “. Saat ini santri saya tersebut rutin berjualan kambing tiap Idul Qurban dan Buka Bengkel Servis Spring Bed, dikaruniai seorang anak mampu beli rumah dan mobil pick up
Sahabat sering kali kita dalam berdagang selalu mengedepankan Penampilan, letak yang strategis, kecanggihan sistem dan manajemen tetapi sering melupakan FAKTOR PENENTU yaitu ALLAH SWT, sejauhmana ketergantungan kita kepada kemahaanNYA ? sejauhmana sistem dan aturanNYA kita implementasikan ?
Ada dua orang dengan panggilan yang sama, yaitu Abah Komar. Yang satu tinggal di sekitar Cikampek berusaha 81 tahun. Dan yang satu lagi adalah tetangga saya di Cimahi dengan usia yang sepertinya tidak jauh dari 80-an. Keduanya sudah tua, namun keduanya memberikan inspirasi bagi saya.
Abah Komar yang di Cikampek, dengan usia setua itu masih berkeliling setiap hari dengan jalan kaki untuk menjajakan jasanya. Rata-rata setiap hari menempuh jarak sampai 20 km. Bukan jarak yang dekat bagi saya, apalagi bagi seorang kakek seusia 81 tahun ini. Jarak yang luar biasa jauh, yang menguras tenaga.
Mengapa Abah Komar melakukan ini? Satu alasan terucap dari mulutnya, yaitu tidak mau merepotkan anak dan cucu. Luar biasa, sebuah keinginan untuk tetap mandiri meski usia sudah senja. Padahal, sudah cukup alasan untuk menggantungkan hidup kepada anak dan cucu.
Sungguh malu, jika ada orang yang masih muda dan kuat tetapi tidak berusaha untuk mandiri. Masih menggantungkan hidup kepada orang lain, mudah menyerah, mengeluh, dan begitu mudah mengatakan sulit. Abah Komar, menempuh jarak 20 km per hari dengan penghasilan Rp 30.000 per hari, demi sebuah kemandirian.
Sementara Abah Komar tetangga saya juga luar biasa. Yang pertama si Abah (begitu saya memanggilnya) hampir tidak pernah absen untuk shalat shubuh di Masjid, bahkan beliaulah yang mengumandangkan adzan subuh dan menjadi iman untuk segelintir makmum yang jarang sekali anak mudanya.
Untuk hal mencari nafkah pun tidak kalah hebatnya. Dengan tubuh yang mungil dan sudah termakan usia, namun tidak kalah gesit dengan anak mudah saat bekerja sebagai kuli bangunan. Mendorong beban yang berat, memasang batu bata, dan berbagai pekerjaan yang menguras tanaga lainnya.
Terima kasih abah Komar (keduanya) yang telah memberikan inspirasi kepada saya agar tidak mudah menyerah. Yang telah memberi semangat menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Memberi contoh untuk memberikan kontribusi kepada orang lain. Semoga saya bisa meneladaninya.
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” ( H.R Bukhari )
Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang sahabat, Sa'ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuhkarena kerja keras. Nabi bertanya, "mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?" Sa'ad menjawab, "tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku." Nabi yang mulia berkata, "ini tangan yang dicintai Allah," seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini
mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh.
Ada Keindahan Dalam Kesulitan.....
Nabi SAW. pernah bersabda;
“Tidaklah
kamu bercampur dengan keduniaan itu melainkan kamu dikotori sebagaimana
orang yang masuk ke air, pasti akan basah”.
Nabi Isa Alaihissalam pernah berkata :
“Orang yang cinta kepada dunia itu ibarat orang yang
meminum air laut, makin diminum makin haus hingga akhirnya ia binasa, namun dahaga tidak juga hilang”.
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillahi minal awwali wal akhiri.... Bismillahi Nawaitu Lilahi Ta'ala.....,
Jika hendak memilih teman sejati atau pasangan hidup sesungguhnya, lihatlah dirinya ketika menghadapi masalah dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah tersebut. Sebab sosok pribadi yang sesungguhnya terlihat disaat bagaimana dia menyeselesaikan masalahnya.
Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.
Manusia didesain oleh Alloh SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.
Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.
Banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah. Ada keindahan dalam kesulitan yaitu disaat kita menyandarkan semua kesulitan kepada Sang Khaliq.
sumber : agussyafii blog
aku ingin menjadi matahari, yang selalu bersinar di pagi hari, memberi
harapan baru bagi setiap umat manusia..... menyemangati dikala putus asa
dan menemani dikala sendirian.... Sinarku insya Allah memberi panas yang dibutuhkan
untuk sekedar menghangatkan jiwa dan Qalbu yg sakit yg hampir mati dalam kebekuan belantara nafsu Liar Syahwat atau mencoba tuk mau merubah warna jiwa siapa pun para insan umat Islam Diennullah-Nya menjadi aneka nikmat-Nya yg selalu akan bersyukur.....
Hukumi aku dengan kasih sayang-Mu.., bukan dengan keadilan-Mu....
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillahi minal awwali wal akhiri.... Bismillahi Nawaitu Lilahi Ta'ala.....,
Manakala engkau menunutut ganjaran atas suatu amal, maka engkau dituntut keikhlasan dalam beramal. Cukuplah bagi orang yang bimbang jika ia menemukan keselamatan. (Kitab Al Hikam).
Saudaraku, apabila engkau menuntut upah / pahala untuk sesuatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam beramal melakukan perbuatan itu.
Terkadang sebuah amal masih banyak cacat celanya di sana sini. Bagi seorang yang merasa belum sempurna amalnya, maka ia harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari tuntutan Allah terhadap (kesempurnaan ibadahnya).
Sahabatku sedapat mungkin janganlah engkau menuntut keadilan kepada Allah. Mungkin engkau mengetahui sebuah dalil, bahwa orang yang beribadah akan masuk surga. Yang karenanya engkau menuntut surga karena engkau telah melakukan suatu ibadah.
Harus kau ketahui ibadah seperti apa yang bisa memasukkan seseorang ke surga. Tentu ibadah yang sempurna bukan ? sahabat, jika ibadahmu tidak sempurna, bukankah masih untung Allah tidak marah dan menghukummu karenanya.”
Saudaraku, janganlah engkau menuntut surga karena ibadah shalatmu. Tapi tuntutlah kasih sayang Allah kepadamu. Jika Allah menyayangimu, maka Ia akan menghukummu dengan kasih sayang-Nya, dan memaafkan ketidaksempurnaan cacat cela ibadahmu. Dengan demikian ibadah shalatmu tetap dianggap ibadah yang sempurna, dan tercatat atas namamu.
Jangan engkau meminta keadilan hukum kepada Allah. Engkau tidak akan sanggup menghadapinya. Jika Allah menghukummu dengan keadilannya, maka cacat dan cela dalam shalatmu dapat melahirkan kemarahan-Nya dan hukuman yang pahit. Sedangkan jika Allah menghukummu dengan kasih sayang-Nya, maka Allah akan seperti seorang ibu, yang akan tetap menyayangi anaknya, walaupun anaknya bengal dan membantah perintahnya.
Sebagaimana dua orang pernah berkata :
Khair Annassaj berkata: Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan kurniaNya, dan itulah yang baik bagimu. Al-Wasithy berkata: Ibadat-ibadat itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah.
Annash-rabadzy berkata: Ibadat-ibadat itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengharap maaf daripada mengharap pahala dan upah.
Bukankah seyogianya kita minta maaf sama Allah karena shalat kita yang belepotan itu, kemudian berdoalah seperti ini, “Ya Allah, hukumi aku dengan kasih sayang-Mu, jangan dengan keadilan-Mu.”
Amin......
Semoga Bermanfaat
“Tidaklah
kamu bercampur dengan keduniaan itu melainkan kamu dikotori sebagaimana
orang yang masuk ke air, pasti akan basah”.
Nabi Isa Alaihissalam pernah berkata :
“Orang yang cinta kepada dunia itu ibarat orang yang
meminum air laut, makin diminum makin haus hingga akhirnya ia binasa, namun dahaga tidak juga hilang”.
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillahi minal awwali wal akhiri.... Bismillahi Nawaitu Lilahi Ta'ala.....,
Jika hendak memilih teman sejati atau pasangan hidup sesungguhnya, lihatlah dirinya ketika menghadapi masalah dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah tersebut. Sebab sosok pribadi yang sesungguhnya terlihat disaat bagaimana dia menyeselesaikan masalahnya.
Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.
Manusia didesain oleh Alloh SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.
Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.
Banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah. Ada keindahan dalam kesulitan yaitu disaat kita menyandarkan semua kesulitan kepada Sang Khaliq.
sumber : agussyafii blog
aku ingin menjadi matahari, yang selalu bersinar di pagi hari, memberi
harapan baru bagi setiap umat manusia..... menyemangati dikala putus asa
dan menemani dikala sendirian.... Sinarku insya Allah memberi panas yang dibutuhkan
untuk sekedar menghangatkan jiwa dan Qalbu yg sakit yg hampir mati dalam kebekuan belantara nafsu Liar Syahwat atau mencoba tuk mau merubah warna jiwa siapa pun para insan umat Islam Diennullah-Nya menjadi aneka nikmat-Nya yg selalu akan bersyukur.....
Hukumi aku dengan kasih sayang-Mu.., bukan dengan keadilan-Mu....
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillahi minal awwali wal akhiri.... Bismillahi Nawaitu Lilahi Ta'ala.....,
Manakala engkau menunutut ganjaran atas suatu amal, maka engkau dituntut keikhlasan dalam beramal. Cukuplah bagi orang yang bimbang jika ia menemukan keselamatan. (Kitab Al Hikam).
Saudaraku, apabila engkau menuntut upah / pahala untuk sesuatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam beramal melakukan perbuatan itu.
Terkadang sebuah amal masih banyak cacat celanya di sana sini. Bagi seorang yang merasa belum sempurna amalnya, maka ia harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari tuntutan Allah terhadap (kesempurnaan ibadahnya).
Sahabatku sedapat mungkin janganlah engkau menuntut keadilan kepada Allah. Mungkin engkau mengetahui sebuah dalil, bahwa orang yang beribadah akan masuk surga. Yang karenanya engkau menuntut surga karena engkau telah melakukan suatu ibadah.
Harus kau ketahui ibadah seperti apa yang bisa memasukkan seseorang ke surga. Tentu ibadah yang sempurna bukan ? sahabat, jika ibadahmu tidak sempurna, bukankah masih untung Allah tidak marah dan menghukummu karenanya.”
Saudaraku, janganlah engkau menuntut surga karena ibadah shalatmu. Tapi tuntutlah kasih sayang Allah kepadamu. Jika Allah menyayangimu, maka Ia akan menghukummu dengan kasih sayang-Nya, dan memaafkan ketidaksempurnaan cacat cela ibadahmu. Dengan demikian ibadah shalatmu tetap dianggap ibadah yang sempurna, dan tercatat atas namamu.
Jangan engkau meminta keadilan hukum kepada Allah. Engkau tidak akan sanggup menghadapinya. Jika Allah menghukummu dengan keadilannya, maka cacat dan cela dalam shalatmu dapat melahirkan kemarahan-Nya dan hukuman yang pahit. Sedangkan jika Allah menghukummu dengan kasih sayang-Nya, maka Allah akan seperti seorang ibu, yang akan tetap menyayangi anaknya, walaupun anaknya bengal dan membantah perintahnya.
Sebagaimana dua orang pernah berkata :
Khair Annassaj berkata: Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan kurniaNya, dan itulah yang baik bagimu. Al-Wasithy berkata: Ibadat-ibadat itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah.
Annash-rabadzy berkata: Ibadat-ibadat itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengharap maaf daripada mengharap pahala dan upah.
Bukankah seyogianya kita minta maaf sama Allah karena shalat kita yang belepotan itu, kemudian berdoalah seperti ini, “Ya Allah, hukumi aku dengan kasih sayang-Mu, jangan dengan keadilan-Mu.”
Amin......
Semoga Bermanfaat
JANGAN TERGESA-GESA
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (adzab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera." (QS. al-Anbiya': 37)
Sahabat, ada sifat dasar kita yang harus selalu kita waspadai yaitu tergesa-gesa, maunya ingin cepat sukses, ingin cepat kaya, ingin cepat sembuh, ingin cepat cantik dan tampan, ingin cepat nikah, ingin cepat punya mobil dan rumah, ingin cepat punya gaji tetap dan passive income. Pokoknya semua harus serba GPL lah ( Gak Pake Lama ).
Tidakkah kita sadari bahwa Allah saja menciptakan Manusia, Alam semesta dan kehidupan ini melalui proses yang sangat panjang, padahal Dia sangat kuasa untuk menjadikan semuanya itu dengan instan, cukup dengan satu kata perintah ” KUN FAYAKUN ”= Jadi maka jadilah, tetapi mengapa itu tidak Dia lakukan ?, itulah cara Allah SWT memberi pelajaran kepada kita tentang arti sebuah PROSES.
Suatu hari, seorang pemuda hendak menimba ilmu bela diri kepada seorang guru kungfu. Sang Guru pun menerimanya sebagai murid dengan beberapa syarat.”Setiap pagi engkau harus menimba air dari sungai lalu mengangkatnya ke rumahku yang letaknya di atas bukit.” Sang Pemuda menyetujuinya. Demikianlah, ia melakukan tugas tersebut setiap hari. Ia mengambil air dari sungai dan membawanya dengan dua buah ember. Karena bak air di rumah sang Guru begitu besar, si pemuda harus bolak-balik, naik dan turun bukit, sampai beberapa kali.
Tak terasa tiga bulan sudah berlalu. Si pemuda mulai gelisah.”Mengapa Guru belum juga mengajariku ilmu bela diri. Jangankan jurus-jurus jitu, dasar-dasarnya saja belum pernah dia ajarkan. Masa kerjaku hanya mengangkat air. Sungguh pekerjaan yang tidak berguna.” Kemudian ia memutuskan untuk mendatangi gurunya “Guru, aku sudah mulai lelah dengan tugas yang kau berikan. Setiap hari aku harus bangun pagi-pagi menimba air dan barus beristirahat ketika senja mulai tiba. Kapan Guru akan mengajariku ilmu pamungkas? Kalau begini terus, lebih baik aku berhenti saja!” katanya sedikit marah.
Sang guru diam sejenak lalu mengajaknya pergi ke kebun belakang. “kamu lihat tanaman bambu dan pakis itu?” katanya sambil menunjuk tanaman yang ada di depannya. Si pemuda mengangguk. “tanaman bambu dan pakis itu aku tanam dalam waktu yang bersamaan. Ketika pertama kali menanamnya, aku merawat benih-benih itu dengan saksama. Kemudian, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat, warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Tidak ada yang terjadi pada benih bambu, tetapi aku tidak berhenti merawatnya. Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak terjadi apa-apa pada benih bambu. Aku tetap tidak menyerah. Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu, tetapi aku terus saja merawatnya, begitu juga dengan tahun keempat. Lalu pada tahun kelima sebuah tunas kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis, tunas itu kelihatan begitu kecil dan tampak tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh pesat dan tingginya mencapai lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuatnya kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan.”
Sang Khalik tidak akan memberikan kita tantangan yang tidak bisa kita hadapi. Dari semua pergumulan hidup, entah masalah di tempat kerja, rumah tangga, pertemanan yag tak kunjung berakhir, sebenarnya kita sedang menumbuhkan akar-akar kita. Mungkin hari-hari yang kita jalani tampak tidak bermakna tanpa perubahan. Namun, sebenarnya melalui pengalaman dan perjalanan hidup yang kita lalui, kita sedang melatih diri membangun karakter dan fondasi hidup yang kokoh.
Mungkin saat ini kita belum melihat apa-apa. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi alam semesta ini tidak pernah menyerah pada kita, sama halnya seperti guru kungfu dalam cerita di atas. Dia terus menunggu, “merawat” , “memupuk”, bahkan beberapa tahun ke depan, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang unggul bahkan pertumbuhan kita akan melebihi orang-orang biasa lainnya. Your time is come! Yakinilah Saatnya akan tiba Itu semua bergantung pada pribadi kita. Karena itu, jangan pernah menyerah dan putus asa dengan segala keadaan kita.
Jika kita gagal tujuh kali, bangkitlah untuk yang kedelapan kali agar kita pun menikmati jerih lelah kita selama ini. KITA SEMUA PASTI BISA SELAMA KITA SENANTIASA BERSAMA ALLAH YANG MAHA BISA
Sahabat, ada sifat dasar kita yang harus selalu kita waspadai yaitu tergesa-gesa, maunya ingin cepat sukses, ingin cepat kaya, ingin cepat sembuh, ingin cepat cantik dan tampan, ingin cepat nikah, ingin cepat punya mobil dan rumah, ingin cepat punya gaji tetap dan passive income. Pokoknya semua harus serba GPL lah ( Gak Pake Lama ).
Tidakkah kita sadari bahwa Allah saja menciptakan Manusia, Alam semesta dan kehidupan ini melalui proses yang sangat panjang, padahal Dia sangat kuasa untuk menjadikan semuanya itu dengan instan, cukup dengan satu kata perintah ” KUN FAYAKUN ”= Jadi maka jadilah, tetapi mengapa itu tidak Dia lakukan ?, itulah cara Allah SWT memberi pelajaran kepada kita tentang arti sebuah PROSES.
Suatu hari, seorang pemuda hendak menimba ilmu bela diri kepada seorang guru kungfu. Sang Guru pun menerimanya sebagai murid dengan beberapa syarat.”Setiap pagi engkau harus menimba air dari sungai lalu mengangkatnya ke rumahku yang letaknya di atas bukit.” Sang Pemuda menyetujuinya. Demikianlah, ia melakukan tugas tersebut setiap hari. Ia mengambil air dari sungai dan membawanya dengan dua buah ember. Karena bak air di rumah sang Guru begitu besar, si pemuda harus bolak-balik, naik dan turun bukit, sampai beberapa kali.
Tak terasa tiga bulan sudah berlalu. Si pemuda mulai gelisah.”Mengapa Guru belum juga mengajariku ilmu bela diri. Jangankan jurus-jurus jitu, dasar-dasarnya saja belum pernah dia ajarkan. Masa kerjaku hanya mengangkat air. Sungguh pekerjaan yang tidak berguna.” Kemudian ia memutuskan untuk mendatangi gurunya “Guru, aku sudah mulai lelah dengan tugas yang kau berikan. Setiap hari aku harus bangun pagi-pagi menimba air dan barus beristirahat ketika senja mulai tiba. Kapan Guru akan mengajariku ilmu pamungkas? Kalau begini terus, lebih baik aku berhenti saja!” katanya sedikit marah.
Sang guru diam sejenak lalu mengajaknya pergi ke kebun belakang. “kamu lihat tanaman bambu dan pakis itu?” katanya sambil menunjuk tanaman yang ada di depannya. Si pemuda mengangguk. “tanaman bambu dan pakis itu aku tanam dalam waktu yang bersamaan. Ketika pertama kali menanamnya, aku merawat benih-benih itu dengan saksama. Kemudian, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat, warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Tidak ada yang terjadi pada benih bambu, tetapi aku tidak berhenti merawatnya. Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak terjadi apa-apa pada benih bambu. Aku tetap tidak menyerah. Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu, tetapi aku terus saja merawatnya, begitu juga dengan tahun keempat. Lalu pada tahun kelima sebuah tunas kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis, tunas itu kelihatan begitu kecil dan tampak tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh pesat dan tingginya mencapai lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuatnya kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan.”
Sang Khalik tidak akan memberikan kita tantangan yang tidak bisa kita hadapi. Dari semua pergumulan hidup, entah masalah di tempat kerja, rumah tangga, pertemanan yag tak kunjung berakhir, sebenarnya kita sedang menumbuhkan akar-akar kita. Mungkin hari-hari yang kita jalani tampak tidak bermakna tanpa perubahan. Namun, sebenarnya melalui pengalaman dan perjalanan hidup yang kita lalui, kita sedang melatih diri membangun karakter dan fondasi hidup yang kokoh.
Mungkin saat ini kita belum melihat apa-apa. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi alam semesta ini tidak pernah menyerah pada kita, sama halnya seperti guru kungfu dalam cerita di atas. Dia terus menunggu, “merawat” , “memupuk”, bahkan beberapa tahun ke depan, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang unggul bahkan pertumbuhan kita akan melebihi orang-orang biasa lainnya. Your time is come! Yakinilah Saatnya akan tiba Itu semua bergantung pada pribadi kita. Karena itu, jangan pernah menyerah dan putus asa dengan segala keadaan kita.
Jika kita gagal tujuh kali, bangkitlah untuk yang kedelapan kali agar kita pun menikmati jerih lelah kita selama ini. KITA SEMUA PASTI BISA SELAMA KITA SENANTIASA BERSAMA ALLAH YANG MAHA BISA
Antara Sabar dan Mengeluh
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang Bersama aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pingsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang Bersama aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pingsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
ISYARAT
Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang menyimak sebuah suara. "Ting...ting...ting! Ting...ting...ting!" Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang pas jadi jawaban.
"Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang bakso cuma ingin bilang, 'Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan. "Teeet...teeet....teeet!"
Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, 'Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap si ibu penuh perhatian.
**
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem 'ehm' misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!"
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson pedagang sate ayam.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS 41:53)
"Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang bakso cuma ingin bilang, 'Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan. "Teeet...teeet....teeet!"
Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, 'Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap si ibu penuh perhatian.
**
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem 'ehm' misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!"
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson pedagang sate ayam.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS 41:53)
Rabu, 12 Mei 2010
Aku Pengecut
Aku memang pengecut yang tak biasa biarkan diriku terluka.. aku terlalu takut bila cinta mengalahkanku
Sesungguhnya Islam tidak mengenal pengecut. Artinya jika kita mengaku sebagai seorang yang beragama Islam hendaknya menghindarkan diri dari sifat pengecut, tidak berani untuk hal-hal yang benar. Dua (2) bentuk pengecut :
1. Takut menghadapi hidup
2. Takut dan merasa bersalah karena sering berbuat salah
Takut yang diperbolehkan adalah takut kepada Allah, dari rasa takut kemudian dikembangkan menjadi rasa cinta kepada Allah. Dari rasa cinta akan timbul ihsan, yaitu beribadah dan berbuat segala sesuatu seolah-olah bisa melihat Allah, jika tidak mampu maka berbuat sesuatu dan atau beribadah dengan keyakinan Allah sedang melihat kita.
Tingkatannya adalah :
• islam, iman, dan ihsan.
• Muslim, mu’min, dan mukhsin.
Maknanya seorang muslim belum tentu seorang yang mu’min, namun seorang yang mu’min sudah pasti muslim. Seorang yang mukhsin sudah pasti mu’min sedangkan seorang yang mu’min belum tentu mukhsin. Seorang yang Islam belum tentu beriman, sedangkan seorang yang beriman sudah pasti Islam. Begitu juga seorang yang ihsan sudah pasti beriman, sedangkan seorang yang beriman belum tentu sudah mencapai taraf ihsan. Seorang mukhsin dalam beribadah dia akan senantiasa ihsan. Dan seorang yang ihsan, hidupnya akan selalu terjaga dan rapi luar biasa.
Salah satu ciri orang yang tidak takut dan cinta kepada Allah adalah lebih memilih untuk melanggar aturan Allah daripada aturan manusia karena dirinya lebih takut kepada manusia.
Bagaimana caranya agar kita bisa ihsan? Ialah dengan memaksimalkan perbuatan kita dengan memberikan yang terbaik untuk meraih ridho Ilahi. Karena sesungguhnya Allah bukan hanya melihat hasil, tetapi juga proses.
Seorang yang merasa “enjoy” menjadi seorang pengecut maka dia telah membahayakan dirinya sendiri. Dia tidak mau belajar karena takut semakin dia belajar, semakin tahu kalau banyak kesalahan pada dirinya dan enggan untuk memperbaikinya karena bertentangan dengan hawa nafsunya. Seorang pengecut akan melewatkan waktunya sia-sia.
Sesungguhnya waktu akan menjadi saksi di hari pengadilan nanti. Waktu terbagi menjadi 3, yaitu :
• Al-ams : waktu kemarin, dia tidak akan pernah kembali lagi
• Al-an : waktu sekarang, saatnya kita menjalani dengan ikhtiar mencari ridho Allah
• Al-ads : waktu yang akan datang, adalah milik Allah, hanya Dia yang tahu
Perhatikan Rasul yang tidak pernah pesimis. Rasul senantiasa semangat dan optimis menyebarkan Islam. Rahasianya adalah Rasul mengerjakan segala sesuatu karena cinta kepada Allah dan sesama makhluk-Nya. Berawal dari rasa cinta akan menimbulkan keberanian. Dengan cinta, rasul sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi semua.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ﴿١٢٩﴾
(128) Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. (129) Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".
(At-Taubah, QS. 9:128-129)
Siap untuk senantiasa optimis? Insya Allah..yakini bahwa Allah yang akan menolong kita dan semoga kita bukan termasuk ke dalam orang yang pengecut. Amin
Sesungguhnya Islam tidak mengenal pengecut. Artinya jika kita mengaku sebagai seorang yang beragama Islam hendaknya menghindarkan diri dari sifat pengecut, tidak berani untuk hal-hal yang benar. Dua (2) bentuk pengecut :
1. Takut menghadapi hidup
2. Takut dan merasa bersalah karena sering berbuat salah
Takut yang diperbolehkan adalah takut kepada Allah, dari rasa takut kemudian dikembangkan menjadi rasa cinta kepada Allah. Dari rasa cinta akan timbul ihsan, yaitu beribadah dan berbuat segala sesuatu seolah-olah bisa melihat Allah, jika tidak mampu maka berbuat sesuatu dan atau beribadah dengan keyakinan Allah sedang melihat kita.
Tingkatannya adalah :
• islam, iman, dan ihsan.
• Muslim, mu’min, dan mukhsin.
Maknanya seorang muslim belum tentu seorang yang mu’min, namun seorang yang mu’min sudah pasti muslim. Seorang yang mukhsin sudah pasti mu’min sedangkan seorang yang mu’min belum tentu mukhsin. Seorang yang Islam belum tentu beriman, sedangkan seorang yang beriman sudah pasti Islam. Begitu juga seorang yang ihsan sudah pasti beriman, sedangkan seorang yang beriman belum tentu sudah mencapai taraf ihsan. Seorang mukhsin dalam beribadah dia akan senantiasa ihsan. Dan seorang yang ihsan, hidupnya akan selalu terjaga dan rapi luar biasa.
Salah satu ciri orang yang tidak takut dan cinta kepada Allah adalah lebih memilih untuk melanggar aturan Allah daripada aturan manusia karena dirinya lebih takut kepada manusia.
Bagaimana caranya agar kita bisa ihsan? Ialah dengan memaksimalkan perbuatan kita dengan memberikan yang terbaik untuk meraih ridho Ilahi. Karena sesungguhnya Allah bukan hanya melihat hasil, tetapi juga proses.
Seorang yang merasa “enjoy” menjadi seorang pengecut maka dia telah membahayakan dirinya sendiri. Dia tidak mau belajar karena takut semakin dia belajar, semakin tahu kalau banyak kesalahan pada dirinya dan enggan untuk memperbaikinya karena bertentangan dengan hawa nafsunya. Seorang pengecut akan melewatkan waktunya sia-sia.
Sesungguhnya waktu akan menjadi saksi di hari pengadilan nanti. Waktu terbagi menjadi 3, yaitu :
• Al-ams : waktu kemarin, dia tidak akan pernah kembali lagi
• Al-an : waktu sekarang, saatnya kita menjalani dengan ikhtiar mencari ridho Allah
• Al-ads : waktu yang akan datang, adalah milik Allah, hanya Dia yang tahu
Perhatikan Rasul yang tidak pernah pesimis. Rasul senantiasa semangat dan optimis menyebarkan Islam. Rahasianya adalah Rasul mengerjakan segala sesuatu karena cinta kepada Allah dan sesama makhluk-Nya. Berawal dari rasa cinta akan menimbulkan keberanian. Dengan cinta, rasul sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi semua.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ﴿١٢٩﴾
(128) Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. (129) Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".
(At-Taubah, QS. 9:128-129)
Siap untuk senantiasa optimis? Insya Allah..yakini bahwa Allah yang akan menolong kita dan semoga kita bukan termasuk ke dalam orang yang pengecut. Amin
Selasa, 11 Mei 2010
Bersyukur 2
Sujudku pun takkan memuaskan inginku..'tuk hanturkan* sembah sedalam kalbu..adapun kusembahkan syukur padamu ya Allah..untuk nama,harta dan keluarga yang mencinta..dan perjalanan yang sejauh ini tertempa..Alhamdulillah pilihan dan kesempatan yang membuat hamba mengerti lebih baik makna diri..semua lebih berarti akan mudah dihayati..Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah....
Apakah makna dari Alhamdulillah?
Adalah segala puji hanya bagi Allah. Alhamdulillah diucapkan tatkala kita merasakan nikmat Allah sebagai wujud syukur. Tentu saja ketika kita mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya untuk kita, seperti yang Allah janjikan dalam Surat Ibrahim, QS. 14:7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema'lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Ibrahim, QS. 14:7)
Rasul pernah bersabda bahwasanya barang siapa yang mengucap Laa illaha illallah maka dia akan mendapatkan 10 kebaikan, barangsiapa yang mengucap subhanallah maka ia akan mendapatkan 20 kebaikan, dan barangsiapa yang mengucap Alhamdulillah maka dia akan mendapatkan 30 kebaikan dari Allah.
Alhamdulillah adalah kalimat tasyakur yang diucapkan oleh seorang hamba yang pandai bersyukur. Namun yang harus diperhatikan disini adalah bersyukur atas kebaikan, bukan bersyukur atas penderitaan orang lain. Seorang yang mulia di sisi Allah, dia akan bersyukur dan merasakan kebahagiaan tatkala melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan dan dia akan merasa sedih ketika melihat orang lain ditimpa musibah/kesusahan. Dia akan senantiasa mendoakan kebaikan untuk orang lain dan bukan keburukan. Dia membuang jauh-jauh perasaan iri dan dengki yang hanya mengotori hatinya. Seorang yang berhasil berbuat jahat, bermaksiat, bahkan menipu orang lain, kemudian berucap Alhamdulillah sebagi wujud syukur karena apa yang ia inginkan berhasil, niscaya dia akan mendapatkan murka Allah karena telah mempermainkan Asma Allah dan juga telah memndzolimi orang lain. Sungguh suatu kebaikan tidak akan bercampur dengan keburukan.
Subhanallah, yang bermakna Maha Suci Allah, adalah sebuah kalimat tasbih yang diucapkan seorang muslim tatkala melihat sesuatu yang menakjubkan sehingga menyadarkan dirinya bahwa itu adalah bagian dari kebesaran Allah.
Tahapan bersyukur seorang muslim ada 3, yaitu :
• Bersyukur dengan hati, yaitu meyakini dalam hati akan nikmat Allah
• Bersyukur dengan lisan, yaitu merangkai ucapan Alhamdulillah sebagai pembenaran atas apa yang diyakini dalam hati
• Bersyukur dengan semua anggota badan untuk beribadah kepada Allah, mensyukuri nikmat mata untuk melihat segala kebaikan, mensyukuri nikmat telinga untuk mendengarkan kebaikan, mensyukuri nikmat kaki untuk dilangkahkan menuju kebaikan mengharap ridho Allah
Diriwayatkan Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bengkak kakinya karena shalat sebagai wujud syukur kepada Allah. Betapa rasul telah mencontohkan kita agar pandai menjadi orang yang bersyukur. Janganlah kita mengingat Allah hanya ketika ditimpa kesusahan dan kemudian melupakan Allah ketika diakrunia kesenangan. Maka orang yang demikian adalah ciri orang yang tidak bersyukur yang akan dibenci dan dimurkai Allah, sehingga Allah mencabut keberkahan dari kebahagiaan yang dimilikinya, mengambil kenikmatannya, dan memberikan musibah kepadanya berupa banjir, kecelakaan, keluarga yang meninggal, dan musibah yang lainnya sebagai pelajaran atas ketidakbersyukurannya atas nikmat Allah. Naudzubillah, semoga kita bukan termasuk sebagai orang yang kufur atas nikmat Allah. Amin
Siap untuk senantiasa bersyukur kepada Allah? Insya Allah..semoga syukur kita bisa membuka jalan keberkahan dan keridhoan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apakah makna dari Alhamdulillah?
Adalah segala puji hanya bagi Allah. Alhamdulillah diucapkan tatkala kita merasakan nikmat Allah sebagai wujud syukur. Tentu saja ketika kita mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya untuk kita, seperti yang Allah janjikan dalam Surat Ibrahim, QS. 14:7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema'lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Ibrahim, QS. 14:7)
Rasul pernah bersabda bahwasanya barang siapa yang mengucap Laa illaha illallah maka dia akan mendapatkan 10 kebaikan, barangsiapa yang mengucap subhanallah maka ia akan mendapatkan 20 kebaikan, dan barangsiapa yang mengucap Alhamdulillah maka dia akan mendapatkan 30 kebaikan dari Allah.
Alhamdulillah adalah kalimat tasyakur yang diucapkan oleh seorang hamba yang pandai bersyukur. Namun yang harus diperhatikan disini adalah bersyukur atas kebaikan, bukan bersyukur atas penderitaan orang lain. Seorang yang mulia di sisi Allah, dia akan bersyukur dan merasakan kebahagiaan tatkala melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan dan dia akan merasa sedih ketika melihat orang lain ditimpa musibah/kesusahan. Dia akan senantiasa mendoakan kebaikan untuk orang lain dan bukan keburukan. Dia membuang jauh-jauh perasaan iri dan dengki yang hanya mengotori hatinya. Seorang yang berhasil berbuat jahat, bermaksiat, bahkan menipu orang lain, kemudian berucap Alhamdulillah sebagi wujud syukur karena apa yang ia inginkan berhasil, niscaya dia akan mendapatkan murka Allah karena telah mempermainkan Asma Allah dan juga telah memndzolimi orang lain. Sungguh suatu kebaikan tidak akan bercampur dengan keburukan.
Subhanallah, yang bermakna Maha Suci Allah, adalah sebuah kalimat tasbih yang diucapkan seorang muslim tatkala melihat sesuatu yang menakjubkan sehingga menyadarkan dirinya bahwa itu adalah bagian dari kebesaran Allah.
Tahapan bersyukur seorang muslim ada 3, yaitu :
• Bersyukur dengan hati, yaitu meyakini dalam hati akan nikmat Allah
• Bersyukur dengan lisan, yaitu merangkai ucapan Alhamdulillah sebagai pembenaran atas apa yang diyakini dalam hati
• Bersyukur dengan semua anggota badan untuk beribadah kepada Allah, mensyukuri nikmat mata untuk melihat segala kebaikan, mensyukuri nikmat telinga untuk mendengarkan kebaikan, mensyukuri nikmat kaki untuk dilangkahkan menuju kebaikan mengharap ridho Allah
Diriwayatkan Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bengkak kakinya karena shalat sebagai wujud syukur kepada Allah. Betapa rasul telah mencontohkan kita agar pandai menjadi orang yang bersyukur. Janganlah kita mengingat Allah hanya ketika ditimpa kesusahan dan kemudian melupakan Allah ketika diakrunia kesenangan. Maka orang yang demikian adalah ciri orang yang tidak bersyukur yang akan dibenci dan dimurkai Allah, sehingga Allah mencabut keberkahan dari kebahagiaan yang dimilikinya, mengambil kenikmatannya, dan memberikan musibah kepadanya berupa banjir, kecelakaan, keluarga yang meninggal, dan musibah yang lainnya sebagai pelajaran atas ketidakbersyukurannya atas nikmat Allah. Naudzubillah, semoga kita bukan termasuk sebagai orang yang kufur atas nikmat Allah. Amin
Siap untuk senantiasa bersyukur kepada Allah? Insya Allah..semoga syukur kita bisa membuka jalan keberkahan dan keridhoan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sabtu, 08 Mei 2010
Indahnya Kasih Sayang 2
Mahasuci ALLOH, Zat yang Maha Mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.
Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.
Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).
Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?
Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.
Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.
Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?
Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?
Rabalah bibir manis kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!
Perhatikan tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?
Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.
Memandang mulusnya kulit kita, renungkanlah apakah kulit ini akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?
Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.
Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari ALLOH adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.
Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.
Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.
Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.
Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.
Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan akan hartanya karena disangkanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.
Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.
Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia ini cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan bela diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah.
Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.
Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya ALLOH.
Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.
Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).
Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?
Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.
Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.
Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?
Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?
Rabalah bibir manis kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!
Perhatikan tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?
Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.
Memandang mulusnya kulit kita, renungkanlah apakah kulit ini akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?
Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.
Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari ALLOH adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.
Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.
Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.
Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.
Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.
Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan akan hartanya karena disangkanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.
Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.
Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia ini cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan bela diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah.
Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.
Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya ALLOH.
Dua Dua Satu (2 2 1)
Kita lahir dengan 2 mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi kita Cuma diberi 1 buah mulut. Itu Artinya Kita harusnya lebih mendengar, melihat 2 x lebih banyak daripada berbicara. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali. Sehingga ingatlah bicara yang perlu tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi kita Cuma diberi 1 buah mulut. Itu Artinya Kita harusnya lebih mendengar, melihat 2 x lebih banyak daripada berbicara. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali. Sehingga ingatlah bicara yang perlu tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.
Kiat menentukan pilihan
Hidup adalah misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Apakah sukses atau gagal tergantung dari pilihan-pilihan hidup kita. Terkadang kita sudah yakin betul pilihan hidup kita sudah benar, dikemudian hari ternyata pilihan kita salah dan kita merasa sebagai kegagalan hidup. Demikian juga ketika kita sudah merasa putus asa dan tidak yakin kepada pilihan hidup kita. Malah hal itu yang membuat kita menjadi sukses. Lantas pertanyaannya, bagaimana kiat memilih pilihan yang tepat?
Dari Jabir ibnu Jabir bertutur, Rasulullah mengajarkan kami beristikharah (sholat dan berdoa) dalam berbagai perkara sebagaimana mengajari kami satu surat al-Quran. Nabi Muhammad bersabda, 'Jika salah seorang kalian berkeinginan melakukan suatu hal maka hendaklah sholat dua rekaat di luar sholat fardhu kemudian berdoalah 'Ya Allah, aku mohon pilihan terbaikMu dengan segala pengetahuanMu, aku mohon takdir ketetapanMu dengan segala kekuasaanMu dan aku memohon sebagian karuniaMu yang Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sementara aku tak berdaya, Engkau Maha Tahu sementara aku tak tahu. Engkau Maha mengetahui perkara gaib. Ya Allah, jika Engkau tahu hal ini baik untukku dalam agamaku, hidupku dan nasib akhirku maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah aku untuk meraihnya. Kemudian berkahilah aku didalamnya. Namun jika Engkau tahu bahwa hal ini buruk bagiku dalam agamaku, hidupku dan nasib akhirku maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya dan tetapkanlah yang baik untukku dimanapun ia berada kemudian ridhailah aku 'Setelah itu' hendaklah ia menyebutkan kebutuhannya. (HR. Bukhari).
Dengan sholat istikharah dan berdoa maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan berkenan membimbing kita untuk meraih kesuksesan dunia dan akherat. Sebuah keberhasilan yang luar biasa bukan hanya buat diri kita sendiri tetapi juga buat semua orang yang disekitar kita. Raihlah kesuksesan dan berbahagialah bersama orang-orang yang disekitar kita.
Tentukan standar kualitas hidup kita yang lebih tinggi dan akan memberikan hasil yang luar biasa. Semakin tinggi kualitas standar hidup kita maka semakin dekat kita memohon kepada Allah dengan melalui sholat istikharah untuk meraih kesuksesan terasa lebih dekat sebab kesuksesan adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup kita yang mendapatkan petunjuk dariNya.
Dari Jabir ibnu Jabir bertutur, Rasulullah mengajarkan kami beristikharah (sholat dan berdoa) dalam berbagai perkara sebagaimana mengajari kami satu surat al-Quran. Nabi Muhammad bersabda, 'Jika salah seorang kalian berkeinginan melakukan suatu hal maka hendaklah sholat dua rekaat di luar sholat fardhu kemudian berdoalah 'Ya Allah, aku mohon pilihan terbaikMu dengan segala pengetahuanMu, aku mohon takdir ketetapanMu dengan segala kekuasaanMu dan aku memohon sebagian karuniaMu yang Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sementara aku tak berdaya, Engkau Maha Tahu sementara aku tak tahu. Engkau Maha mengetahui perkara gaib. Ya Allah, jika Engkau tahu hal ini baik untukku dalam agamaku, hidupku dan nasib akhirku maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah aku untuk meraihnya. Kemudian berkahilah aku didalamnya. Namun jika Engkau tahu bahwa hal ini buruk bagiku dalam agamaku, hidupku dan nasib akhirku maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya dan tetapkanlah yang baik untukku dimanapun ia berada kemudian ridhailah aku 'Setelah itu' hendaklah ia menyebutkan kebutuhannya. (HR. Bukhari).
Dengan sholat istikharah dan berdoa maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan berkenan membimbing kita untuk meraih kesuksesan dunia dan akherat. Sebuah keberhasilan yang luar biasa bukan hanya buat diri kita sendiri tetapi juga buat semua orang yang disekitar kita. Raihlah kesuksesan dan berbahagialah bersama orang-orang yang disekitar kita.
Tentukan standar kualitas hidup kita yang lebih tinggi dan akan memberikan hasil yang luar biasa. Semakin tinggi kualitas standar hidup kita maka semakin dekat kita memohon kepada Allah dengan melalui sholat istikharah untuk meraih kesuksesan terasa lebih dekat sebab kesuksesan adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup kita yang mendapatkan petunjuk dariNya.
Kamis, 06 Mei 2010
Worthwhile life (Hidup bermakna)
Di dalam hidup ini disaat dalam kesendirian pernah kita bertanya pada diri sendiri, 'Kapan dalam hidup kita merasa lebih bermakna dan bahagia? Hidup kita akan bermakna dan bahagia ketika kita bisa berbagi, memberi dan menolong orang lain. Bagi orang-orang mukmin yang jiwanya sudah tercerahkan justru dipenuhi oleh rasa syukur justru kebahagiaan hidupnya diraih dengan banyak memberi, sekalipun tidak harus berupa materi, bisa berupa senyuman, perhatian atau sekedar menyapa di pagi hari. Melalui memberi membuat hidup kita menjadi bermakna itulah indahnya memberi. Sebagaimana Firman Allah Subahanahu Wa Ta'ala.
'Dan ingatlah, tatkala Tuhan memaklumkan, 'Sesungguhnya jika engkau bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika engkau mengkari nikmatKu maka sesungguhnya azabKu sangat pedih. (QS. Ibrahim : 7).
jadi sikap dan oreintasi hidup untuk senantiasa memberi dan melayani merupakan sumber kebahagiaan dan puncak prestasi kehidupan kita. Orang tua yang sukses ketika memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pemimpin yang dianggap sukses adalah pemimpin yang mampu memberikan segala potensinya bagi kesejahteraan rakyatnya. Itulah sebabnya dalam kehidupan kita belum disebut bermakna bila yang kita lakukan belum mendatangkan manfaat bagi orang lain, untuk sama-sama mencintai dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Nabi mengajarkan kepada kita agar yang kita miliki menjadi abadi ketika kita kelak meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat, harta kekayaan untuk kesejahteraan umat dan anak yang sholeh. Ketiga amal kebaikan inilah yang membuat milik kita menjadi abadi. Itulah yang membuat hidup kita bermakna. Sebagaimana Sabda Nabi.
Apabila seorang anak Bani Adam meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang sholeh yang selalu mendoakannya.' (HR. Muslim).
'Dan ingatlah, tatkala Tuhan memaklumkan, 'Sesungguhnya jika engkau bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika engkau mengkari nikmatKu maka sesungguhnya azabKu sangat pedih. (QS. Ibrahim : 7).
jadi sikap dan oreintasi hidup untuk senantiasa memberi dan melayani merupakan sumber kebahagiaan dan puncak prestasi kehidupan kita. Orang tua yang sukses ketika memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pemimpin yang dianggap sukses adalah pemimpin yang mampu memberikan segala potensinya bagi kesejahteraan rakyatnya. Itulah sebabnya dalam kehidupan kita belum disebut bermakna bila yang kita lakukan belum mendatangkan manfaat bagi orang lain, untuk sama-sama mencintai dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Nabi mengajarkan kepada kita agar yang kita miliki menjadi abadi ketika kita kelak meninggal hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat, harta kekayaan untuk kesejahteraan umat dan anak yang sholeh. Ketiga amal kebaikan inilah yang membuat milik kita menjadi abadi. Itulah yang membuat hidup kita bermakna. Sebagaimana Sabda Nabi.
Apabila seorang anak Bani Adam meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang sholeh yang selalu mendoakannya.' (HR. Muslim).
Orang Yang Beriman Selalu Menepati Ucapannya
Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, ketika Umar sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiga pemuda bangsawan yang tampan memasuki majelisnya. Dua orang di antaranya berkata, “Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Kitabullah.” Khakifah ‘Umar menatap orang yang ketiga dan memintanya untuk berbicara.
“Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenr-benarnya, ” kata si tertuduh itu.
“Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasullulah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kuda menjahui ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang laki-laki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kidaku, dan kudaku langsung mati. Karena itu aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparkannya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi kemana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi
kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku.”
Khalifah berkata, “Engkau telah melakukan membunuh. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan.”
Walaupun pernyataan itu berati satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, “Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus aku serahkan kepadanya bial ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorangpun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggakinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehikangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini.”
Umar menjawab, “Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang lain yang bersedia menggatikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu.”
“Wahai Amirul Mukminin,” kata pemuda tersebut, “Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali.”
Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengkut Rasullulah saw, yang mulia yang berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak, ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, “Orang ini akan menjadi jaminan bagiku.” Abu Dzar adalah salah satu saeorang sahabat Rasulullah saw, yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu.
Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi tertuduh itu tidak ada. Kedua penuduh itu berkata: “Wahai Abu Dzar, anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidal akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami.”
Khalifah berkata: “Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar.” Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inpirasi bagi semua penduduk Madinah.
Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. “Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir,” dia berkata terengah-engah, “Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjakanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku.”
Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, “Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, “Orang-orang Islam tidak kagi menepati ucapannya sendiri?”
Kerumunan massa itu kemudian berpaking kepada Abu Dzr dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawa, “Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?”
Hati dan perasaan kedua penuduh itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, “Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?”
“Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenr-benarnya, ” kata si tertuduh itu.
“Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasullulah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kuda menjahui ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang laki-laki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kidaku, dan kudaku langsung mati. Karena itu aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparkannya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi kemana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi
kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku.”
Khalifah berkata, “Engkau telah melakukan membunuh. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan.”
Walaupun pernyataan itu berati satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, “Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus aku serahkan kepadanya bial ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorangpun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggakinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehikangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini.”
Umar menjawab, “Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang lain yang bersedia menggatikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu.”
“Wahai Amirul Mukminin,” kata pemuda tersebut, “Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali.”
Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengkut Rasullulah saw, yang mulia yang berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak, ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, “Orang ini akan menjadi jaminan bagiku.” Abu Dzar adalah salah satu saeorang sahabat Rasulullah saw, yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu.
Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi tertuduh itu tidak ada. Kedua penuduh itu berkata: “Wahai Abu Dzar, anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidal akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami.”
Khalifah berkata: “Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar.” Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inpirasi bagi semua penduduk Madinah.
Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. “Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir,” dia berkata terengah-engah, “Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjakanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku.”
Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, “Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, “Orang-orang Islam tidak kagi menepati ucapannya sendiri?”
Kerumunan massa itu kemudian berpaking kepada Abu Dzr dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawa, “Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?”
Hati dan perasaan kedua penuduh itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, “Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?”
Kemuliaan Dibalik Kebencian
Entah apa yang menjadi alasan namun itulah wujud kebencian yang terpendam yang siap meledak. Ada jiwa yang merasa tersakiti, menyimpan dendam begitu erat yang ingin dimuntahkan. Bagi yang menyakiti membuat dirinya menjadi was-was karena akan ada balasan bagi dirinya. Anak-anak itu adalah gambaran betapa kebencian bisa menjangkiti siapapun dan mampu menularkan kebencian kepada orang lain.
Bila dipahami lebih mendalam sesungguhnya kebencian bukanlah semata-mata sumber dendam dan kemarahan, bukanlah murka dan juga bukan kutukan bagi manusia. Dibalik kebencian ada kemuliaan yang mengajarkan kepada kita bahwa hidup akan menjadi terasa sejuk nan indah bila dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Disetiap kejadian yang membuat kita menumpahkan air mata sekalipun selalu membawa pesan kemuliaan bagi hidup kita mengajarkan agar cinta dan kasih sayang digunakan sebagai cara membalas melawan kemarahan dan kebencian.
Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta dan kasih sayang tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kehidupan umat manusia dimuka bumi. Namun saya menyakini selain tugas kita berusaha dan berdoa agar kebencian tidak menjadi virus yang menyebar, diperlukan sebuah kesabaran untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang sebagai pilihan dalam menemukan solusi dalam menghadapi masalah kehidupan kita. Mensucikan jiwa dari kebencian membuat hidup kita senantiasa menjadi orang yang beruntung. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10).
Bila dipahami lebih mendalam sesungguhnya kebencian bukanlah semata-mata sumber dendam dan kemarahan, bukanlah murka dan juga bukan kutukan bagi manusia. Dibalik kebencian ada kemuliaan yang mengajarkan kepada kita bahwa hidup akan menjadi terasa sejuk nan indah bila dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Disetiap kejadian yang membuat kita menumpahkan air mata sekalipun selalu membawa pesan kemuliaan bagi hidup kita mengajarkan agar cinta dan kasih sayang digunakan sebagai cara membalas melawan kemarahan dan kebencian.
Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta dan kasih sayang tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kehidupan umat manusia dimuka bumi. Namun saya menyakini selain tugas kita berusaha dan berdoa agar kebencian tidak menjadi virus yang menyebar, diperlukan sebuah kesabaran untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang sebagai pilihan dalam menemukan solusi dalam menghadapi masalah kehidupan kita. Mensucikan jiwa dari kebencian membuat hidup kita senantiasa menjadi orang yang beruntung. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10).
Rencana Tuhan Pasti Indah
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; " anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah;
"Allah, apa yang Engkau lakukan? "
Ia menjawab:
" Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"
Kemudian Allah menjawab," HambaKU, kamu teruskan pekerjaanmu, dan AKU juga menyelesaikan pekerjaanKU di bumi ini. Satu saat nanti kamu akan menyadari betapa AKU sudah mempersiapkan kehidupan yang terbaik buatmu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; " anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah;
"Allah, apa yang Engkau lakukan? "
Ia menjawab:
" Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"
Kemudian Allah menjawab," HambaKU, kamu teruskan pekerjaanmu, dan AKU juga menyelesaikan pekerjaanKU di bumi ini. Satu saat nanti kamu akan menyadari betapa AKU sudah mempersiapkan kehidupan yang terbaik buatmu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."
Dampak Globalisasi pada Kehidupan
Sungguh, hari ini kita hidup di sebuah bola dunia yang sedemikian sempit. Beragam peristiwa, di belahan bumi lain, dengan mudah kita ketahui. Bahkan, dalam detik yang sama. Bumi menjadi begitu dekat. Tiada jarak signifikan yang memisahkan satu negeri dari negeri lain, satu wilayah dari wilayah lain. Seolah dunia adalah satu dan padu. Sekat-sekat teritori, kini, menjadi maya. Tak mampu menjadi batas perkasa pembeda sebuah bangsa.
Mengapa demikian? Globalisasi jawabnya. Itulah kata sakti yang kerap digunakan untuk menggambarkan fenomena transparan yang telah, sedang, dan akan terus berlangsung di planet bumi ini. Globalisasi adalah kata yang sangat lekat dengan kehidupan manusia. Sebuah keniscayaan karena sifatnya yang senantiasa mengikut sunatullah. Tidak pernah berubah.
"Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu." (QS 35 [Fathir]: 43). Ada banyak hal positif yang didapat dari proses globalisasi ini. Karena itu, patut untuk disyukuri.
Namun, di sisi lain, bukan berarti globalisasi tidak memiliki dampak negatif bagi hidup dan kehidupan penduduk bumi. Sangat nyata ketika globalisasi dipersepsi sebagai westernisasi, ketimpangan, dan deskripsi eksistensi manusia menjadi rapuh. Upaya mem-'barat'-kan semua penjuru bumi menjadi persoalan bagi kemanusiaan.
Bila demikian, satu hal mendasar yang pasti akan terjadi adalah hilangnya identitas dan jati diri. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, "Akan datang suatu masa pada perjalanan hidup manusia, di mana perhatiannya melulu tertuju pada urusan perut. Kemuliaan mereka hanyalah diukur dengan benda (materi) semata. Kiblat mereka adalah wanita. Agama mereka adalah emas dan perak. Sungguh, mereka itu makhluk Allah yang paling buruk, tiada bernilai di sisi Allah." (HR Imam Dailami).
Lantas, bagaimana kita menghadapi gelombang negatif globalisasi yang tak bisa dihentikan ini? Perkuat identitas diri dan negeri. Itulah caranya meski terkesan paradoks. Bahkan, Tun Mahathir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia, pernah mengatakan bahwa untuk menghadapi globalisasi kita harus memperkuat nasionalisme. Identitas diri sebagai bangsa.
Kita baru punya nilai dan identitas, kalau kita merupakan bagian dari sebuah keterhubungan dengan Yang Mahakuasa, kemudian kita betul-betul bisa menjadi pemakmur bumi, dan kita berani berperang untuk mempertahankan kedua hal tersebut. Berperang itu dalam arti luas, seperti ghazwul fikri dan muamalah.
Marilah kita berupaya sekuat daya untuk menjadikan diri dan negeri kita terus memiliki jati diri. Bangga dengan kepribadian yang ada. Tidak terperangkap oleh kata modern sebagai topeng westernisasi.
Dalam Islam seseorang tidak diperintahkan untuk mematikan kecenderungan hawa nafsunya sepanjang dalam memenuhinya masih dalam aturan yang benar menurut Allah SWT.
Tidak salah kalau seseorang ingin kaya, punya ambisi kedudukan, jabatan dan lain-lain sepanjang bisa ditempuh dengan jalan yang diridhai-Nya. Yang tidak dimungkinkan dalam Islam adalah, bila dalam memenuhi keinginannya ia tempuh dengan menghalalkan segala macam cara dengan melanggar aturan dan hukum-Nya.
Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ummu Salmah, istri Rasulullah SAW, tentang bagaimana keimanan itu bisa mengendalikan ego seseorang. Dikisahkan ada dua orang laki-laki, mereka bertengkar memperebutkan harta waris, masing-masing tidak memiliki bukti kepemilikan harta yang diperebutkan itu. Lantas keduanya menghadap Rasulullah SAW untuk meminta keputusan Beliau.
Rasulullah SAW kepada mereka berdua menyatakan: Saya ini hanyalah seorang manusia, sementara kalian mencoba meminta penyelesaian proses hukum ini kepada saya, padahal boleh jadi seseorang di antara kalian akan mampu dengan dalil-dalil dan pendekatannya meyakinkan kepada saya bahwa dialah yang paling benar, sehingga saya bisa memutuskan bahwa itu milik dia, padahal itu belum tentu benar. Kalau itu yang terjadi maka berarti saya telah memberikan kepada dia peluang untuk menyiapkan bara api neraka jahnnam sepenuh perut dia. "Mereka yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka sama dengan dia telah menyiapkan bara api sepenuh perutnya" (An Nissa', 4 : 10).
Mendengar pernyataan Rasulullah SAW ini, maka kedua laki-laki tadi kemudian masing-masing mengatakan kepada yang lain, kalau memang itu adalah hak saya, maka saya ikhlas untukmu, silakan ambil. Yang satu seperti itu yang lain pun demikian. Akhirnya mereka sama-sama tidak mau mengambil haknya. (HR. Sunan Abu Daud).
Seperti inilah jika keimanan yang menjadi pijakan hidup seseorang. Ada kisah lain yang serupa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi SAW pernah mengisahkan kepada para sahabat tentang dua orang mu'min yang satu menjual tanah kepada yang lain. Usai proses pembelian, si pembeli kembali lagi dengan membawa satu kotak peti berisi emas dengan mengatakan; Setelah saya membeli tanah kebetulan saya menggali tanah itu kutemukan satu kotak peti berisi Emas. Karena saya hanya membeli dan membayar harga tanah, berarti tidak termasuk emas yang ada di dalam peti ini. Maka dari itu saya kembalikan kotak peti berisi emas ini.
Si penjual tanah tidak mau menerima dengan mengatakan, saya sudah menjual tanah dengan segala yang ada di dalamnya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk menemui seseorang untuk meminta keputusan. Maka berkatalah orang yang dipercayakan oleh kedua orang itu, adakah kalian berdua punya anak ? Yang satu menyatakan, saya punya anak laki-laki. Yang satunya lagi, saya punya anak perem-puan. Lebih lanjut, seseorang yang dipercaya itu mengatakan, kalau begitu nikahkan saja anak kalian berdua dan emas itu untuk modal anak kalian berdua. Maka barulah keduanya sepakat.
Alangkah luar biasa dampak keimanan dalam mengendalikan egoisme manusia. Dan alangkah indahnya hidup dan kehidupan ini jika masing-masing manusia memiliki keimanan yang kuat sehingga dia mampu mengendalikan kecenderungan “ego” yang ada dalam dirinya sekaligus mementahkan bisikan Iblis yang menyesatkan.
Mengapa demikian? Globalisasi jawabnya. Itulah kata sakti yang kerap digunakan untuk menggambarkan fenomena transparan yang telah, sedang, dan akan terus berlangsung di planet bumi ini. Globalisasi adalah kata yang sangat lekat dengan kehidupan manusia. Sebuah keniscayaan karena sifatnya yang senantiasa mengikut sunatullah. Tidak pernah berubah.
"Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu." (QS 35 [Fathir]: 43). Ada banyak hal positif yang didapat dari proses globalisasi ini. Karena itu, patut untuk disyukuri.
Namun, di sisi lain, bukan berarti globalisasi tidak memiliki dampak negatif bagi hidup dan kehidupan penduduk bumi. Sangat nyata ketika globalisasi dipersepsi sebagai westernisasi, ketimpangan, dan deskripsi eksistensi manusia menjadi rapuh. Upaya mem-'barat'-kan semua penjuru bumi menjadi persoalan bagi kemanusiaan.
Bila demikian, satu hal mendasar yang pasti akan terjadi adalah hilangnya identitas dan jati diri. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, "Akan datang suatu masa pada perjalanan hidup manusia, di mana perhatiannya melulu tertuju pada urusan perut. Kemuliaan mereka hanyalah diukur dengan benda (materi) semata. Kiblat mereka adalah wanita. Agama mereka adalah emas dan perak. Sungguh, mereka itu makhluk Allah yang paling buruk, tiada bernilai di sisi Allah." (HR Imam Dailami).
Lantas, bagaimana kita menghadapi gelombang negatif globalisasi yang tak bisa dihentikan ini? Perkuat identitas diri dan negeri. Itulah caranya meski terkesan paradoks. Bahkan, Tun Mahathir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia, pernah mengatakan bahwa untuk menghadapi globalisasi kita harus memperkuat nasionalisme. Identitas diri sebagai bangsa.
Kita baru punya nilai dan identitas, kalau kita merupakan bagian dari sebuah keterhubungan dengan Yang Mahakuasa, kemudian kita betul-betul bisa menjadi pemakmur bumi, dan kita berani berperang untuk mempertahankan kedua hal tersebut. Berperang itu dalam arti luas, seperti ghazwul fikri dan muamalah.
Marilah kita berupaya sekuat daya untuk menjadikan diri dan negeri kita terus memiliki jati diri. Bangga dengan kepribadian yang ada. Tidak terperangkap oleh kata modern sebagai topeng westernisasi.
Dalam Islam seseorang tidak diperintahkan untuk mematikan kecenderungan hawa nafsunya sepanjang dalam memenuhinya masih dalam aturan yang benar menurut Allah SWT.
Tidak salah kalau seseorang ingin kaya, punya ambisi kedudukan, jabatan dan lain-lain sepanjang bisa ditempuh dengan jalan yang diridhai-Nya. Yang tidak dimungkinkan dalam Islam adalah, bila dalam memenuhi keinginannya ia tempuh dengan menghalalkan segala macam cara dengan melanggar aturan dan hukum-Nya.
Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ummu Salmah, istri Rasulullah SAW, tentang bagaimana keimanan itu bisa mengendalikan ego seseorang. Dikisahkan ada dua orang laki-laki, mereka bertengkar memperebutkan harta waris, masing-masing tidak memiliki bukti kepemilikan harta yang diperebutkan itu. Lantas keduanya menghadap Rasulullah SAW untuk meminta keputusan Beliau.
Rasulullah SAW kepada mereka berdua menyatakan: Saya ini hanyalah seorang manusia, sementara kalian mencoba meminta penyelesaian proses hukum ini kepada saya, padahal boleh jadi seseorang di antara kalian akan mampu dengan dalil-dalil dan pendekatannya meyakinkan kepada saya bahwa dialah yang paling benar, sehingga saya bisa memutuskan bahwa itu milik dia, padahal itu belum tentu benar. Kalau itu yang terjadi maka berarti saya telah memberikan kepada dia peluang untuk menyiapkan bara api neraka jahnnam sepenuh perut dia. "Mereka yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka sama dengan dia telah menyiapkan bara api sepenuh perutnya" (An Nissa', 4 : 10).
Mendengar pernyataan Rasulullah SAW ini, maka kedua laki-laki tadi kemudian masing-masing mengatakan kepada yang lain, kalau memang itu adalah hak saya, maka saya ikhlas untukmu, silakan ambil. Yang satu seperti itu yang lain pun demikian. Akhirnya mereka sama-sama tidak mau mengambil haknya. (HR. Sunan Abu Daud).
Seperti inilah jika keimanan yang menjadi pijakan hidup seseorang. Ada kisah lain yang serupa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi SAW pernah mengisahkan kepada para sahabat tentang dua orang mu'min yang satu menjual tanah kepada yang lain. Usai proses pembelian, si pembeli kembali lagi dengan membawa satu kotak peti berisi emas dengan mengatakan; Setelah saya membeli tanah kebetulan saya menggali tanah itu kutemukan satu kotak peti berisi Emas. Karena saya hanya membeli dan membayar harga tanah, berarti tidak termasuk emas yang ada di dalam peti ini. Maka dari itu saya kembalikan kotak peti berisi emas ini.
Si penjual tanah tidak mau menerima dengan mengatakan, saya sudah menjual tanah dengan segala yang ada di dalamnya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk menemui seseorang untuk meminta keputusan. Maka berkatalah orang yang dipercayakan oleh kedua orang itu, adakah kalian berdua punya anak ? Yang satu menyatakan, saya punya anak laki-laki. Yang satunya lagi, saya punya anak perem-puan. Lebih lanjut, seseorang yang dipercaya itu mengatakan, kalau begitu nikahkan saja anak kalian berdua dan emas itu untuk modal anak kalian berdua. Maka barulah keduanya sepakat.
Alangkah luar biasa dampak keimanan dalam mengendalikan egoisme manusia. Dan alangkah indahnya hidup dan kehidupan ini jika masing-masing manusia memiliki keimanan yang kuat sehingga dia mampu mengendalikan kecenderungan “ego” yang ada dalam dirinya sekaligus mementahkan bisikan Iblis yang menyesatkan.
Kamis, 29 April 2010
Kisah Tukang Jam
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”
“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.
Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.
Ambil Peluang dan raih impian Anda lebih cepat....!!!
“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.
Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.
Ambil Peluang dan raih impian Anda lebih cepat....!!!
Noda Diatas Kertas Putih
Di sebuah desa, tinggal sebuah keluarga bersama Anak tunggal mereka. Karena dimanjakan sebagai anak semata wayang, Si Anak menjadi suka bersikap ‘semau gue’.
Anak ini sangat pandai mencari-cari dan menunjukkan kesalahan orang lain, kepada kawan bahkan kepada orangtuanya sendiri. Bahkan, dia suka mempermalukan orang yang berbuat salah walaupun tanpa sengaja.
Suatu hari, karena kurang hati-hati, anak tersebut terjatuh! Dia berteriak ke Ayahnya, “Aduh, Ayah sih meletakkan ember di sembarang tempat. Aku jadi terjatuh. Sakit nih!”
Ayahnya menolong sambil berkata, “Bukan salah Ayah. Ember itu setiap hari berada di tempatnya, kamu yang tidak berhati-hati sehingga terpleset dan jatuh. Kalau jalan, hati-hati dong." Sambil bersungut-sungut, Si Anak pergi begitu saja.
Pada waktu lain, Si Anak berjala-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. “Wah, madu lebah itu pasti enak dan menyehatkan badan. Aku akan mengambil madunya,” pikirnya.
Dia mengambil sebatang ranting bambu dan mulai menyodok sarang lebah dengan keras. Ratusan lebah yang terusik, berbalik menyerang Si Anak. Melihat binatang kecil yang begitu banyak berterbangan ke arahnya, dia berlari terbirit-birit. Lebah-lebah yang marah pun mengejar dan mulai menyengat!
“Aduuh....tolong....tolong….!” teriaknya. Ketika tiba di tepi sungai, Anak itu menceburkan diri. Tak lama, lebah-lebah itu pergi meninggalkan buruannya yang basah dan kesakitan.
Di kejauhan, terlihat Sang Ayah bergegas berlari mendatangi anaknya. Begitu sampai di tepi sungai, dia segera mengulurkan tangan untuk menolong buah hatinya.
Namun, Si Anak dengan muka kesal dan nada marah berkata keras ke Ayahnya, “Mengapa Ayah tidak segera menolongku? Lihat nih, bajuku basah kuyup kedinginan. Terus, badanku sakit terkena sengatan lebah! Jika Ayah saying padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku sehingga Aku tidak perlu mengalami hal seperti ini.
Semua ini salah Ayah!” Kemudian dengan kasar dia menampik tangan Ayahnya yang terulur. Sang Ayah terdiam terkejut dan menghela napas. Lalu, mereka pun pulang kerumah bersama sambil berdiam diri.
Malamnya, menjelang tidur, Sang Ayah menghampiri Anaknya membawa selembar kertas putih, “Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?”
Setelah memperhatikan sejenak Si Anak menjawab, “Ini hanya kertas putih biasa, tidak ada gambarnya, kenapa Ayah menanyakannya?”
Tanpa menjawab, Ayah menggunakan sebuah bolpoin dan membuat sebuah titik hitam di kertas putih itu. Apa yang kamu lihat dari kertas ini?”
“Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!” jawab si anak keheranan.
“Anakku, mengapa Engkau hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian kertas ini berwarna putih. Ketahuilah Anakku, kertas ini sama seperti cara pandang kamu : Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah maupun kesalahan orang lain, padahal masih begitu banyak hal-hal baik yang telah Ayah lakukan kepadamu.”
Ilustrasi cerita di atas sungguh mengandung kebijakan, seperti pepatah yang mengatakan, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan kelihatan.”
Seandainya kita bisa melihat setiap masalah yang timbul dari sudut kelemahan kita dahulu, bukan dari kesalahan orang lain, maka akan muncul sikap positif.
Nah, sikap positif ini akan memudahkan kita dalam memecahkan setiap masalah yang muncul, sekaligus akan mengembangkan kekayaan mental kita untuk menuju kehidupan sukses yang lebih bernilai.
Anak ini sangat pandai mencari-cari dan menunjukkan kesalahan orang lain, kepada kawan bahkan kepada orangtuanya sendiri. Bahkan, dia suka mempermalukan orang yang berbuat salah walaupun tanpa sengaja.
Suatu hari, karena kurang hati-hati, anak tersebut terjatuh! Dia berteriak ke Ayahnya, “Aduh, Ayah sih meletakkan ember di sembarang tempat. Aku jadi terjatuh. Sakit nih!”
Ayahnya menolong sambil berkata, “Bukan salah Ayah. Ember itu setiap hari berada di tempatnya, kamu yang tidak berhati-hati sehingga terpleset dan jatuh. Kalau jalan, hati-hati dong." Sambil bersungut-sungut, Si Anak pergi begitu saja.
Pada waktu lain, Si Anak berjala-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. “Wah, madu lebah itu pasti enak dan menyehatkan badan. Aku akan mengambil madunya,” pikirnya.
Dia mengambil sebatang ranting bambu dan mulai menyodok sarang lebah dengan keras. Ratusan lebah yang terusik, berbalik menyerang Si Anak. Melihat binatang kecil yang begitu banyak berterbangan ke arahnya, dia berlari terbirit-birit. Lebah-lebah yang marah pun mengejar dan mulai menyengat!
“Aduuh....tolong....tolong….!” teriaknya. Ketika tiba di tepi sungai, Anak itu menceburkan diri. Tak lama, lebah-lebah itu pergi meninggalkan buruannya yang basah dan kesakitan.
Di kejauhan, terlihat Sang Ayah bergegas berlari mendatangi anaknya. Begitu sampai di tepi sungai, dia segera mengulurkan tangan untuk menolong buah hatinya.
Namun, Si Anak dengan muka kesal dan nada marah berkata keras ke Ayahnya, “Mengapa Ayah tidak segera menolongku? Lihat nih, bajuku basah kuyup kedinginan. Terus, badanku sakit terkena sengatan lebah! Jika Ayah saying padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku sehingga Aku tidak perlu mengalami hal seperti ini.
Semua ini salah Ayah!” Kemudian dengan kasar dia menampik tangan Ayahnya yang terulur. Sang Ayah terdiam terkejut dan menghela napas. Lalu, mereka pun pulang kerumah bersama sambil berdiam diri.
Malamnya, menjelang tidur, Sang Ayah menghampiri Anaknya membawa selembar kertas putih, “Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?”
Setelah memperhatikan sejenak Si Anak menjawab, “Ini hanya kertas putih biasa, tidak ada gambarnya, kenapa Ayah menanyakannya?”
Tanpa menjawab, Ayah menggunakan sebuah bolpoin dan membuat sebuah titik hitam di kertas putih itu. Apa yang kamu lihat dari kertas ini?”
“Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!” jawab si anak keheranan.
“Anakku, mengapa Engkau hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian kertas ini berwarna putih. Ketahuilah Anakku, kertas ini sama seperti cara pandang kamu : Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah maupun kesalahan orang lain, padahal masih begitu banyak hal-hal baik yang telah Ayah lakukan kepadamu.”
Ilustrasi cerita di atas sungguh mengandung kebijakan, seperti pepatah yang mengatakan, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan kelihatan.”
Seandainya kita bisa melihat setiap masalah yang timbul dari sudut kelemahan kita dahulu, bukan dari kesalahan orang lain, maka akan muncul sikap positif.
Nah, sikap positif ini akan memudahkan kita dalam memecahkan setiap masalah yang muncul, sekaligus akan mengembangkan kekayaan mental kita untuk menuju kehidupan sukses yang lebih bernilai.
ENERGY IBADAH
Di kawasan Jakarta Selatan. Seorang lelaki paruh baya membetulkan topi lusuhnya. Di halaman masjid besar yang ramai dengan jama’ah yang hendak shalat dzuhur. Lelaki itu tak tergoda untuk turut mengambil wudhu. Gerobak bakso yang menjadi sumber mata pencahariannya tetap disandingnya.
Ketika diajak shalat, lelaki asal Jawa Tengah itu menolak halus. "Baju saya kotor, Mas," jawabnya beralasan. Padahal ternyata bukan baru hari itu ia jualan bakso. Sudah lebih dari dua tahun, dan selama itu pula ia tak pernah shalat. Setiap hari bajunya kotor? Padahal dulu di kampungnya, ia sering menjadi muadzin bila maghrib telah tiba.
***
Di sebuah terminal kota kecil di Jawa Timur. Seorang kondektur angkutan umum mengumpat sendiri. Sedari tadi penumpang sepi. Jam telah menunjukkan pukul empat belas lewat lima puluh menit. Waktu ashar akan tiba. Sopir memintanya segera sholat dzuhur. Tapi ia malah balik mengomel "Tuhan kan tahu, kita ini lagi repot," begitu ujarnya konyol. Mobil bergerak keluar. Ada dua orang penumpang melambai. Tapi waktu dzuhur sudah usai.
***
Seorang eksekutif muda sibuk membetulkan kacamatanya yang beberapa kali turun. Pandangannya nampak lelah memelototi laporan neraca keuangan yang dikirim Manajer Keuangan. Senja sudah lama tiba. Beberapa menit saja maghrib akan tiba. Di luar jalanan padat oleh kendaraan. Ia tahu dirinya belum sholat ashar. Tapi pekerjaan mungkin juga keengganannya–membuatnya tak juga beranjak meninggalkan tempat duduk. Ia harus menuntaskan semua itu untuk dibawa rapat direksi. Annual Report itu memang akan dipresentasikan dalam raker akhir tahun, lusa, di perusahaan yang bergerak dalam jasa konstruksi itu. Pukul delapan belas dua puluh menit pekerjaan itu selesai. Ia berkemas. Tapi kesempatan sholat ashar telah sirna sedari tadi.
***
Seorang perempuan muda duduk di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Nampaknya ia sedang ada masalah. Sebab dari pukul tujuh belas hingga pukul dua puluh malam tidak beranjak. Kerudung mungilnya mulai layu dimakan lampu yang tak terlalu terang. Saat maghrib tiba, tak nampak ia sholat. Mungkin memang sedang tidak sholat. Tapi mungkin juga memang dia lagi tak minat untuk sholat. Pelayan udah mengantarkan tiga gelas jus.
***
Itulah potret. Sepenggal kisah nyata realitas persepsi bermacam orang tentang ibadah. Itu pun baru sebagiannya. Sebagiannya mungkin juga kita, atau sebagian dari kita, meski dalam kadar kekeliruan yang berbeda.
Itu adalah sebentuk cara pandang dan penghargaan yang sangat buruk terhadap ibadah. Salah satunya adalah shalat. Bobot kekeliruan itu tidak bisa dianggap kecil. Itu adalah kesalahan yang sangat serius.
Sebab ibadah adalah penunaian transaksi. Transaksi kemusliman, sekaligus juga kemanusiaan kita.
Transaksi kemanusiaan adalah bentuk nyata dari kesadaran, bahwa kita adalah manusia dan bukan Tuhan, makhluk dan bukan Allah, diciptakan dan bukan menciptakan diri sendiri.
Transaksi kemusliman, adalah penunaian tuntutan atas deklarasi kita sebagai Muslim. Bahwa karena kita Muslim maka kita harus melakukan ibadah, shalat, atau puasa, misalnya.
Ini tidak semata karena alasan fikih, yang menjelaskan batasan sebuah ibadah itu wajib atau sunnah. Ya, memang begitu secara konstitusi dan legalitas hukumnya.
Tapi di dalam penunaian ibadah, ada fakta lain yang sangat besar: bahwa ibadah adalah sumber energi yang tak tergantikan.
Kesalahan terbesar orang-orang yang tidak mampu menghargai bobot dan urgensi ibadah formal, seperti shalat, puasa atau zakat, terletak pada ketidakmampuan mereka memahami prinsip-prinsip transksaksional tersebut. Sebagai mana ia juga telah keliru, ketika memahami bahwa untuk menjadi baik tidak harus shalat, atau puasa, atau melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya.
Dalam kehidupan seorang Muslim, kebaikan dan kebajikan memang punya medan yang berhampar-hampar. Dari yang sepele hingga yang berat. Dari tersenyum kepada sesama Mukmin hingga menolong orang yang kesusahan. Tetapi menjadi baik tanpa ibadah formal, tanpa ritual wajib, seperti shalat, atau puasa, yang telah diperintahkan, tidaklah ada artinya.
Dalam banyak ayat dan dalil dalam syariat Islam, kita dapat menemukan berbagai contoh penegasan ibadah formal sebagai penopang penting berbagai sisi kehidupan manusia. Terlebih dalam kondisi-kondisi yang sangat kritis dan strategis. Terkait dengan kekuasaan, Allah menegaskan secara verbal, misalnya, tentang para penguasa yang mengabaikan shalat. Sekali lagi verbal. Artinya penekanannya pada pelaksanaan ibadah formal tersebut.
Juga dalam menyiasati karakter umum manusia yang punya potensi jelek, ada shalat di sana sebagai penawar. Allah bertirman, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya." (Al-Ma’arij: 19 -23).
Maka, mereka yang merasa telah cukup menjadi baik, hanya dengan menganut nilai-nilai positif dalam teori humanisme semata, seperti bahwa dirinya tidak pernah mengganggu sesama, meski ia tidak pernah shalat, itu belum cukup bagi kehidupan seorang Mukmin.
Salah satu ciri ibadah adalah kesakralannya. Itulah mengapa ada soal kekhusyu’an dalam ibadah. Sebab disanalah sumber energi itu. Pada ruku’ dan sujud itu, pada menahan lapar, pada bacaan ayat-ayat Allah yang dibunyikan dengan lisan, memakai kaidah tajwid, bukan dengan sekadar meyakini bahwa nilai universal Al-Qur’an secara umum telah ia jalankan. Tidak, itu semua tidak menggantikan bila kita sehuruf pun tak pernah membaca Al-Qur’an.
Setiap yang bergerak memerlukan energi. Kadang energi diperlukan untuk melahirkan energi baru lagi. Seperti angin yang berhembus lalu menggerakkan kincir. Atau air yang mengalir memutar turbin, lalu turbin memutar pembangkit listrik. Listrik menjadi energi bagi bermacam sarana hidup. Begitulah.
Logika energi bagi seorang Mukmin secara mendasar ada pada prinsip-prinsip ibadah. Itu adalah rahasia lain, mengapa dalam ayat Al-Qur’an, Allah dengan jelas mengatakan, bahwa manusia tidak diciptakan melainkan untuk beribadah.
Wallahu’alam bishowab.
Ketika diajak shalat, lelaki asal Jawa Tengah itu menolak halus. "Baju saya kotor, Mas," jawabnya beralasan. Padahal ternyata bukan baru hari itu ia jualan bakso. Sudah lebih dari dua tahun, dan selama itu pula ia tak pernah shalat. Setiap hari bajunya kotor? Padahal dulu di kampungnya, ia sering menjadi muadzin bila maghrib telah tiba.
***
Di sebuah terminal kota kecil di Jawa Timur. Seorang kondektur angkutan umum mengumpat sendiri. Sedari tadi penumpang sepi. Jam telah menunjukkan pukul empat belas lewat lima puluh menit. Waktu ashar akan tiba. Sopir memintanya segera sholat dzuhur. Tapi ia malah balik mengomel "Tuhan kan tahu, kita ini lagi repot," begitu ujarnya konyol. Mobil bergerak keluar. Ada dua orang penumpang melambai. Tapi waktu dzuhur sudah usai.
***
Seorang eksekutif muda sibuk membetulkan kacamatanya yang beberapa kali turun. Pandangannya nampak lelah memelototi laporan neraca keuangan yang dikirim Manajer Keuangan. Senja sudah lama tiba. Beberapa menit saja maghrib akan tiba. Di luar jalanan padat oleh kendaraan. Ia tahu dirinya belum sholat ashar. Tapi pekerjaan mungkin juga keengganannya–membuatnya tak juga beranjak meninggalkan tempat duduk. Ia harus menuntaskan semua itu untuk dibawa rapat direksi. Annual Report itu memang akan dipresentasikan dalam raker akhir tahun, lusa, di perusahaan yang bergerak dalam jasa konstruksi itu. Pukul delapan belas dua puluh menit pekerjaan itu selesai. Ia berkemas. Tapi kesempatan sholat ashar telah sirna sedari tadi.
***
Seorang perempuan muda duduk di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Nampaknya ia sedang ada masalah. Sebab dari pukul tujuh belas hingga pukul dua puluh malam tidak beranjak. Kerudung mungilnya mulai layu dimakan lampu yang tak terlalu terang. Saat maghrib tiba, tak nampak ia sholat. Mungkin memang sedang tidak sholat. Tapi mungkin juga memang dia lagi tak minat untuk sholat. Pelayan udah mengantarkan tiga gelas jus.
***
Itulah potret. Sepenggal kisah nyata realitas persepsi bermacam orang tentang ibadah. Itu pun baru sebagiannya. Sebagiannya mungkin juga kita, atau sebagian dari kita, meski dalam kadar kekeliruan yang berbeda.
Itu adalah sebentuk cara pandang dan penghargaan yang sangat buruk terhadap ibadah. Salah satunya adalah shalat. Bobot kekeliruan itu tidak bisa dianggap kecil. Itu adalah kesalahan yang sangat serius.
Sebab ibadah adalah penunaian transaksi. Transaksi kemusliman, sekaligus juga kemanusiaan kita.
Transaksi kemanusiaan adalah bentuk nyata dari kesadaran, bahwa kita adalah manusia dan bukan Tuhan, makhluk dan bukan Allah, diciptakan dan bukan menciptakan diri sendiri.
Transaksi kemusliman, adalah penunaian tuntutan atas deklarasi kita sebagai Muslim. Bahwa karena kita Muslim maka kita harus melakukan ibadah, shalat, atau puasa, misalnya.
Ini tidak semata karena alasan fikih, yang menjelaskan batasan sebuah ibadah itu wajib atau sunnah. Ya, memang begitu secara konstitusi dan legalitas hukumnya.
Tapi di dalam penunaian ibadah, ada fakta lain yang sangat besar: bahwa ibadah adalah sumber energi yang tak tergantikan.
Kesalahan terbesar orang-orang yang tidak mampu menghargai bobot dan urgensi ibadah formal, seperti shalat, puasa atau zakat, terletak pada ketidakmampuan mereka memahami prinsip-prinsip transksaksional tersebut. Sebagai mana ia juga telah keliru, ketika memahami bahwa untuk menjadi baik tidak harus shalat, atau puasa, atau melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya.
Dalam kehidupan seorang Muslim, kebaikan dan kebajikan memang punya medan yang berhampar-hampar. Dari yang sepele hingga yang berat. Dari tersenyum kepada sesama Mukmin hingga menolong orang yang kesusahan. Tetapi menjadi baik tanpa ibadah formal, tanpa ritual wajib, seperti shalat, atau puasa, yang telah diperintahkan, tidaklah ada artinya.
Dalam banyak ayat dan dalil dalam syariat Islam, kita dapat menemukan berbagai contoh penegasan ibadah formal sebagai penopang penting berbagai sisi kehidupan manusia. Terlebih dalam kondisi-kondisi yang sangat kritis dan strategis. Terkait dengan kekuasaan, Allah menegaskan secara verbal, misalnya, tentang para penguasa yang mengabaikan shalat. Sekali lagi verbal. Artinya penekanannya pada pelaksanaan ibadah formal tersebut.
Juga dalam menyiasati karakter umum manusia yang punya potensi jelek, ada shalat di sana sebagai penawar. Allah bertirman, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya." (Al-Ma’arij: 19 -23).
Maka, mereka yang merasa telah cukup menjadi baik, hanya dengan menganut nilai-nilai positif dalam teori humanisme semata, seperti bahwa dirinya tidak pernah mengganggu sesama, meski ia tidak pernah shalat, itu belum cukup bagi kehidupan seorang Mukmin.
Salah satu ciri ibadah adalah kesakralannya. Itulah mengapa ada soal kekhusyu’an dalam ibadah. Sebab disanalah sumber energi itu. Pada ruku’ dan sujud itu, pada menahan lapar, pada bacaan ayat-ayat Allah yang dibunyikan dengan lisan, memakai kaidah tajwid, bukan dengan sekadar meyakini bahwa nilai universal Al-Qur’an secara umum telah ia jalankan. Tidak, itu semua tidak menggantikan bila kita sehuruf pun tak pernah membaca Al-Qur’an.
Setiap yang bergerak memerlukan energi. Kadang energi diperlukan untuk melahirkan energi baru lagi. Seperti angin yang berhembus lalu menggerakkan kincir. Atau air yang mengalir memutar turbin, lalu turbin memutar pembangkit listrik. Listrik menjadi energi bagi bermacam sarana hidup. Begitulah.
Logika energi bagi seorang Mukmin secara mendasar ada pada prinsip-prinsip ibadah. Itu adalah rahasia lain, mengapa dalam ayat Al-Qur’an, Allah dengan jelas mengatakan, bahwa manusia tidak diciptakan melainkan untuk beribadah.
Wallahu’alam bishowab.
Keutamaan Bersegera Menuju Shalat
Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ
“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)
Penjelasan ringkas:
Bersegera menuju ke masjid merupakan amalan yang sangat disunnahkan dengan beberapa alasan:
a. Dia merupakan perbuatan bersegera dan berlomba-lomba menuju kepada kebaikan, dan ini merupakan sifatnya para nabi dan orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala menyatakan, “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 61) Allah Ta’ala juga berfirman, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. “ (QS. Ali Imran: 114) Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90) Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka berlomba-lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148 dan Al-Maidah: 48)
b. Bisa mendapatkan shalat berjamaah sejak dari takbiratul ihram dan tidak ketinggalan satu rakaat pun.
c. Bisa mendapatkan shaf yang pertama, dengan pahala yang dijanjikan pada hadits di atas.
d. Pahala menunggu shalat bisa lebih banyak dia dapatkan. Karena jika dia datang ke masjid jauh sebelum iqamat dikumandangkan maka berarti selama itu dia menunggu shalat, dan selama itu pula pahala shalat mengalir untuk dirinya.
Karenanya, bagi yang tidak mempunyai urusan setelah maghrib, maka disunnahkan baginya untuk tidak pulang, akan tetapi dia tinggal di masjid untuk menunggu shalat isya, sambil dia isi dengan ibadah lainnya. Demikian pula antara zuhur dengan ashar dan antara ashar dengan maghrib.
Maka termasuk amalan mulia di zaman ini adalah adanya majelis ilmu yang diadakan habis maghrib atau habis ashar, karena hal tersebut akan mendorong yang menghadirinya untuk menunggu waktu shalat berikutnya.
e. Selamat dari ancaman Nabi -alaihishshalatu wassalam-:
لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
“Terus-menerus suatu kaum membiasakan diri untuk terlambat mendatangi shalatnya, sampai Allah juga akan mengundurkan mereka (untuk masuk ke dalam surga).” (HR. Muslim no. 662 dari Abu Said Al-Khudri )
Keutamaan lain yang tersebut dalam dalil-dalil di atas:
1. Keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri.
2. Keutamaan menyempurnakan wudhu.
3. Keutamaan berwudhu di rumah sebelum ke masjid, dan bukannya berwudhu setelah tiba di masjid. Ini karena pahala yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah yang pertama di atas, hanya bisa didapatkan oleh orang yang berwudhu dari rumahnya dan memang niatnya keluar adalah untuk shalat. Wallahu a’lam.
4. Keutamaan memperbanyak langkah kaki ke masjid, baik pergi maupun pulangnya.
5. Keutamaan untuk berdiam di tempat shalatnya setelah dia selesai shalat, yaitu para malaikat akan mendoakan ampunan dan rahmat baginya. Adapun yang berpindah dari tempat shalat (wajib)nya menuju ke depan atau ke belakang, maka keutamaan ini tidak dia dapatkan, walaupun dia berpindah dengan tujuan untuk shalat sunnah di situ.
Karenanya sehabis shalat hendaknya dia tidak meninggalkan tempatnya, akan tetapi dia berzikir dan shalat sunnah di tempatnya itu.
6. Keutamaan shalat isya dan subuh.
Wallahu a’lam.
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ
“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)
Penjelasan ringkas:
Bersegera menuju ke masjid merupakan amalan yang sangat disunnahkan dengan beberapa alasan:
a. Dia merupakan perbuatan bersegera dan berlomba-lomba menuju kepada kebaikan, dan ini merupakan sifatnya para nabi dan orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala menyatakan, “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 61) Allah Ta’ala juga berfirman, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. “ (QS. Ali Imran: 114) Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90) Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka berlomba-lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148 dan Al-Maidah: 48)
b. Bisa mendapatkan shalat berjamaah sejak dari takbiratul ihram dan tidak ketinggalan satu rakaat pun.
c. Bisa mendapatkan shaf yang pertama, dengan pahala yang dijanjikan pada hadits di atas.
d. Pahala menunggu shalat bisa lebih banyak dia dapatkan. Karena jika dia datang ke masjid jauh sebelum iqamat dikumandangkan maka berarti selama itu dia menunggu shalat, dan selama itu pula pahala shalat mengalir untuk dirinya.
Karenanya, bagi yang tidak mempunyai urusan setelah maghrib, maka disunnahkan baginya untuk tidak pulang, akan tetapi dia tinggal di masjid untuk menunggu shalat isya, sambil dia isi dengan ibadah lainnya. Demikian pula antara zuhur dengan ashar dan antara ashar dengan maghrib.
Maka termasuk amalan mulia di zaman ini adalah adanya majelis ilmu yang diadakan habis maghrib atau habis ashar, karena hal tersebut akan mendorong yang menghadirinya untuk menunggu waktu shalat berikutnya.
e. Selamat dari ancaman Nabi -alaihishshalatu wassalam-:
لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
“Terus-menerus suatu kaum membiasakan diri untuk terlambat mendatangi shalatnya, sampai Allah juga akan mengundurkan mereka (untuk masuk ke dalam surga).” (HR. Muslim no. 662 dari Abu Said Al-Khudri )
Keutamaan lain yang tersebut dalam dalil-dalil di atas:
1. Keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri.
2. Keutamaan menyempurnakan wudhu.
3. Keutamaan berwudhu di rumah sebelum ke masjid, dan bukannya berwudhu setelah tiba di masjid. Ini karena pahala yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah yang pertama di atas, hanya bisa didapatkan oleh orang yang berwudhu dari rumahnya dan memang niatnya keluar adalah untuk shalat. Wallahu a’lam.
4. Keutamaan memperbanyak langkah kaki ke masjid, baik pergi maupun pulangnya.
5. Keutamaan untuk berdiam di tempat shalatnya setelah dia selesai shalat, yaitu para malaikat akan mendoakan ampunan dan rahmat baginya. Adapun yang berpindah dari tempat shalat (wajib)nya menuju ke depan atau ke belakang, maka keutamaan ini tidak dia dapatkan, walaupun dia berpindah dengan tujuan untuk shalat sunnah di situ.
Karenanya sehabis shalat hendaknya dia tidak meninggalkan tempatnya, akan tetapi dia berzikir dan shalat sunnah di tempatnya itu.
6. Keutamaan shalat isya dan subuh.
Wallahu a’lam.
Hak Wanita Dalam Islam – Modernising atau Usang?
Definisi
Menurut kamus Oxford, 'Hak-Hak Perempuan adalah hak, yang mempromosikan posisi kesetaraan sosial dan hukum, perempuan terhadap laki-laki'
Menurut kamus Oxford, 'adalah mereka yang hak, diklaim untuk perempuan, sama dengan laki-laki, sebagai hal hak pilih bahwa hak untuk memilih, sebagai hal properti, dll'.
'Modernising', menurut kamus Oxford berarti, 'untuk membuat modern, untuk menyesuaikan dengan kebutuhan modern atau' kebiasaan.
Dan menurut kamus Webster berarti ... 'Untuk membuat modern, atau memberikan karakter baru atau penampilan - misalnya, untuk memodernisasi yang ide-ide'.
Singkatnya, modernisasi adalah sebuah proses update atau memilih untuk kemajuan status ini sendiri - Ini bukan status modern muncul dengan sendirinya.
Bisakah kita memodernisasi diri kita sendiri, untuk menguasai masalah kita, dan untuk mewujudkan cara hidup yang baru, untuk seluruh umat manusia?
Saya tidak khawatir tentang ide-ide modern, kesimpulan dan laporan kategoris yang dibuat oleh para ilmuwan dan ahli kursi berpengalaman, seperti bagaimana hidup harus dijalani oleh seorang wanita.
Saya akan dasar kesimpulan saya dan pertimbangan kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan pengalaman.
Pengalaman dan analisis holistik tidak bias faktual, adalah uji yakin, antara emas kebenaran, dan teori glitter.
Kami harus memeriksa berpikir kita terhadap realitas, dinyatakan banyak kali, proses mental kita akan tersesat - Memang otak besar satu kali, percaya bahwa dunia itu datar.
Hak Perempuan di Barat
Jika kita setuju dengan hak Wanita dalam Islam ', sebagaimana yang digambarkan oleh media Barat, Anda memiliki pilihan, tetapi setuju bahwa hak Wanita dalam Islam' yang ketinggalan jaman.
Pembicaraan Barat pembebasan perempuan, sebenarnya adalah sebuah bentuk terselubung dari eksploitasi tubuhnya, perampasan kehormatan dan degradasi jiwanya.
Masyarakat Barat yang berbicara tentang meningkatkan status perempuan dalam Islam, sebenarnya telah mengurangi statusnya untuk selir, untuk gundik, untuk kupu-kupu masyarakat, yang hanya alat di tangan pemasar seks dan pencari kesenangan, yang menyamar di balik layar warna-warni seni dan budaya.
Hak Wanita dalam Islam
mendukung Islam radikal revolusioner, memberikan hak perempuan karena status mereka dan pada hari-hari ketidaktahuan ... 1400 tahun yang lalu.
Tujuan Islam itu dan terus menjadi, untuk memodernisasi pemikiran kita, hidup kita, kita melihat, mendengar kita, perasaan kita dan berjuang untuk upliftment perempuan dan emansipasi di masyarakat.
Sebelum saya tinggal lebih lanjut dengan topik, saya ingin Anda untuk membuat catatan beberapa poin.
• Sekitar seperlima dari penduduk dunia, terdiri dari Muslim. Ada perbedaan masyarakat Muslim - Beberapa mungkin dekat dengan Islam, beberapa mungkin berada jauh dari Islam.
• The 'hak Wanita dalam Islam' harus dihakimi menurut sumber-sumber asli, dan bukan apa setiap muslim lakukan, atau apa masyarakat Muslim melakukannya.
• Sumber-sumber otentik Islam, adalah Al Qur'an, yang adalah firman Allah, dan Sunnah otentik, dan tradisi Nabi yang kita cintai (saw).
• Al-Qur'an tidak akan bertentangan itu sendiri, juga tidak akan bertentangan Hadis otentik itu sendiri ... tidak akan kedua sumber otentik, bertentangan satu sama lain.
• Kadang-kadang para ulama berbeda, dan banyak kali, perbedaan-perbedaan ini dapat dihilangkan dengan menganalisis Al-Qur'an secara keseluruhan, dan bukan hanya dengan mengutip satu ayat tertentu. Karena jika satu ayat tertentu dari Al Qur'an adalah ambigu banyak kali jawaban diberikan di tempat lain di dalam Alquran - Beberapa orang mengutip satu sumber dan mengabaikan semua sumber-sumber lain.
• Ini adalah kewajiban setiap Muslim, laki-laki atau perempuan, untuk mencari kesenangan Allah, dan bertindak sebagai wali amanat-Nya di dunia ini, dan tidak mencoba dan mendapatkan ketenaran atau memuaskan ego sendiri.
Islam percaya pada kesetaraan laki-laki dan perempuan - 'Kesetaraan' tidak berarti 'identicality'.
Dalam Islam, peran seorang pria dan wanita adalah gratis, tidak saling bertentangan. Ini adalah kemitraan, itu tidak bertentangan, sehingga berusaha untuk supremasi.
Di mana hak-hak perempuan dalam Islam 'yang bersangkutan, saya telah dipisahkan menjadi 6 kategori luas.
Enam Kategori Hak Perempuan dalam Islam
Yang pertama adalah 'hak Spiritual', kedua adalah 'hak Ekonomi, ketiga adalah' hak Sosial ', keempat adalah' hak Pendidikan ', kelima adalah "hak Hukum", dan terakhir adalah' hak politik '.
Seks adalah Bukan Kriteria untuk Masukkan Paradise:
Kesalahpahaman terbesar yang telah Barat tentang Islam, adalah bahwa mereka berpikir ... 'surga dalam Islam, ini dimaksudkan untuk laki-laki - itu tidak dimaksudkan untuk perempuan'.
Kesalahpahaman ini dapat dihapus dengan mengutip dari Surah Nisa, Ch. Nomor 4, Ayat No 124, yang mengatakan, "Jika ada yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan dan memiliki iman, mereka pasti akan masuk surga dan tidak sedikit ketidakadilan tersebut harus dilakukan agar mereka '
Hal yang sama diulangi dalam Surah Nahl, Ch.16, Ayat No.97 yang mengatakan ... "Jika ada yang melakukan perbuatan baik, baik itu pria atau wanita dan beriman, Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan Kita harus penghargaan untuk semua perbuatan baik Anda.
Hanya karena dalam Islam, seks bukanlah kriteria untuk masuk surga, akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Spiritual A. Hak-hak Perempuan dalam Islam
Kesalahpahaman lainnya adalah bahwa, yang media Barat, bahwa, "Wanita itu tidak memiliki jiwa '.
Bahkan, itu pada abad ketujuh belas, ketika Dewan orang-orang bijak, ketika mereka berkumpul di Roma, dan mereka secara bulat setuju bahwa wanita itu tidak jiwa.
Dalam Islam, pria dan wanita mempunyai sifat rohani yang sama. Hal ini disebutkan dalam Quran, Ch.4, Ayat No.1, yang mengatakan bahwa, "Wahai manusia Guardian hormat Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari satu orang dan diciptakan seperti sifat pasangannya.
Hal yang sama disebutkan dalam Surah Nahl, Ch.16, Ayat No.72, yang mengatakan bahwa, "Kami telah dibuat untuk Anda dan teman-teman alam sendiri '.
Dalam Surah Al-Syura, Ch.42, Ayat No.11, ia mengatakan, "Dia adalah orang yang telah menciptakan langit dan bumi dan telah dibuat untuk Anda pasangan dari kalangan 'sendiri.
Hanya karena sifat rohani seorang pria dan wanita adalah sama dalam Islam, akan kau sebut hak-hak tersebut dalam Islam, sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Alquran jelas menyebutkan bahwa, "Allah telah bernapas sedikit dari roh-Nya ke dalam umat manusia '.
Jika Anda membaca Surah Hijr, Ch.15, No.29 Ayat, ia mengatakan, 'Ketika saya memiliki gaya Anda dalam proporsi jatuh tempo dan telah meniupkan ke sesuatu roh saya, jatuh Anda turun di sembah'.
Hal yang sama diulangi dalam Al Qur'an, dalam Surah Sajdah, Ch. 32, No.9 Ayat, yang mengatakan, "Kemudian Dia Kusempurnakan dan meniupkan ke dalamnya Roh-Nya ...'.
Di sini, ketika Allah merujuk kepada Sesuatu sebagai 'Roh-Ku, yang ditiupkan ke manusia' - itu tidak berarti, semacam inkarnasi atau bentuk panteistik.
Ini berarti bahwa Allah telah diberikan kepada setiap manusia sesuatu Alam spiritual-Nya, dan Pengetahuan Allah Maha Kuasa, dan datang lebih dekat kepada-Nya.
Di sini merujuk pada Adam dan Hawa (semoga damai atas mereka) - Kedua adalah meniupkan sesuatu dari Roh Allah.
Sekali lagi kita baca dalam Al Qur'an, bahwa Allah telah menunjuk manusia sebagai khalifah-Nya, sebagai wali amanat-Nya, seperti yang disebutkan dalam Surah Isra, Ayat Ch.17 No.70, yang mengatakan, "Kami menghormati anak-anak Adam dan berikan kepada mereka 'bantuan khusus.
Catatan, di sini semua anak Adam telah dimuliakan, laki-laki maupun perempuan.
Ada beberapa kitab suci agama, misalnya Alkitab, yang menempatkan menyalahkan Hawa karena kejatuhan manusia.
Bahkan jika Anda membaca Alquran dalam Surat Araf,, Ch.7 No.19 Ayat 27, Adam dan Hawa (semoga damai atas mereka berdua) yang ditangani, lebih dari selusin kali.
Kedua mendurhakai Allah, baik meminta maaf, baik bertobat, dan keduanya telah diampuni.
Dalam Alkitab, jika Anda membaca kitab Kejadian, Ch. 3, hanya Eve yang bertanggung jawab (Damai sejahtera atasnya) untuk kejatuhan manusia.
Dan menurut doktrin 'Original Sin', karena Hawa (semoga damai atasnya) seluruh umat manusia lahir dalam dosa.
Apakah Uplift Kehamilan Wanita atau menurunkan?
Jika Anda membaca Alkitab dalam Kejadian, Ch. 3, Ayat 16, dikatakan bahwa, 'Untuk wanita Dia (Allah) berkata, "Aku akan sangat sakit Anda kalikan dalam melahirkan anak, dalam kesusahan yang engkau akan melahirkan anak-anak, namun keinginan Anda harus menjadi suami Anda, dan dia akan memerintah atas dirimu. "'
Itu berarti, kehamilan dan kelahiran anak yang telah dikatakan dalam Alkitab untuk mendegradasi perempuan dan nyeri persalinan adalah semacam hukuman.
Bahkan jika Anda membaca Alquran, kehamilan dan kelahiran anak perempuan telah terangkat.
Jika Anda membaca Surah Nisa, Ch.4, Ayat No.1, ia mengatakan, 'Hormati rahim yang bosan'.
Seperti disebutkan dalam Surah Luqman,, Ch.31 Ayat No.14, ia mengatakan, "Kami perintahkan pada manusia untuk bersikap baik kepada orang tua, melahirkan, atas penderitaan itu ibu mereka melahirkan mereka dan dalam dua tahun adalah penyapihan mereka ' .
Hal yang sama disebutkan dalam Surah Ahqaf, Ch.46, Ayat No.15, lagi mengulangi, yang mengatakan, "Kami perintahkan pada manusia untuk baik kepada orang tuanya.
Untuk bersikap baik kepada orang tua - sakit itu ibu mereka melahirkan mereka, dan kesakitan dia memberi mereka melahirkan - Kehamilan dalam Al-Qur'an telah ditinggikan perempuan itu tidak rusak.
Hanya karena kehamilan telah terangkat perempuan dalam Islam akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Kriteria dalam Sight Allah kepada Hakim Pria dan Wanita:
Kriteria hanya untuk penilaian di sisi Allah adalah 'Taqwa', 'kesadaran Tuhan' atau 'kebenaran'.
Hal ini disebutkan dalam Surah Hujurat, Ch.49, 13 Ayat "Hai manusia, Kami telah menciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan dan telah dibagi Anda ke bangsa dan suku, sehingga Anda akan mengenali satu sama lain tidak bahwa Anda menghina satu sama lain dan yang paling terhormat di sisi Allah, adalah orang yang paling benar '.
Sex, warna, kasta, kekayaan tidak punya kriteria dalam Islam - Kriteria hanya di hadapan Allah adalah 'kebenaran', tidak adalah seks kriteria bagi Allah untuk hadiah atau untuk menghukum seseorang.
Jika Anda membaca Surah No.195 Imran Ayat Ch.3 itu mengatakan 'Saya tidak akan menderita kehilangan apapun dari Anda, baik laki-laki atau perempuan, Anda kepada teman satu sama lain'.
Sama Moral Tugas untuk Pria dan Wanita:
Aku mulai bicara saya dengan mengutip ayat dari Al-Qur'an dari Surah Al Ahzab, Ch.33, No.35 Ayat, yang mengatakan,
"Untuk pria Muslim dan perempuan Muslim,
untuk laki-laki yang beriman dan wanita,
untuk pria dan wanita yang saleh,
untuk pria sejati dan wanita,
untuk pria dan wanita yang sabar dan konstan,
untuk pria dan wanita yang menyerah amal,
untuk pria dan wanita yang cepat dan menyangkal diri sendiri,
untuk pria dan wanita yang menjaga kemaluannya,
untuk pria dan wanita yang terlibat banyak dalam memuji Tuhan,
Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. "
Ayat ini menunjukkan bahwa tugas rohani, tugas moral, untuk pria dan wanita dalam Islam adalah sama - Kedua harus percaya, keduanya harus berdoa, keduanya memiliki untuk berpuasa, keduanya harus menyerah amal, dll, dll
Tapi wanita-wanita telah diberikan konsesi tertentu dalam Islam.
Jika dia mengalami haid atau hamil, dia tidak harus cepat - Dia dapat menjaga orang-orang puasa nanti, ketika dia lebih sehat.
Selama periode menstruasi dan selama periode setelah melahirkan, dia membutuhkan tidak berdoa juga - dia telah diberi konsesi, dan juga tidak dia harus menggantinya nanti.
Hanya karena tugas moral laki-laki dan perempuan sama dalam Islam akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
B. Hak Ekonomi Perempuan
Islam memberi hak ekonomis kepada perempuan 1.300 tahun sebelum Barat.
Seorang wanita dewasa Muslim bisa sendiri, dia bisa membuang atau menyangkal salah satu miliknya tanpa konsultasi salah satu, terlepas apakah dia sudah menikah atau dia adalah tunggal.
Pada tahun 1870, itu adalah pertama kalinya di Inggris, bahwa Barat mengakui hak-hak perempuan menikah, di mana dia diperbolehkan untuk memiliki atau membuang semua harta tanpa konsultasi.
Saya setuju bahwa perempuan diberi hak-hak ekonomi mereka 1300 tahun lalu - ini adalah hak kuno - tapi pertanyaannya adalah - 'mereka modernisasi atau ketinggalan jaman? "
Perempuan di Job:
Seorang perempuan dalam Islam, jika dia ingin bekerja ia dapat bekerja - Tidak ada teks dalam Al Quran atau Hadis yang otentik mencegah atau membuatnya dilarang bagi wanita untuk melakukan pekerjaan apapun, asalkan tidak melanggar hukum, sebagai Selama masih dalam pratinjau Syariah Islam, selama dia mempertahankan busana Muslim-nya.
Tapi alam, dia tidak dapat mengambil pekerjaan, yang memperlihatkan kecantikan dan tubuh - Seperti misalnya, pemodelan dan film bertindak, dan jenis pekerjaan tersebut.
Banyak profesi dan pekerjaan yang dilarang untuk wanita juga dilarang bagi manusia, misalnya melayani alkohol, bekerja di sarang perjudian, melakukan apapun bisnis yang tidak etis atau tidak jujur. Semua pekerjaan ini dilarang bagi pria dan wanita.
Sebuah masyarakat Islam yang sejati membutuhkan perempuan untuk mengambil profesi seperti dokter.
Kami memerlukan ginekolog perempuan, kita memang membutuhkan perawat wanita, kita memerlukan guru perempuan.
Tapi, seorang wanita dalam Islam telah punya kewajiban keuangan - Kewajiban keuangan diletakkan di bahu laki-laki dalam keluarga - Oleh karena itu dia tidak perlu bekerja untuk kehidupannya.
Namun dalam kasus asli, di mana ada krisis keuangan di mana kedua ujung tidak bertemu, dia memiliki pilihan untuk bekerja.
Di sini juga, tak seorang pun bisa memaksanya untuk bekerja - la bekerja dari sendiri, akan bebas mutlak.
Keamanan Keuangan untuk Wanita:
Seorang wanita dalam Islam telah diberikan keamanan lebih keuangan, dibandingkan dengan pria itu.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kewajiban keuangan tidak menaruh di bahunya - Ini adalah meletakkan di bahu laki-laki dalam keluarga. Ini adalah tugas dari ayah atau saudara laki-laki, sebelum dia menikah dan tugas suami atau anak, setelah dia menikah untuk menjaga penginapan nya, asrama, pakaian, dan aspek keuangan nya.
Wajib Perkawinan Hadiah untuk Wanita:
Ketika dia menikah, dia di ujung penerima.
Dia menerima hadiah - ia menerima mahar atau hadiah perkawinan, yang disebut sebagai 'mahar'.
Dan disebutkan dalam Al-Qur'an di Surah Nisa, Ch.4 No.4 Ayat yang mengatakan, 'Berikan kepada wanita dalam mahar, hadiah perkawinan'.
Untuk pernikahan untuk upacara dalam Islam, 'mahar' adalah wajib.
Tapi sayangnya dalam masyarakat muslim kita di sini, kita hanya menyimpan nominal 'untuk mahar' memenuhi Alquran, mengatakan 151 Rupee, atau beberapa orang memberikan 786 Rupee dan mereka menghabiskan lakh lakh dan dari Rupee pada resepsi, pada dekorasi, pada bunga-bunga, pada pihak makan siang, pada jamuan makan malam.
Dalam Islam, tidak ada batas-lebih rendah, juga tidak ada batas atas untuk 'mahar' - Tetapi ketika seseorang bisa menghabiskan lakh dari Rupee pada resepsi, tentunya 'mahar' harus banyak lagi.
Ada berbagai budaya yang merayap ke dalam masyarakat Muslim, khususnya di daerah Indo-Pak.
Mereka memberikan sejumlah kecil 'mahar' dan mereka mengharapkan istri untuk memberikan lemari es, untuk memberikan TV, mereka mengharapkan istri untuk memberikan sebuah apartemen, untuk memberikan mobil, dll, dan sejumlah besar mahar, tergantung pada status suami.
Jika dia adalah lulusan, mereka mungkin berharap 1 lakh - Jika ia adalah seorang insinyur mereka dapat mengharapkan 3 lakh - Jika dia adalah seorang dokter mereka dapat mengharapkan 5 lakh.
Menuntut mahar dari istri, langsung atau tidak langsung dilarang dalam Islam.
Jika orangtua gadis itu memberikan sesuatu gadis keluar dari kehendak bebas mereka, itu diterima - Tapi menuntut atau memaksa secara langsung atau tidak langsung, adalah dilarang dalam Islam.
Tidak Keuangan Kewajiban:
Jika karya Perempuan, yang tidak perlu - apa pun yang produktif dia mendapat, itu benar-benar miliknya.
Dia tidak perlu menghabiskan dalam rumah tangga - jika dia ingin menghabiskan itu akan bebas.
Terlepas bagaimana kaya istri, itu adalah tugas suami untuk memberikan penginapan, asrama, pakaian dan mengurus aspek keuangan istri.
Dalam kasus perceraian atau jika istri mendapatkan janda, dia mendapat dukungan keuangan untuk masa 'iddah' - dan jika ia memiliki anak, ia juga diberikan tunjangan anak.
Hak Mewarisi:
Islam memberikan hak kepada perempuan untuk mewarisi, berabad-abad yang lalu.
Jika Anda membaca Alquran - dalam beberapa ayat, di Surah Nisa, dalam Surat Baqarah dan Surah Maidah, disebutkan bahwa seorang wanita, terlepas dia adalah istri atau dia adalah seorang ibu, atau saudara, atau anak perempuan, ia memiliki hak untuk mewarisi. Dan sudah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.
C. Sosial Hak-hak Perempuan dalam Islam
Secara garis besar dapat dikategorikan ke dalam empat sub-judul. hak Sosial diberikan kepada anak perempuan, untuk istri, untuk ibu dan saudara perempuan.
Hak Sosial Daughter sebuah:
Islam melarang, pembunuhan bayi perempuan. Pembunuhan anak-anak perempuan dilarang dalam Islam. Hal ini disebutkan dalam Surah Taqveem, Ch. 81, Ayat No 8 dan 9, 'ketika anak perempuan dikubur hidup-hidup dan saat ia pertanyaan Anda, karena dosa apakah dia dibunuh ". infantisida hanya wanita yang dilarang Tidak, segala macam infanticides yang dilarang dalam Islam, apakah itu menjadi anak laki-laki atau anak perempuan. Hal ini disebutkan dalam Alquran dalam Surat A'nam Ch.6, Ayat No.151 itu, "Bunuh bukan anak-anak Anda karena kekurangan makanan untuk itu adalah Allah yang akan memberikan rezeki untuk Anda dan untuk 'anak-anak. Hal yang sama disebutkan dalam Surah Isra, Ayat Ch.17 No.31 yang mengatakan ... "Bunuhlah anak-anak Anda tidak karena kekurangan makanan, karena Allah yang akan memberikan rezeki kepada Anda dan anak-anak Anda, untuk membunuh anak-anak adalah dosa besar '. Dalam Arab pra-Islam, setiap kali lahir anak perempuan kebanyakan dia dikubur hidup-hidup. Alhamdullillah, setelah penyebaran Islam praktek kejahatan ini telah dihentikan. Tapi sayangnya masih berlanjut di India - Menurut laporan BBC, dalam tugas programe judul yang 'Mari Her Die', ada wartawan Inggris dengan nama Emily Beckenen, yang datang jauh-jauh dari Britania ke India untuk memberi kita statistik pembunuhan bayi perempuan. Dalam programe itu, memberikan statistik, bahwa setiap hari lebih dari 3.000 janin yang gugur di diidentifikasi bahwa mereka adalah perempuan. Jika Anda mengalikan angka ini dengan jumlah hari, yang dikalikan dengan 365, Anda mendapatkan angka lebih dari satu juta janin perempuan gugur setiap tahun di negara kita. Dan ada penimbunan besar dan poster di negara-negara seperti Tamil Nadu dan Rajasthan, yang mengatakan menghabiskan 500 Rupee dan menyimpan 5 lakh Rupee. Apa artinya? - Bahwa Rupee menghabiskan 500 pada pemeriksaan medis seperti Aminocententus atau Ultra Sonografi, dan mengidentifikasi jenis kelamin anak. Jika wanita Anda dapat membatalkan dan Anda akan menghemat 5 lakh Rupee - Bagaimana? Pasangan dari lakh Anda habiskan untuk pendidikannya dan sisa lakh Rupee Anda habiskan untuk memberi mahar kepada orang yang akan menikahinya (kebiasaan di India). Menurut laporan dari Rumah Sakit Pemerintah Tamil Nadu - 'dari setiap 10 anak perempuan yang lahir, empat adalah dihukum mati '- Tidak heran penduduk perempuan di India kurang dari penduduk laki-laki. infantisida Wanita itu terus di India sejak berabad-abad - Jika Anda menganalisis statistik dari sensus 1901, untuk setiap 1000 laki-laki ada 972 wanita. Menurut 1981 statistik dan sensus, ia memberitahu Anda untuk setiap 1000 laki-laki Anda memiliki 934 perempuan. Dan statistik terbaru tahun 1991 memberitahu Anda bahwa untuk setiap 1000 laki-laki Anda memiliki 927 perempuan. Anda dapat menganalisis bahwa rasio perempuan menurun setiap tahun - Dan karena ilmu dan obat-obatan semakin berkembang, telah membantu dalam praktek kejahatan. Hanya karena Islam mengatakan bahwa kamu tidak boleh membunuh anak-anak apakah itu laki-laki atau perempuan akan hak-hak Anda sebut dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman? Alquran tidak hanya melarang wanita pembunuhan bayi, itu memarahi membayangkan Anda sukacita pada saat kelahiran seorang anak laki-laki dan mendapatkan sedih pada saat kelahiran seorang anak perempuan. Dalam Islam, anak perempuan harus dibesarkan dengan benar. Dalam Islam, tidak boleh ada ketimpangan dalam pendidikan dari anak perempuan atau anak. Menurut sebuah Hadis, 'Di hadapan Nabi Muhammad, sekali seorang pria mencium putranya dan menempatkan dia di pangkuannya tapi tidak melakukan hal yang sama kepada putrinya. segera Nabi keberatan dan mengatakan bahwa Anda tidak adil - Anda harus memiliki bahkan mencium putri Anda dan menempatkannya di pangkuan yang lain '.
Sosial Hak Istri:
Semua peradaban sebelumnya, mereka telah menganggap perempuan menjadi 'alat setan'.
Al-Qur'an mengacu pada perempuan sebagai 'Mohsana', yaitu sebuah benteng 'terhadap setan'.
Dan kalau seorang wanita, yang bagus, menikah seorang pria, dia mencegahnya terjadi di jalan yang salah.
Ada sebuah hadis di mana Nabi Muhammad (saw) ia mengatakan bahwa, 'tidak ada monastisisme dalam Islam'.
Dan lagi menurut Sahih Bukhari, Volume No 7, Ch. Nomor 3 Hadis No 4 itu mengatakan bahwa 'Nabi Muhammad ditahbiskan orang-orang muda, semua orang yang memiliki sarana untuk menikah, mereka harus menikah - Untuk itu akan membantu mereka untuk menjaga pandangan mereka dan menjaga kerendahan hati mereka.
Alquran mengatakan bahwa, "Kami telah memasang cinta ke dalam hati suami dan istri.
Jika Anda membaca Surah Rum, Ch. 30, Ayat No 21 ia mengatakan bahwa, "Dan di antara tanda-tanda kami Kami telah menciptakan untukmu pasangan atau teman, sehingga Anda dapat tinggal di dalamnya dalam ketenangan dan kami telah menempatkan cinta dan belas kasih antara hati Anda '.
Menurut Surah Nisa, Ch.4, Ayat No.21, pernikahan dianggap sebagai perjanjian yang kuat, sebuah kontrak yang kuat.
Menurut Surah Nisa, Ch.4, No.19 Ayat, ia mengatakan, 'Anda dilarang untuk mewarisi perempuan dari mereka akan "- Means, untuk menikah dengan izin dari kedua belah pihak diperlukan.
Ini adalah wajib bahwa laki-laki dan perempuan keduanya harus setuju untuk menikah. Tak seorang pun - bahkan tidak dapat memaksa ayah untuk menikahi putri mereka melawan keinginannya.
Ada sebuah hadis dalam kitab Sahih Bukhari, Volume 7, Buku 62, Nomor 69, yang mengatakan 'bahwa seorang wanita dia dipaksa oleh ayahnya untuk menikah melawan keinginannya' - Dan dia pergi ke Nabi dan Nabi tidak valid perkawinan '.
Hadis lain dalam Ibn-e-Humbal, Hadis Nomor 2469, ia mengatakan 'bahwa anak perempuan dipaksa oleh ayahnya untuk menikah - Dan ketika mendekati putri Nabi, Nabi mengatakan Anda bisa melanjutkan, atau jika Anda ingin Anda dapat membatalkan perkawinan.
Itu berarti, persetujuan dari kedua laki-laki dan perempuan diwajibkan.
Dalam Islam, wanita dianggap sebagai ibu rumah tangga - Dia tidak dianggap sebagai ibu rumah tangga, karena dia tidak menikah dengan rumah.
Banyak orang menggunakan istilah, tanpa memahami apa artinya - 'Ibu Rumah Tangga' berarti 'Anda adalah istri dari rumah'.
Jadi saya percaya, dari sekarang dan seterusnya bersaudara lebih suka menyebut diri mereka 'ibu rumah tangga', ibu rumah daripada '', jika mereka menduduki lebih di rumah.
Dalam Islam, seorang wanita, dia tidak menikah dengan seorang master bahwa dia harus diperlakukan seperti budak - Dia menikah dengan itu adalah sama.
Dan ada hadis yang mengatakan dalam Ibn-Hambal - Hadis No 736, 7396. Ia mengatakan bahwa, 'paling sempurna dari orang-orang mukmin adalah mereka yang terbaik dalam karakter dan perilaku, dan orang-orang yang terbaik untuk keluarga mereka dan istri-istri mereka.
Islam memberikan hak yang sama dengan pria dan wanita. Alquran jelas menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan, suami dan istri memiliki hak yang sama dalam semua aspek, kecuali kepemimpinan dalam keluarga.
Hal ini disebutkan dalam Al Qur'an dalam Surah Baqarah Ch.2, Ayat No.228. Ia mengatakan bahwa, "... para wanita telah diberi hak yang sama terhadap mereka (pria) dengan persyaratan yang adil tapi orang-orang memiliki gelar yang lebih tinggi ...'.
Sebagian besar kaum muslim telah salah memahami ayat ini, ketika kata 'pria memiliki gelar yang lebih tinggi "- Seperti yang saya bilang kita harus menganalisis Al-Qur'an secara keseluruhan. Dan seperti disebutkan dalam Surah Nisa, Ch. 4, Ayat No.34 yang mengatakan, 'Orang-orang adalah pelindung dan pengembang dari women, karena Allah telah given 1 dari mereka kekuatan lebih dari yang lain dan mereka give them means mereka'.
Orang bilang Kawwam 'kata' berarti, 'satu derajat lebih tinggi di keunggulan' - Tapi sebenarnya kata 'Kawwam' berasal dari kata akar 'Ikamah'. 'Ikamah' berarti misalnya 'bila Anda memberikan Ikamah sebelum doa - Anda berdiri'.
Jadi 'Ikamah' berarti standup - jadi Kawwam 'kata' berarti satu derajat lebih tinggi dalam tanggung jawab, tidak satu derajat lebih tinggi pada keunggulan.
Bahkan jika Anda membaca komentar dari 'Ibne-Katsir' - Dia mengatakan bahwa Kawwam 'kata' berarti satu derajat lebih tinggi pada tanggung jawab, tidak satu derajat lebih tinggi pada keunggulan.
Dan tanggung jawab ini, harus dilakukan dengan persetujuan bersama dari kedua suami dan istri.
Hal ini disebutkan dalam Surah al-Baqarah, Ch.2, Ayat No.187, yang mengatakan, Yang berarti ... "Istri-istrimu adalah pakaian bagimu, dan kamu pakaian mereka".
Apa tujuan pakaian - Ini digunakan untuk menyembunyikan dan untuk mempercantik.
Suami dan istri, harus menyembunyikan setiap kesalahan orang lain, dan mereka harus saling memperindah - hubungan Its tangan dan sarung tangan.
Alquran menyebutkan bahwa, 'bahkan jika Anda tidak menyukai istri Anda, Anda harus memperlakukan dia dengan baik'.
Hal ini disebutkan dalam Surah Nisa, Ch.4, No.19 Ayat, bahwa, "... istri dengan mereka (istri-istrimu) dalam kebaikan, karena jika Anda membenci mereka mungkin terjadi bahwa Anda membenci sesuatu dimana Allah telah menempatkan banyak baik.
Bahkan jika Anda tidak menyukai istri Anda, Anda harus memperlakukan dia dengan baik dan dengan ekuitas
Hanya karena hak seorang istri sama dengan para suami dalam Islam, akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Hak Sosial Ibu suatu:
Satu-satunya hal di atas hormat kepada Ibu, adalah menyembah Allah - Hal ini disebutkan dalam: Ch.17, Ayat No.28, 29, ini mengatakan bahwa ... 'Allah yang telah ditetapkan untuk Anda, bahwa Anda tidak menyembah selain Dia, dan bersikap baik kepada orang tua Anda. Dan jika salah satu atau keduanya mencapai usia tua tidak mengatakan sebuah kata penghinaan atau menolak mereka tapi alamat mereka dengan kehormatan, dan berbicara kepada mereka dengan kebaikan, dan menurunkan sayap Anda kerendahan hati dan berdoa kepada Allah - "Ya Tuhanku! memberkati mereka karena mereka telah dihargai saya di masa kanak-kanak '. Surah Nisa, Ch. Nomor 4, Ayat No 1 berkata, 'Hormatilah rahim yang membuat Anda bosan'. Surah A'nam, Ch.6, Ayat No.151, mengatakan bahwa, "Engkau harus baik kepada orang tua Anda. Luqman Surah Ch 0,31, Ayat No.14, mengatakan bahwa, "Kami perintahkan pada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Dalam penderitaan di atas penderitaan, apakah ibu mereka melahirkan mereka, dan dalam dua tahun adalah menyapih mereka. Hal yang sama ini diulang kembali dalam Surat Ahqaf, Ch.46, Ayat 15, bahwa ... "Kami perintahkan pada manusia untuk baik kepada orang tuanya. Dalam sakit itu ibu mereka melahirkan mereka dan kesakitan dia memberi mereka lahir '. Hadis lain yang terkait dalam kitab Sahih Bukhari dalam Volume 8, Ch. Nomor 2 Hadis Nomor 2, serta dalam kitab Sahih Muslim - ini mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad ... 'Siapa yang memerlukan kasih maksimum dan hormat dan persahabatan saya di dunia ini? Nabi menjawab - 'ibumu' ' Siapa 'di sebelah? - 'Ibumu' 'Siapa yang berikutnya? " - 'Ibumu' Orang bertanya untuk keempat kalinya, - "Siapa yang berikutnya" Nabi menjawab 'ayahmu'. Jadi 75% cinta dan menghormati pergi ke ibu dan 25% dari cinta dan menghormati pergi ke ayah. Tiga keempat bagian yang lebih baik dari cinta dan menghormati pergi ke ibu - Satu keempat bagian sisa cinta dan hormat pergi ke ayah.
Hak Sosial Suster suatu:
Menurut Surah Tawbah, Ch. 9, Ayat No.71, mengatakan bahwa, "Para pria dan wanita yang mereka bersahabat satu sama lain.
Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) dia berkata, "Para perempuan adalah 'Shakat' - 'Shakat' berarti adik '.
D. Pendidikan Hak untuk Wanita
5 ayat pertama yang disebutkan dalam Al Qur'an itu dari Surah alaq, atau Surah Iqra, Ayat No 1-5 yang mengatakan:
"Baca, membacakan atau memberitakan dalam nama Tuhanmu, yang telah menciptakan manusia dari gumpalan darah beku (lintah seperti zat).
Bacalah, Tuhanmu adalah yang paling berlimpah.
Siapa yang telah mengajarkan penggunaan pena.
Siapa yang telah mengajarkan manusia apa yang ia tahu-bukan '.
Petunjuk pertama yang diberikan dalam Al Qur'an untuk umat manusia itu tidak untuk berdoa, tidak untuk berpuasa, tidak untuk memberikan amal - Ini dibaca - Islam membayar paling penting bagi pendidikan.
Pendidikan Wajib dalam Islam:
Menurut Quran:
• Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi pengetahuan kepada derajat yang tinggi. (58:11)
• Dan katakanlah, Ya Tuhanku! meningkatkan ilmu pengetahuan. (20:114)
• Dan barangsiapa yang diberi pengetahuan itu diberikan kekayaan memang melimpah. (2:269)
• Menurut perkataan Nabi Muhammad (saw) "Ini adalah wajib bagi setiap Muslim, laki-laki atau perempuan, untuk memperoleh pengetahuan (Al-Baihaqi).
Bayangkan, 1400 tahun yang lalu, ketika para wanita yang sakit dirawat dan hanya digunakan sebagai properti, Islam meminta para wanita untuk dididik. Karena Islam mengatakan bahwa setiap wanita harus dididik, - Apakah Anda memanggil perempuan tersebut benar dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
E. Hak untuk Wanita
Menurut hukum Islam, pria dan wanita sama - Hukum Islam melindungi nyawa dan harta benda seorang laki-laki dan perempuan keduanya. Jika seorang pria pembunuhan seorang wanita dia juga akan menerima hukuman mati dari 'Kisaas'. Menurut hukum Islam 'Kisaas', pria dan wanita - tanpa cedera menjadi mata, hidung, telinga, tubuh - keduanya menerima hukuman yang sama. Dan jika wali si pembunuh, bahkan menjadi seorang wanita - Jika ia mengatakan, bahwa memaafkan pembunuh dan ia menerima 'Día', yaitu kompensasi - pendapatnya tidak dapat ditolak - mereka harus menerimanya. Dan jika ada perbedaan pendapat antara kerabat orang yang dibunuh - Dan beberapa orang mengatakan bahwa si pembunuh harus dibunuh dan beberapa orang mengatakan bahwa ia harus diampuni dan 'Día "harus diterima - orang harus mencegah keluarga dari membunuh pembunuh itu. Dan terlepas apakah saksi atau pendapat yang diberikan oleh seorang pria atau wanita, memiliki berat yang sama. Menurut Surah Maida, Ch.5, Ayat No.30 - Dikatakan ... "Sedangkan pencuri, apakah ia menjadi laki-laki atau perempuan, memotong tangan nya sebagai hukuman atas kejahatannya, contoh dari Allah '. Berarti, jika seseorang merampas, terlepas apakah ia adalah seorang pria atau wanita tangan nya harus dipotong - hukuman yang sama. Menurut Surah Nur, Ch.24, Ayat No.2, ia mengatakan "Jika melakukan percabulan, baik itu pria atau wanita, mencambuk mereka dengan" 100 garis. Hukuman untuk zina dalam Islam terlepas apakah itu laki-laki atau perempuan, itu adalah sama - cambuk dengan 100 garis. Hukuman untuk laki-laki dan perempuan, adalah sama dalam Islam. Dalam Islam seorang wanita diperbolehkan untuk memberi kesaksian Bayangkan, Islam memberikan hak wanita untuk menjadi saksi, 14 abad yang lalu. Bahkan sekarang di hingga akhir 1980, Rabai Yahudi, mereka mempertimbangkan bahwa apakah perempuan harus diberi hak untuk bertindak sebagai saksi atau tidak - Dan Islam memberikan hak itu 1400 tahun yang lalu. Accord ing untuk Surah Nur, Ch.24, Ayat No.4, dikatakan "Jika ada yang menaruh tagihan terhadap kesucian seorang wanita, menghasilkan 4 saksi, dan jika mereka terputus-putus, mengalahkan mereka dengan '80 garis. Dalam Islam untuk kejahatan kecil, Anda membutuhkan 2 saksi - untuk kejahatan besar Anda memerlukan 4 saksi. Menuduh wanita palsu adalah kejahatan besar dalam Islam, karena itu Anda memerlukan 4 saksi. Sekarang hari yang Anda lihat dalam masyarakat modern, Anda menemukan laki-laki menganiaya wanita dan menyebut mereka segala macam nama. Mereka menyebutnya pelacur dll, dan tidak ada yang dilakukan. Dalam sebuah negara Islam, jika seseorang menyebutnya pelacur 'di depan umum atau di tempat lain, dan jika dia membawa orang itu ke pengadilan - Dan jika orang itu tidak bisa menghasilkan 4 saksi atau bahkan jika ia menghasilkan 4 saksi dan salah satu dari mereka bimbang , mereka semua akan menerima 80 cambukan setiap, dan di masa depan semua bukti mereka akan ditolak. Islam memberi penting kepada kesucian wanita itu. Ketika wanita menikah, dia biasanya mengadopsi nama suaminya. Dalam Islam dia memiliki pilihan yang baik menjaga nama suaminya, baik mengadopsi nama suami, atau mempertahankan nama gadisnya. Dan mempertahankan nama gadis dianjurkan dalam Islam - Dan kita temukan di beberapa masyarakat Muslim bahwa perempuan, bahkan setelah mereka menikah mereka mempertahankan nama gadis mereka, karena menurut hukum Islam pria dan wanita equal.Will Anda menelepon hak tersebut dalam Islam modernisasi atau ketinggalan jaman?
F. Hak-hak Politik Wanita
Menurut Surah Tawba, Ch.9, Ayat No.71, "Para pria dan wanita mereka adalah teman (pendukung) satu sama lain '. Pendukung tidak hanya sosial - bahkan politik - politik, laki-laki dan perempuan harus saling mendukung. Wanita bahkan dapat mengambil bagian dalam pembuatan hukum. Dan menurut hadis terkenal di mana Hazrat Umar (ra dengannya), ia membahas dengan Sahabas, dan mempertimbangkan meletakkan batas atas pada 'mahar', karena orang muda dianjurkan menikah - seorang wanita dari kursi belakang dia keberatan dan berkata Ketika Al-Qur'an mengatakan dalam Surat Nisa Ch.4, No.20 ayat yang ... 'Anda bahkan bisa memberi setumpuk harta, setumpuk emas di' mahar ', ketika Al Qur'an menempatkan ada batasan pada 'mahar', yang Umar untuk menetapkan batas (ra dengan dia). Dan segera Hazrat Umar (saw) berkata ... 'Umar salah dan wanita itu benar'. Bayangkan, dia adalah wanita biasa - Jika itu akan menjadi seorang wanita yang terkenal, nama wanita itu akan disebutkan dalam Hadis. Karena hadis tidak menyebutkan nama wanita itu, kita dapat mengerti bahwa wanita itu adalah wanita biasa. Berarti, bahkan seorang wanita biasa dapat keberatan dengan 'Khalifa', kepala negara. Dan dalam istilah teknis akan disebut bahwa - 'dia menentang terjadinya pelanggaran terhadap konstitusi', - karena Al Qur'an adalah konstitusi Muslim - Itu berarti seorang wanita bahkan dapat mengambil bagian dalam pembuatan hukum. Wanita bahkan diambil bagian dalam pertempuran bidang Ada bab penuh dalam Sahih Bukhari menyebutkan perempuan di medan pertempuran - Perempuan memberikan air - mereka memberikan pertolongan pertama kepada para prajurit. Karena Al-Qur'an mengatakan "Manusia adalah pelindung dari 'Perempuan'. Dalam keadaan normal, wanita tidak boleh pergi ke medan pertempuran. Ini adalah tugas laki-laki itu. Hanya jika diperlukan, di bawah kebutuhan adalah perempuan diizinkan - dan mereka harus pergi ke medan pertempuran jika mereka inginkan. Kalau tidak, Anda akan memiliki posisi yang sama seperti Anda mengalami di Amerika Serikat. Perempuan di Amerika Serikat yang Tidak Aman Pada wanita Amerika Serikat diizinkan untuk bergabung dengan pertempuran sejak 1901 tapi mereka tidak diperkenankan mengambil bagian aktif - Mereka hanya memainkan bagian dari perawat. Kemudian setelah 'Gerakan feminis' telah dimulai pada tahun 1973, 'feminis' gerakan permintaan ed - "Mengapa perempuan tidak diperbolehkan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam medan pertempuran?" Jadi pemerintah Amerika mengizinkan perempuan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam medan pertempuran. Dan menurut laporan dari Departemen Pertahanan Amerika, yang dirilis pada 23 April 1993 itu mengatakan bahwa, '90 orang diserang secara seksual dalam konvensi, dari yang 83 adalah perempuan dan 117 perwira didakwa dalam disiplin tindakan '. Bayangkan hanya dalam satu konvensi, 83 wanita pelecehan seksual. Apa kejahatan mereka 117 perwira? Mereka membuat wanita lari dan mereka menyambar pakaian mereka. Mereka membuat mereka benar-benar parade telanjang tanpa menutupi bagian genital. Mereka diciptakan untuk berhubungan seks di depan umum. Apakah ini yang Anda sebut 'Perempuan' hak? Jika Anda berpikir bahwa ini adalah apa yang "benar Perempuan", maka Anda dapat menyimpan hak Anda untuk dirimu. Kami tidak ingin saudara kita, putri kita ibu kita untuk menjadi pelecehan seksual. Dan ada kehebohan di parlemen dan Presiden, Bill Clinton - ia sendiri harus minta maaf secara terbuka dan dia berkata, "Diperlukan tindakan akan diambil '. Dan kau tahu kapan politisi mengatakan 'tindakan yang diperlukan akan diambil, apa yang terjadi. Jadi Islam mengijinkan wanita untuk ambil bagian di medan pertempuran hanya bila diperlukan. Tapi ada juga mereka harus menjaga mereka berpakaian Islam dan etika Islam, dan kerendahan hati mereka.
USA Apakah Salah satu Harga Tertinggi Rape
Amerika Serikat seharusnya menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia. Ia juga memiliki salah satu tingkat tertinggi pemerkosaan di negara manapun di dunia. Menurut laporan FBI, pada tahun 1990, setiap hari pada 1756 rata-rata kasus perkosaan itu dilakukan di Amerika Serikat saja. Kemudian laporan lain mengatakan bahwa pada 1900 rata-rata sehari-hari kasus perkosaan yang dilakukan di Amerika Serikat. tahun itu tidak disebutkan. Mungkin tahun 1992, atau 1993. Mungkin orang Amerika punya 'berani' di tahun-tahun berikutnya.
Hukum Islam Mari kita Wanita Breathe Mudah
Pertimbangkan sebuah skenario di mana hukum Islam diterapkan di Amerika. Setiap kali seorang pria melihat seorang wanita dan setiap kurang ajar atau pemikiran malu datang ke pikiran, ia menurunkan tatapannya. Setiap wanita memakai pakaian Islam sebagaimana disebutkan dalam Quran. Setelah ini jika ada orang yang melakukan perkosaan dia diberikan hukuman mati. Saya meminta Anda, dalam skenario seperti, akan tingkat pemerkosaan di Amerika meningkat, ia akan tetap sama, atau akan itu menurun? Jika hukum Islam diterapkan di bagian manapun di dunia, wanita akan bernapas lebih mudah.
Kesimpulan
Sebelum saya menyimpulkan, saya ingin memberikan contoh. Seperti yang saya katakan di awal pembicaraan saya, Islam percaya pada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan - Kesetaraan tidak berarti identicality. Misalkan di kelas 2 siswa, siswa 'A' dan 'B', selama pemeriksaan keduanya keluar pertama - Kedua tanda 80% aman - 80 dari 100. Bila Anda menganalisis pertanyaan kertas, kertas pertanyaan memiliki 10 pertanyaan ent berbeda, masing-masing membawa 10 tanda. Dalam pertanyaan 1 siswa 'A' sampai 9 dari 10, dan siswa 'B' punya 7 dari 10 - Jadi, dalam pertanyaan 1 siswa 'A' lebih tinggi daripada mahasiswa 'B'. Pada pertanyaan 2, siswa 'A' sampai 7 dari 10 dan siswa 'B' punya 9 dari 10 - Mahasiswa 'B' lebih tinggi dari siswa 'A' dalam pertanyaan nomor 2. Pada pertanyaan 3 keduanya mendapat 8 dari 10, keduanya sama. Jadi ketika kita menambahkan tanda semua sepuluh pertanyaan, baik siswa 'A' dan 'B' sampai 80 dari 100. Jadi singkatnya, siswa 'A' dan siswa 'B' lebih dari semua sama. Dalam A 'beberapa pertanyaan' lebih tinggi dari 'B', B 'beberapa pertanyaan' lebih tinggi dari 'A', di lain keduanya sama. Dalam cara yang sama, mengambil contoh bahwa karena Allah telah memberikan pria yang lebih kuat - Misalkan pencuri memasuki rumah yang akan Anda kirim, 'percaya Aku di dalam hak-hak perempuan - saya percaya pada hak-hak perempuan' - akan Anda memberitahu ibumu, kakak Anda dan putri Anda, untuk pergi dan memerangi pencuri itu? " Tidak, tapi alami Anda akan melawan dia - Jika diperlukan mereka dapat mengganggu - Dalam keadaan normal karena Allah telah memberikan Anda lebih banyak kekuatan fisik, Anda harus pergi dan mengatasi si pencuri. Jadi di sini, dalam kekuatan fisik, manusia adalah satu derajat lebih tinggi dari perempuan itu Mari kita ambil contoh lain dimana ia datang untuk menghormati orang tua - Anak-anak harus menghormati ibu 3 kali lebih dari ayah (sebagaimana disebutkan sebelumnya). Di sini wanita memiliki satu derajat lebih tinggi dari laki-laki - Lebih dari semua baik sama Jadi Islam percaya pada kesetaraan, tidak identik - Pria dan wanita lebih dari semua sama dalam Islam. Hal ini singkat, highlights, dari 'Hak Perempuan dalam Islam'. Setelah ini apa masyarakat muslim lakukan adalah berbeda - Banyak masyarakat Muslim tidak memberikan hak-hak perempuan dan mereka menyimpang jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah. Masyarakat Barat sebagian besar bertanggung jawab untuk ini - karena masyarakat Barat, banyak masyarakat muslim telah menjadi over protective, atas tindakan pencegahan dan telah pergi ke satu ekstrim dan menyimpang jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Pada ekstrem lain, beberapa masyarakat Muslim beralih ke budaya Barat, dan mengikuti budaya mereka. Saya ingin memberitahu masyarakat Barat bahwa jika Anda menganalisa hak-hak perempuan dalam Islam menurut Al-Qur'an dan Sunnah - Anda akan menyadari itu modernisasi dan tidak ketinggalan jaman.
Menurut kamus Oxford, 'Hak-Hak Perempuan adalah hak, yang mempromosikan posisi kesetaraan sosial dan hukum, perempuan terhadap laki-laki'
Menurut kamus Oxford, 'adalah mereka yang hak, diklaim untuk perempuan, sama dengan laki-laki, sebagai hal hak pilih bahwa hak untuk memilih, sebagai hal properti, dll'.
'Modernising', menurut kamus Oxford berarti, 'untuk membuat modern, untuk menyesuaikan dengan kebutuhan modern atau' kebiasaan.
Dan menurut kamus Webster berarti ... 'Untuk membuat modern, atau memberikan karakter baru atau penampilan - misalnya, untuk memodernisasi yang ide-ide'.
Singkatnya, modernisasi adalah sebuah proses update atau memilih untuk kemajuan status ini sendiri - Ini bukan status modern muncul dengan sendirinya.
Bisakah kita memodernisasi diri kita sendiri, untuk menguasai masalah kita, dan untuk mewujudkan cara hidup yang baru, untuk seluruh umat manusia?
Saya tidak khawatir tentang ide-ide modern, kesimpulan dan laporan kategoris yang dibuat oleh para ilmuwan dan ahli kursi berpengalaman, seperti bagaimana hidup harus dijalani oleh seorang wanita.
Saya akan dasar kesimpulan saya dan pertimbangan kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan pengalaman.
Pengalaman dan analisis holistik tidak bias faktual, adalah uji yakin, antara emas kebenaran, dan teori glitter.
Kami harus memeriksa berpikir kita terhadap realitas, dinyatakan banyak kali, proses mental kita akan tersesat - Memang otak besar satu kali, percaya bahwa dunia itu datar.
Hak Perempuan di Barat
Jika kita setuju dengan hak Wanita dalam Islam ', sebagaimana yang digambarkan oleh media Barat, Anda memiliki pilihan, tetapi setuju bahwa hak Wanita dalam Islam' yang ketinggalan jaman.
Pembicaraan Barat pembebasan perempuan, sebenarnya adalah sebuah bentuk terselubung dari eksploitasi tubuhnya, perampasan kehormatan dan degradasi jiwanya.
Masyarakat Barat yang berbicara tentang meningkatkan status perempuan dalam Islam, sebenarnya telah mengurangi statusnya untuk selir, untuk gundik, untuk kupu-kupu masyarakat, yang hanya alat di tangan pemasar seks dan pencari kesenangan, yang menyamar di balik layar warna-warni seni dan budaya.
Hak Wanita dalam Islam
mendukung Islam radikal revolusioner, memberikan hak perempuan karena status mereka dan pada hari-hari ketidaktahuan ... 1400 tahun yang lalu.
Tujuan Islam itu dan terus menjadi, untuk memodernisasi pemikiran kita, hidup kita, kita melihat, mendengar kita, perasaan kita dan berjuang untuk upliftment perempuan dan emansipasi di masyarakat.
Sebelum saya tinggal lebih lanjut dengan topik, saya ingin Anda untuk membuat catatan beberapa poin.
• Sekitar seperlima dari penduduk dunia, terdiri dari Muslim. Ada perbedaan masyarakat Muslim - Beberapa mungkin dekat dengan Islam, beberapa mungkin berada jauh dari Islam.
• The 'hak Wanita dalam Islam' harus dihakimi menurut sumber-sumber asli, dan bukan apa setiap muslim lakukan, atau apa masyarakat Muslim melakukannya.
• Sumber-sumber otentik Islam, adalah Al Qur'an, yang adalah firman Allah, dan Sunnah otentik, dan tradisi Nabi yang kita cintai (saw).
• Al-Qur'an tidak akan bertentangan itu sendiri, juga tidak akan bertentangan Hadis otentik itu sendiri ... tidak akan kedua sumber otentik, bertentangan satu sama lain.
• Kadang-kadang para ulama berbeda, dan banyak kali, perbedaan-perbedaan ini dapat dihilangkan dengan menganalisis Al-Qur'an secara keseluruhan, dan bukan hanya dengan mengutip satu ayat tertentu. Karena jika satu ayat tertentu dari Al Qur'an adalah ambigu banyak kali jawaban diberikan di tempat lain di dalam Alquran - Beberapa orang mengutip satu sumber dan mengabaikan semua sumber-sumber lain.
• Ini adalah kewajiban setiap Muslim, laki-laki atau perempuan, untuk mencari kesenangan Allah, dan bertindak sebagai wali amanat-Nya di dunia ini, dan tidak mencoba dan mendapatkan ketenaran atau memuaskan ego sendiri.
Islam percaya pada kesetaraan laki-laki dan perempuan - 'Kesetaraan' tidak berarti 'identicality'.
Dalam Islam, peran seorang pria dan wanita adalah gratis, tidak saling bertentangan. Ini adalah kemitraan, itu tidak bertentangan, sehingga berusaha untuk supremasi.
Di mana hak-hak perempuan dalam Islam 'yang bersangkutan, saya telah dipisahkan menjadi 6 kategori luas.
Enam Kategori Hak Perempuan dalam Islam
Yang pertama adalah 'hak Spiritual', kedua adalah 'hak Ekonomi, ketiga adalah' hak Sosial ', keempat adalah' hak Pendidikan ', kelima adalah "hak Hukum", dan terakhir adalah' hak politik '.
Seks adalah Bukan Kriteria untuk Masukkan Paradise:
Kesalahpahaman terbesar yang telah Barat tentang Islam, adalah bahwa mereka berpikir ... 'surga dalam Islam, ini dimaksudkan untuk laki-laki - itu tidak dimaksudkan untuk perempuan'.
Kesalahpahaman ini dapat dihapus dengan mengutip dari Surah Nisa, Ch. Nomor 4, Ayat No 124, yang mengatakan, "Jika ada yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan dan memiliki iman, mereka pasti akan masuk surga dan tidak sedikit ketidakadilan tersebut harus dilakukan agar mereka '
Hal yang sama diulangi dalam Surah Nahl, Ch.16, Ayat No.97 yang mengatakan ... "Jika ada yang melakukan perbuatan baik, baik itu pria atau wanita dan beriman, Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan Kita harus penghargaan untuk semua perbuatan baik Anda.
Hanya karena dalam Islam, seks bukanlah kriteria untuk masuk surga, akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Spiritual A. Hak-hak Perempuan dalam Islam
Kesalahpahaman lainnya adalah bahwa, yang media Barat, bahwa, "Wanita itu tidak memiliki jiwa '.
Bahkan, itu pada abad ketujuh belas, ketika Dewan orang-orang bijak, ketika mereka berkumpul di Roma, dan mereka secara bulat setuju bahwa wanita itu tidak jiwa.
Dalam Islam, pria dan wanita mempunyai sifat rohani yang sama. Hal ini disebutkan dalam Quran, Ch.4, Ayat No.1, yang mengatakan bahwa, "Wahai manusia Guardian hormat Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari satu orang dan diciptakan seperti sifat pasangannya.
Hal yang sama disebutkan dalam Surah Nahl, Ch.16, Ayat No.72, yang mengatakan bahwa, "Kami telah dibuat untuk Anda dan teman-teman alam sendiri '.
Dalam Surah Al-Syura, Ch.42, Ayat No.11, ia mengatakan, "Dia adalah orang yang telah menciptakan langit dan bumi dan telah dibuat untuk Anda pasangan dari kalangan 'sendiri.
Hanya karena sifat rohani seorang pria dan wanita adalah sama dalam Islam, akan kau sebut hak-hak tersebut dalam Islam, sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Alquran jelas menyebutkan bahwa, "Allah telah bernapas sedikit dari roh-Nya ke dalam umat manusia '.
Jika Anda membaca Surah Hijr, Ch.15, No.29 Ayat, ia mengatakan, 'Ketika saya memiliki gaya Anda dalam proporsi jatuh tempo dan telah meniupkan ke sesuatu roh saya, jatuh Anda turun di sembah'.
Hal yang sama diulangi dalam Al Qur'an, dalam Surah Sajdah, Ch. 32, No.9 Ayat, yang mengatakan, "Kemudian Dia Kusempurnakan dan meniupkan ke dalamnya Roh-Nya ...'.
Di sini, ketika Allah merujuk kepada Sesuatu sebagai 'Roh-Ku, yang ditiupkan ke manusia' - itu tidak berarti, semacam inkarnasi atau bentuk panteistik.
Ini berarti bahwa Allah telah diberikan kepada setiap manusia sesuatu Alam spiritual-Nya, dan Pengetahuan Allah Maha Kuasa, dan datang lebih dekat kepada-Nya.
Di sini merujuk pada Adam dan Hawa (semoga damai atas mereka) - Kedua adalah meniupkan sesuatu dari Roh Allah.
Sekali lagi kita baca dalam Al Qur'an, bahwa Allah telah menunjuk manusia sebagai khalifah-Nya, sebagai wali amanat-Nya, seperti yang disebutkan dalam Surah Isra, Ayat Ch.17 No.70, yang mengatakan, "Kami menghormati anak-anak Adam dan berikan kepada mereka 'bantuan khusus.
Catatan, di sini semua anak Adam telah dimuliakan, laki-laki maupun perempuan.
Ada beberapa kitab suci agama, misalnya Alkitab, yang menempatkan menyalahkan Hawa karena kejatuhan manusia.
Bahkan jika Anda membaca Alquran dalam Surat Araf,, Ch.7 No.19 Ayat 27, Adam dan Hawa (semoga damai atas mereka berdua) yang ditangani, lebih dari selusin kali.
Kedua mendurhakai Allah, baik meminta maaf, baik bertobat, dan keduanya telah diampuni.
Dalam Alkitab, jika Anda membaca kitab Kejadian, Ch. 3, hanya Eve yang bertanggung jawab (Damai sejahtera atasnya) untuk kejatuhan manusia.
Dan menurut doktrin 'Original Sin', karena Hawa (semoga damai atasnya) seluruh umat manusia lahir dalam dosa.
Apakah Uplift Kehamilan Wanita atau menurunkan?
Jika Anda membaca Alkitab dalam Kejadian, Ch. 3, Ayat 16, dikatakan bahwa, 'Untuk wanita Dia (Allah) berkata, "Aku akan sangat sakit Anda kalikan dalam melahirkan anak, dalam kesusahan yang engkau akan melahirkan anak-anak, namun keinginan Anda harus menjadi suami Anda, dan dia akan memerintah atas dirimu. "'
Itu berarti, kehamilan dan kelahiran anak yang telah dikatakan dalam Alkitab untuk mendegradasi perempuan dan nyeri persalinan adalah semacam hukuman.
Bahkan jika Anda membaca Alquran, kehamilan dan kelahiran anak perempuan telah terangkat.
Jika Anda membaca Surah Nisa, Ch.4, Ayat No.1, ia mengatakan, 'Hormati rahim yang bosan'.
Seperti disebutkan dalam Surah Luqman,, Ch.31 Ayat No.14, ia mengatakan, "Kami perintahkan pada manusia untuk bersikap baik kepada orang tua, melahirkan, atas penderitaan itu ibu mereka melahirkan mereka dan dalam dua tahun adalah penyapihan mereka ' .
Hal yang sama disebutkan dalam Surah Ahqaf, Ch.46, Ayat No.15, lagi mengulangi, yang mengatakan, "Kami perintahkan pada manusia untuk baik kepada orang tuanya.
Untuk bersikap baik kepada orang tua - sakit itu ibu mereka melahirkan mereka, dan kesakitan dia memberi mereka melahirkan - Kehamilan dalam Al-Qur'an telah ditinggikan perempuan itu tidak rusak.
Hanya karena kehamilan telah terangkat perempuan dalam Islam akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Kriteria dalam Sight Allah kepada Hakim Pria dan Wanita:
Kriteria hanya untuk penilaian di sisi Allah adalah 'Taqwa', 'kesadaran Tuhan' atau 'kebenaran'.
Hal ini disebutkan dalam Surah Hujurat, Ch.49, 13 Ayat "Hai manusia, Kami telah menciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan dan telah dibagi Anda ke bangsa dan suku, sehingga Anda akan mengenali satu sama lain tidak bahwa Anda menghina satu sama lain dan yang paling terhormat di sisi Allah, adalah orang yang paling benar '.
Sex, warna, kasta, kekayaan tidak punya kriteria dalam Islam - Kriteria hanya di hadapan Allah adalah 'kebenaran', tidak adalah seks kriteria bagi Allah untuk hadiah atau untuk menghukum seseorang.
Jika Anda membaca Surah No.195 Imran Ayat Ch.3 itu mengatakan 'Saya tidak akan menderita kehilangan apapun dari Anda, baik laki-laki atau perempuan, Anda kepada teman satu sama lain'.
Sama Moral Tugas untuk Pria dan Wanita:
Aku mulai bicara saya dengan mengutip ayat dari Al-Qur'an dari Surah Al Ahzab, Ch.33, No.35 Ayat, yang mengatakan,
"Untuk pria Muslim dan perempuan Muslim,
untuk laki-laki yang beriman dan wanita,
untuk pria dan wanita yang saleh,
untuk pria sejati dan wanita,
untuk pria dan wanita yang sabar dan konstan,
untuk pria dan wanita yang menyerah amal,
untuk pria dan wanita yang cepat dan menyangkal diri sendiri,
untuk pria dan wanita yang menjaga kemaluannya,
untuk pria dan wanita yang terlibat banyak dalam memuji Tuhan,
Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. "
Ayat ini menunjukkan bahwa tugas rohani, tugas moral, untuk pria dan wanita dalam Islam adalah sama - Kedua harus percaya, keduanya harus berdoa, keduanya memiliki untuk berpuasa, keduanya harus menyerah amal, dll, dll
Tapi wanita-wanita telah diberikan konsesi tertentu dalam Islam.
Jika dia mengalami haid atau hamil, dia tidak harus cepat - Dia dapat menjaga orang-orang puasa nanti, ketika dia lebih sehat.
Selama periode menstruasi dan selama periode setelah melahirkan, dia membutuhkan tidak berdoa juga - dia telah diberi konsesi, dan juga tidak dia harus menggantinya nanti.
Hanya karena tugas moral laki-laki dan perempuan sama dalam Islam akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
B. Hak Ekonomi Perempuan
Islam memberi hak ekonomis kepada perempuan 1.300 tahun sebelum Barat.
Seorang wanita dewasa Muslim bisa sendiri, dia bisa membuang atau menyangkal salah satu miliknya tanpa konsultasi salah satu, terlepas apakah dia sudah menikah atau dia adalah tunggal.
Pada tahun 1870, itu adalah pertama kalinya di Inggris, bahwa Barat mengakui hak-hak perempuan menikah, di mana dia diperbolehkan untuk memiliki atau membuang semua harta tanpa konsultasi.
Saya setuju bahwa perempuan diberi hak-hak ekonomi mereka 1300 tahun lalu - ini adalah hak kuno - tapi pertanyaannya adalah - 'mereka modernisasi atau ketinggalan jaman? "
Perempuan di Job:
Seorang perempuan dalam Islam, jika dia ingin bekerja ia dapat bekerja - Tidak ada teks dalam Al Quran atau Hadis yang otentik mencegah atau membuatnya dilarang bagi wanita untuk melakukan pekerjaan apapun, asalkan tidak melanggar hukum, sebagai Selama masih dalam pratinjau Syariah Islam, selama dia mempertahankan busana Muslim-nya.
Tapi alam, dia tidak dapat mengambil pekerjaan, yang memperlihatkan kecantikan dan tubuh - Seperti misalnya, pemodelan dan film bertindak, dan jenis pekerjaan tersebut.
Banyak profesi dan pekerjaan yang dilarang untuk wanita juga dilarang bagi manusia, misalnya melayani alkohol, bekerja di sarang perjudian, melakukan apapun bisnis yang tidak etis atau tidak jujur. Semua pekerjaan ini dilarang bagi pria dan wanita.
Sebuah masyarakat Islam yang sejati membutuhkan perempuan untuk mengambil profesi seperti dokter.
Kami memerlukan ginekolog perempuan, kita memang membutuhkan perawat wanita, kita memerlukan guru perempuan.
Tapi, seorang wanita dalam Islam telah punya kewajiban keuangan - Kewajiban keuangan diletakkan di bahu laki-laki dalam keluarga - Oleh karena itu dia tidak perlu bekerja untuk kehidupannya.
Namun dalam kasus asli, di mana ada krisis keuangan di mana kedua ujung tidak bertemu, dia memiliki pilihan untuk bekerja.
Di sini juga, tak seorang pun bisa memaksanya untuk bekerja - la bekerja dari sendiri, akan bebas mutlak.
Keamanan Keuangan untuk Wanita:
Seorang wanita dalam Islam telah diberikan keamanan lebih keuangan, dibandingkan dengan pria itu.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kewajiban keuangan tidak menaruh di bahunya - Ini adalah meletakkan di bahu laki-laki dalam keluarga. Ini adalah tugas dari ayah atau saudara laki-laki, sebelum dia menikah dan tugas suami atau anak, setelah dia menikah untuk menjaga penginapan nya, asrama, pakaian, dan aspek keuangan nya.
Wajib Perkawinan Hadiah untuk Wanita:
Ketika dia menikah, dia di ujung penerima.
Dia menerima hadiah - ia menerima mahar atau hadiah perkawinan, yang disebut sebagai 'mahar'.
Dan disebutkan dalam Al-Qur'an di Surah Nisa, Ch.4 No.4 Ayat yang mengatakan, 'Berikan kepada wanita dalam mahar, hadiah perkawinan'.
Untuk pernikahan untuk upacara dalam Islam, 'mahar' adalah wajib.
Tapi sayangnya dalam masyarakat muslim kita di sini, kita hanya menyimpan nominal 'untuk mahar' memenuhi Alquran, mengatakan 151 Rupee, atau beberapa orang memberikan 786 Rupee dan mereka menghabiskan lakh lakh dan dari Rupee pada resepsi, pada dekorasi, pada bunga-bunga, pada pihak makan siang, pada jamuan makan malam.
Dalam Islam, tidak ada batas-lebih rendah, juga tidak ada batas atas untuk 'mahar' - Tetapi ketika seseorang bisa menghabiskan lakh dari Rupee pada resepsi, tentunya 'mahar' harus banyak lagi.
Ada berbagai budaya yang merayap ke dalam masyarakat Muslim, khususnya di daerah Indo-Pak.
Mereka memberikan sejumlah kecil 'mahar' dan mereka mengharapkan istri untuk memberikan lemari es, untuk memberikan TV, mereka mengharapkan istri untuk memberikan sebuah apartemen, untuk memberikan mobil, dll, dan sejumlah besar mahar, tergantung pada status suami.
Jika dia adalah lulusan, mereka mungkin berharap 1 lakh - Jika ia adalah seorang insinyur mereka dapat mengharapkan 3 lakh - Jika dia adalah seorang dokter mereka dapat mengharapkan 5 lakh.
Menuntut mahar dari istri, langsung atau tidak langsung dilarang dalam Islam.
Jika orangtua gadis itu memberikan sesuatu gadis keluar dari kehendak bebas mereka, itu diterima - Tapi menuntut atau memaksa secara langsung atau tidak langsung, adalah dilarang dalam Islam.
Tidak Keuangan Kewajiban:
Jika karya Perempuan, yang tidak perlu - apa pun yang produktif dia mendapat, itu benar-benar miliknya.
Dia tidak perlu menghabiskan dalam rumah tangga - jika dia ingin menghabiskan itu akan bebas.
Terlepas bagaimana kaya istri, itu adalah tugas suami untuk memberikan penginapan, asrama, pakaian dan mengurus aspek keuangan istri.
Dalam kasus perceraian atau jika istri mendapatkan janda, dia mendapat dukungan keuangan untuk masa 'iddah' - dan jika ia memiliki anak, ia juga diberikan tunjangan anak.
Hak Mewarisi:
Islam memberikan hak kepada perempuan untuk mewarisi, berabad-abad yang lalu.
Jika Anda membaca Alquran - dalam beberapa ayat, di Surah Nisa, dalam Surat Baqarah dan Surah Maidah, disebutkan bahwa seorang wanita, terlepas dia adalah istri atau dia adalah seorang ibu, atau saudara, atau anak perempuan, ia memiliki hak untuk mewarisi. Dan sudah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.
C. Sosial Hak-hak Perempuan dalam Islam
Secara garis besar dapat dikategorikan ke dalam empat sub-judul. hak Sosial diberikan kepada anak perempuan, untuk istri, untuk ibu dan saudara perempuan.
Hak Sosial Daughter sebuah:
Islam melarang, pembunuhan bayi perempuan. Pembunuhan anak-anak perempuan dilarang dalam Islam. Hal ini disebutkan dalam Surah Taqveem, Ch. 81, Ayat No 8 dan 9, 'ketika anak perempuan dikubur hidup-hidup dan saat ia pertanyaan Anda, karena dosa apakah dia dibunuh ". infantisida hanya wanita yang dilarang Tidak, segala macam infanticides yang dilarang dalam Islam, apakah itu menjadi anak laki-laki atau anak perempuan. Hal ini disebutkan dalam Alquran dalam Surat A'nam Ch.6, Ayat No.151 itu, "Bunuh bukan anak-anak Anda karena kekurangan makanan untuk itu adalah Allah yang akan memberikan rezeki untuk Anda dan untuk 'anak-anak. Hal yang sama disebutkan dalam Surah Isra, Ayat Ch.17 No.31 yang mengatakan ... "Bunuhlah anak-anak Anda tidak karena kekurangan makanan, karena Allah yang akan memberikan rezeki kepada Anda dan anak-anak Anda, untuk membunuh anak-anak adalah dosa besar '. Dalam Arab pra-Islam, setiap kali lahir anak perempuan kebanyakan dia dikubur hidup-hidup. Alhamdullillah, setelah penyebaran Islam praktek kejahatan ini telah dihentikan. Tapi sayangnya masih berlanjut di India - Menurut laporan BBC, dalam tugas programe judul yang 'Mari Her Die', ada wartawan Inggris dengan nama Emily Beckenen, yang datang jauh-jauh dari Britania ke India untuk memberi kita statistik pembunuhan bayi perempuan. Dalam programe itu, memberikan statistik, bahwa setiap hari lebih dari 3.000 janin yang gugur di diidentifikasi bahwa mereka adalah perempuan. Jika Anda mengalikan angka ini dengan jumlah hari, yang dikalikan dengan 365, Anda mendapatkan angka lebih dari satu juta janin perempuan gugur setiap tahun di negara kita. Dan ada penimbunan besar dan poster di negara-negara seperti Tamil Nadu dan Rajasthan, yang mengatakan menghabiskan 500 Rupee dan menyimpan 5 lakh Rupee. Apa artinya? - Bahwa Rupee menghabiskan 500 pada pemeriksaan medis seperti Aminocententus atau Ultra Sonografi, dan mengidentifikasi jenis kelamin anak. Jika wanita Anda dapat membatalkan dan Anda akan menghemat 5 lakh Rupee - Bagaimana? Pasangan dari lakh Anda habiskan untuk pendidikannya dan sisa lakh Rupee Anda habiskan untuk memberi mahar kepada orang yang akan menikahinya (kebiasaan di India). Menurut laporan dari Rumah Sakit Pemerintah Tamil Nadu - 'dari setiap 10 anak perempuan yang lahir, empat adalah dihukum mati '- Tidak heran penduduk perempuan di India kurang dari penduduk laki-laki. infantisida Wanita itu terus di India sejak berabad-abad - Jika Anda menganalisis statistik dari sensus 1901, untuk setiap 1000 laki-laki ada 972 wanita. Menurut 1981 statistik dan sensus, ia memberitahu Anda untuk setiap 1000 laki-laki Anda memiliki 934 perempuan. Dan statistik terbaru tahun 1991 memberitahu Anda bahwa untuk setiap 1000 laki-laki Anda memiliki 927 perempuan. Anda dapat menganalisis bahwa rasio perempuan menurun setiap tahun - Dan karena ilmu dan obat-obatan semakin berkembang, telah membantu dalam praktek kejahatan. Hanya karena Islam mengatakan bahwa kamu tidak boleh membunuh anak-anak apakah itu laki-laki atau perempuan akan hak-hak Anda sebut dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman? Alquran tidak hanya melarang wanita pembunuhan bayi, itu memarahi membayangkan Anda sukacita pada saat kelahiran seorang anak laki-laki dan mendapatkan sedih pada saat kelahiran seorang anak perempuan. Dalam Islam, anak perempuan harus dibesarkan dengan benar. Dalam Islam, tidak boleh ada ketimpangan dalam pendidikan dari anak perempuan atau anak. Menurut sebuah Hadis, 'Di hadapan Nabi Muhammad, sekali seorang pria mencium putranya dan menempatkan dia di pangkuannya tapi tidak melakukan hal yang sama kepada putrinya. segera Nabi keberatan dan mengatakan bahwa Anda tidak adil - Anda harus memiliki bahkan mencium putri Anda dan menempatkannya di pangkuan yang lain '.
Sosial Hak Istri:
Semua peradaban sebelumnya, mereka telah menganggap perempuan menjadi 'alat setan'.
Al-Qur'an mengacu pada perempuan sebagai 'Mohsana', yaitu sebuah benteng 'terhadap setan'.
Dan kalau seorang wanita, yang bagus, menikah seorang pria, dia mencegahnya terjadi di jalan yang salah.
Ada sebuah hadis di mana Nabi Muhammad (saw) ia mengatakan bahwa, 'tidak ada monastisisme dalam Islam'.
Dan lagi menurut Sahih Bukhari, Volume No 7, Ch. Nomor 3 Hadis No 4 itu mengatakan bahwa 'Nabi Muhammad ditahbiskan orang-orang muda, semua orang yang memiliki sarana untuk menikah, mereka harus menikah - Untuk itu akan membantu mereka untuk menjaga pandangan mereka dan menjaga kerendahan hati mereka.
Alquran mengatakan bahwa, "Kami telah memasang cinta ke dalam hati suami dan istri.
Jika Anda membaca Surah Rum, Ch. 30, Ayat No 21 ia mengatakan bahwa, "Dan di antara tanda-tanda kami Kami telah menciptakan untukmu pasangan atau teman, sehingga Anda dapat tinggal di dalamnya dalam ketenangan dan kami telah menempatkan cinta dan belas kasih antara hati Anda '.
Menurut Surah Nisa, Ch.4, Ayat No.21, pernikahan dianggap sebagai perjanjian yang kuat, sebuah kontrak yang kuat.
Menurut Surah Nisa, Ch.4, No.19 Ayat, ia mengatakan, 'Anda dilarang untuk mewarisi perempuan dari mereka akan "- Means, untuk menikah dengan izin dari kedua belah pihak diperlukan.
Ini adalah wajib bahwa laki-laki dan perempuan keduanya harus setuju untuk menikah. Tak seorang pun - bahkan tidak dapat memaksa ayah untuk menikahi putri mereka melawan keinginannya.
Ada sebuah hadis dalam kitab Sahih Bukhari, Volume 7, Buku 62, Nomor 69, yang mengatakan 'bahwa seorang wanita dia dipaksa oleh ayahnya untuk menikah melawan keinginannya' - Dan dia pergi ke Nabi dan Nabi tidak valid perkawinan '.
Hadis lain dalam Ibn-e-Humbal, Hadis Nomor 2469, ia mengatakan 'bahwa anak perempuan dipaksa oleh ayahnya untuk menikah - Dan ketika mendekati putri Nabi, Nabi mengatakan Anda bisa melanjutkan, atau jika Anda ingin Anda dapat membatalkan perkawinan.
Itu berarti, persetujuan dari kedua laki-laki dan perempuan diwajibkan.
Dalam Islam, wanita dianggap sebagai ibu rumah tangga - Dia tidak dianggap sebagai ibu rumah tangga, karena dia tidak menikah dengan rumah.
Banyak orang menggunakan istilah, tanpa memahami apa artinya - 'Ibu Rumah Tangga' berarti 'Anda adalah istri dari rumah'.
Jadi saya percaya, dari sekarang dan seterusnya bersaudara lebih suka menyebut diri mereka 'ibu rumah tangga', ibu rumah daripada '', jika mereka menduduki lebih di rumah.
Dalam Islam, seorang wanita, dia tidak menikah dengan seorang master bahwa dia harus diperlakukan seperti budak - Dia menikah dengan itu adalah sama.
Dan ada hadis yang mengatakan dalam Ibn-Hambal - Hadis No 736, 7396. Ia mengatakan bahwa, 'paling sempurna dari orang-orang mukmin adalah mereka yang terbaik dalam karakter dan perilaku, dan orang-orang yang terbaik untuk keluarga mereka dan istri-istri mereka.
Islam memberikan hak yang sama dengan pria dan wanita. Alquran jelas menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan, suami dan istri memiliki hak yang sama dalam semua aspek, kecuali kepemimpinan dalam keluarga.
Hal ini disebutkan dalam Al Qur'an dalam Surah Baqarah Ch.2, Ayat No.228. Ia mengatakan bahwa, "... para wanita telah diberi hak yang sama terhadap mereka (pria) dengan persyaratan yang adil tapi orang-orang memiliki gelar yang lebih tinggi ...'.
Sebagian besar kaum muslim telah salah memahami ayat ini, ketika kata 'pria memiliki gelar yang lebih tinggi "- Seperti yang saya bilang kita harus menganalisis Al-Qur'an secara keseluruhan. Dan seperti disebutkan dalam Surah Nisa, Ch. 4, Ayat No.34 yang mengatakan, 'Orang-orang adalah pelindung dan pengembang dari women, karena Allah telah given 1 dari mereka kekuatan lebih dari yang lain dan mereka give them means mereka'.
Orang bilang Kawwam 'kata' berarti, 'satu derajat lebih tinggi di keunggulan' - Tapi sebenarnya kata 'Kawwam' berasal dari kata akar 'Ikamah'. 'Ikamah' berarti misalnya 'bila Anda memberikan Ikamah sebelum doa - Anda berdiri'.
Jadi 'Ikamah' berarti standup - jadi Kawwam 'kata' berarti satu derajat lebih tinggi dalam tanggung jawab, tidak satu derajat lebih tinggi pada keunggulan.
Bahkan jika Anda membaca komentar dari 'Ibne-Katsir' - Dia mengatakan bahwa Kawwam 'kata' berarti satu derajat lebih tinggi pada tanggung jawab, tidak satu derajat lebih tinggi pada keunggulan.
Dan tanggung jawab ini, harus dilakukan dengan persetujuan bersama dari kedua suami dan istri.
Hal ini disebutkan dalam Surah al-Baqarah, Ch.2, Ayat No.187, yang mengatakan, Yang berarti ... "Istri-istrimu adalah pakaian bagimu, dan kamu pakaian mereka".
Apa tujuan pakaian - Ini digunakan untuk menyembunyikan dan untuk mempercantik.
Suami dan istri, harus menyembunyikan setiap kesalahan orang lain, dan mereka harus saling memperindah - hubungan Its tangan dan sarung tangan.
Alquran menyebutkan bahwa, 'bahkan jika Anda tidak menyukai istri Anda, Anda harus memperlakukan dia dengan baik'.
Hal ini disebutkan dalam Surah Nisa, Ch.4, No.19 Ayat, bahwa, "... istri dengan mereka (istri-istrimu) dalam kebaikan, karena jika Anda membenci mereka mungkin terjadi bahwa Anda membenci sesuatu dimana Allah telah menempatkan banyak baik.
Bahkan jika Anda tidak menyukai istri Anda, Anda harus memperlakukan dia dengan baik dan dengan ekuitas
Hanya karena hak seorang istri sama dengan para suami dalam Islam, akan Anda menelepon hak seperti dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
Hak Sosial Ibu suatu:
Satu-satunya hal di atas hormat kepada Ibu, adalah menyembah Allah - Hal ini disebutkan dalam: Ch.17, Ayat No.28, 29, ini mengatakan bahwa ... 'Allah yang telah ditetapkan untuk Anda, bahwa Anda tidak menyembah selain Dia, dan bersikap baik kepada orang tua Anda. Dan jika salah satu atau keduanya mencapai usia tua tidak mengatakan sebuah kata penghinaan atau menolak mereka tapi alamat mereka dengan kehormatan, dan berbicara kepada mereka dengan kebaikan, dan menurunkan sayap Anda kerendahan hati dan berdoa kepada Allah - "Ya Tuhanku! memberkati mereka karena mereka telah dihargai saya di masa kanak-kanak '. Surah Nisa, Ch. Nomor 4, Ayat No 1 berkata, 'Hormatilah rahim yang membuat Anda bosan'. Surah A'nam, Ch.6, Ayat No.151, mengatakan bahwa, "Engkau harus baik kepada orang tua Anda. Luqman Surah Ch 0,31, Ayat No.14, mengatakan bahwa, "Kami perintahkan pada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Dalam penderitaan di atas penderitaan, apakah ibu mereka melahirkan mereka, dan dalam dua tahun adalah menyapih mereka. Hal yang sama ini diulang kembali dalam Surat Ahqaf, Ch.46, Ayat 15, bahwa ... "Kami perintahkan pada manusia untuk baik kepada orang tuanya. Dalam sakit itu ibu mereka melahirkan mereka dan kesakitan dia memberi mereka lahir '. Hadis lain yang terkait dalam kitab Sahih Bukhari dalam Volume 8, Ch. Nomor 2 Hadis Nomor 2, serta dalam kitab Sahih Muslim - ini mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad ... 'Siapa yang memerlukan kasih maksimum dan hormat dan persahabatan saya di dunia ini? Nabi menjawab - 'ibumu' ' Siapa 'di sebelah? - 'Ibumu' 'Siapa yang berikutnya? " - 'Ibumu' Orang bertanya untuk keempat kalinya, - "Siapa yang berikutnya" Nabi menjawab 'ayahmu'. Jadi 75% cinta dan menghormati pergi ke ibu dan 25% dari cinta dan menghormati pergi ke ayah. Tiga keempat bagian yang lebih baik dari cinta dan menghormati pergi ke ibu - Satu keempat bagian sisa cinta dan hormat pergi ke ayah.
Hak Sosial Suster suatu:
Menurut Surah Tawbah, Ch. 9, Ayat No.71, mengatakan bahwa, "Para pria dan wanita yang mereka bersahabat satu sama lain.
Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) dia berkata, "Para perempuan adalah 'Shakat' - 'Shakat' berarti adik '.
D. Pendidikan Hak untuk Wanita
5 ayat pertama yang disebutkan dalam Al Qur'an itu dari Surah alaq, atau Surah Iqra, Ayat No 1-5 yang mengatakan:
"Baca, membacakan atau memberitakan dalam nama Tuhanmu, yang telah menciptakan manusia dari gumpalan darah beku (lintah seperti zat).
Bacalah, Tuhanmu adalah yang paling berlimpah.
Siapa yang telah mengajarkan penggunaan pena.
Siapa yang telah mengajarkan manusia apa yang ia tahu-bukan '.
Petunjuk pertama yang diberikan dalam Al Qur'an untuk umat manusia itu tidak untuk berdoa, tidak untuk berpuasa, tidak untuk memberikan amal - Ini dibaca - Islam membayar paling penting bagi pendidikan.
Pendidikan Wajib dalam Islam:
Menurut Quran:
• Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi pengetahuan kepada derajat yang tinggi. (58:11)
• Dan katakanlah, Ya Tuhanku! meningkatkan ilmu pengetahuan. (20:114)
• Dan barangsiapa yang diberi pengetahuan itu diberikan kekayaan memang melimpah. (2:269)
• Menurut perkataan Nabi Muhammad (saw) "Ini adalah wajib bagi setiap Muslim, laki-laki atau perempuan, untuk memperoleh pengetahuan (Al-Baihaqi).
Bayangkan, 1400 tahun yang lalu, ketika para wanita yang sakit dirawat dan hanya digunakan sebagai properti, Islam meminta para wanita untuk dididik. Karena Islam mengatakan bahwa setiap wanita harus dididik, - Apakah Anda memanggil perempuan tersebut benar dalam Islam sebagai modernisasi atau ketinggalan jaman?
E. Hak untuk Wanita
Menurut hukum Islam, pria dan wanita sama - Hukum Islam melindungi nyawa dan harta benda seorang laki-laki dan perempuan keduanya. Jika seorang pria pembunuhan seorang wanita dia juga akan menerima hukuman mati dari 'Kisaas'. Menurut hukum Islam 'Kisaas', pria dan wanita - tanpa cedera menjadi mata, hidung, telinga, tubuh - keduanya menerima hukuman yang sama. Dan jika wali si pembunuh, bahkan menjadi seorang wanita - Jika ia mengatakan, bahwa memaafkan pembunuh dan ia menerima 'Día', yaitu kompensasi - pendapatnya tidak dapat ditolak - mereka harus menerimanya. Dan jika ada perbedaan pendapat antara kerabat orang yang dibunuh - Dan beberapa orang mengatakan bahwa si pembunuh harus dibunuh dan beberapa orang mengatakan bahwa ia harus diampuni dan 'Día "harus diterima - orang harus mencegah keluarga dari membunuh pembunuh itu. Dan terlepas apakah saksi atau pendapat yang diberikan oleh seorang pria atau wanita, memiliki berat yang sama. Menurut Surah Maida, Ch.5, Ayat No.30 - Dikatakan ... "Sedangkan pencuri, apakah ia menjadi laki-laki atau perempuan, memotong tangan nya sebagai hukuman atas kejahatannya, contoh dari Allah '. Berarti, jika seseorang merampas, terlepas apakah ia adalah seorang pria atau wanita tangan nya harus dipotong - hukuman yang sama. Menurut Surah Nur, Ch.24, Ayat No.2, ia mengatakan "Jika melakukan percabulan, baik itu pria atau wanita, mencambuk mereka dengan" 100 garis. Hukuman untuk zina dalam Islam terlepas apakah itu laki-laki atau perempuan, itu adalah sama - cambuk dengan 100 garis. Hukuman untuk laki-laki dan perempuan, adalah sama dalam Islam. Dalam Islam seorang wanita diperbolehkan untuk memberi kesaksian Bayangkan, Islam memberikan hak wanita untuk menjadi saksi, 14 abad yang lalu. Bahkan sekarang di hingga akhir 1980, Rabai Yahudi, mereka mempertimbangkan bahwa apakah perempuan harus diberi hak untuk bertindak sebagai saksi atau tidak - Dan Islam memberikan hak itu 1400 tahun yang lalu. Accord ing untuk Surah Nur, Ch.24, Ayat No.4, dikatakan "Jika ada yang menaruh tagihan terhadap kesucian seorang wanita, menghasilkan 4 saksi, dan jika mereka terputus-putus, mengalahkan mereka dengan '80 garis. Dalam Islam untuk kejahatan kecil, Anda membutuhkan 2 saksi - untuk kejahatan besar Anda memerlukan 4 saksi. Menuduh wanita palsu adalah kejahatan besar dalam Islam, karena itu Anda memerlukan 4 saksi. Sekarang hari yang Anda lihat dalam masyarakat modern, Anda menemukan laki-laki menganiaya wanita dan menyebut mereka segala macam nama. Mereka menyebutnya pelacur dll, dan tidak ada yang dilakukan. Dalam sebuah negara Islam, jika seseorang menyebutnya pelacur 'di depan umum atau di tempat lain, dan jika dia membawa orang itu ke pengadilan - Dan jika orang itu tidak bisa menghasilkan 4 saksi atau bahkan jika ia menghasilkan 4 saksi dan salah satu dari mereka bimbang , mereka semua akan menerima 80 cambukan setiap, dan di masa depan semua bukti mereka akan ditolak. Islam memberi penting kepada kesucian wanita itu. Ketika wanita menikah, dia biasanya mengadopsi nama suaminya. Dalam Islam dia memiliki pilihan yang baik menjaga nama suaminya, baik mengadopsi nama suami, atau mempertahankan nama gadisnya. Dan mempertahankan nama gadis dianjurkan dalam Islam - Dan kita temukan di beberapa masyarakat Muslim bahwa perempuan, bahkan setelah mereka menikah mereka mempertahankan nama gadis mereka, karena menurut hukum Islam pria dan wanita equal.Will Anda menelepon hak tersebut dalam Islam modernisasi atau ketinggalan jaman?
F. Hak-hak Politik Wanita
Menurut Surah Tawba, Ch.9, Ayat No.71, "Para pria dan wanita mereka adalah teman (pendukung) satu sama lain '. Pendukung tidak hanya sosial - bahkan politik - politik, laki-laki dan perempuan harus saling mendukung. Wanita bahkan dapat mengambil bagian dalam pembuatan hukum. Dan menurut hadis terkenal di mana Hazrat Umar (ra dengannya), ia membahas dengan Sahabas, dan mempertimbangkan meletakkan batas atas pada 'mahar', karena orang muda dianjurkan menikah - seorang wanita dari kursi belakang dia keberatan dan berkata Ketika Al-Qur'an mengatakan dalam Surat Nisa Ch.4, No.20 ayat yang ... 'Anda bahkan bisa memberi setumpuk harta, setumpuk emas di' mahar ', ketika Al Qur'an menempatkan ada batasan pada 'mahar', yang Umar untuk menetapkan batas (ra dengan dia). Dan segera Hazrat Umar (saw) berkata ... 'Umar salah dan wanita itu benar'. Bayangkan, dia adalah wanita biasa - Jika itu akan menjadi seorang wanita yang terkenal, nama wanita itu akan disebutkan dalam Hadis. Karena hadis tidak menyebutkan nama wanita itu, kita dapat mengerti bahwa wanita itu adalah wanita biasa. Berarti, bahkan seorang wanita biasa dapat keberatan dengan 'Khalifa', kepala negara. Dan dalam istilah teknis akan disebut bahwa - 'dia menentang terjadinya pelanggaran terhadap konstitusi', - karena Al Qur'an adalah konstitusi Muslim - Itu berarti seorang wanita bahkan dapat mengambil bagian dalam pembuatan hukum. Wanita bahkan diambil bagian dalam pertempuran bidang Ada bab penuh dalam Sahih Bukhari menyebutkan perempuan di medan pertempuran - Perempuan memberikan air - mereka memberikan pertolongan pertama kepada para prajurit. Karena Al-Qur'an mengatakan "Manusia adalah pelindung dari 'Perempuan'. Dalam keadaan normal, wanita tidak boleh pergi ke medan pertempuran. Ini adalah tugas laki-laki itu. Hanya jika diperlukan, di bawah kebutuhan adalah perempuan diizinkan - dan mereka harus pergi ke medan pertempuran jika mereka inginkan. Kalau tidak, Anda akan memiliki posisi yang sama seperti Anda mengalami di Amerika Serikat. Perempuan di Amerika Serikat yang Tidak Aman Pada wanita Amerika Serikat diizinkan untuk bergabung dengan pertempuran sejak 1901 tapi mereka tidak diperkenankan mengambil bagian aktif - Mereka hanya memainkan bagian dari perawat. Kemudian setelah 'Gerakan feminis' telah dimulai pada tahun 1973, 'feminis' gerakan permintaan ed - "Mengapa perempuan tidak diperbolehkan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam medan pertempuran?" Jadi pemerintah Amerika mengizinkan perempuan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam medan pertempuran. Dan menurut laporan dari Departemen Pertahanan Amerika, yang dirilis pada 23 April 1993 itu mengatakan bahwa, '90 orang diserang secara seksual dalam konvensi, dari yang 83 adalah perempuan dan 117 perwira didakwa dalam disiplin tindakan '. Bayangkan hanya dalam satu konvensi, 83 wanita pelecehan seksual. Apa kejahatan mereka 117 perwira? Mereka membuat wanita lari dan mereka menyambar pakaian mereka. Mereka membuat mereka benar-benar parade telanjang tanpa menutupi bagian genital. Mereka diciptakan untuk berhubungan seks di depan umum. Apakah ini yang Anda sebut 'Perempuan' hak? Jika Anda berpikir bahwa ini adalah apa yang "benar Perempuan", maka Anda dapat menyimpan hak Anda untuk dirimu. Kami tidak ingin saudara kita, putri kita ibu kita untuk menjadi pelecehan seksual. Dan ada kehebohan di parlemen dan Presiden, Bill Clinton - ia sendiri harus minta maaf secara terbuka dan dia berkata, "Diperlukan tindakan akan diambil '. Dan kau tahu kapan politisi mengatakan 'tindakan yang diperlukan akan diambil, apa yang terjadi. Jadi Islam mengijinkan wanita untuk ambil bagian di medan pertempuran hanya bila diperlukan. Tapi ada juga mereka harus menjaga mereka berpakaian Islam dan etika Islam, dan kerendahan hati mereka.
USA Apakah Salah satu Harga Tertinggi Rape
Amerika Serikat seharusnya menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia. Ia juga memiliki salah satu tingkat tertinggi pemerkosaan di negara manapun di dunia. Menurut laporan FBI, pada tahun 1990, setiap hari pada 1756 rata-rata kasus perkosaan itu dilakukan di Amerika Serikat saja. Kemudian laporan lain mengatakan bahwa pada 1900 rata-rata sehari-hari kasus perkosaan yang dilakukan di Amerika Serikat. tahun itu tidak disebutkan. Mungkin tahun 1992, atau 1993. Mungkin orang Amerika punya 'berani' di tahun-tahun berikutnya.
Hukum Islam Mari kita Wanita Breathe Mudah
Pertimbangkan sebuah skenario di mana hukum Islam diterapkan di Amerika. Setiap kali seorang pria melihat seorang wanita dan setiap kurang ajar atau pemikiran malu datang ke pikiran, ia menurunkan tatapannya. Setiap wanita memakai pakaian Islam sebagaimana disebutkan dalam Quran. Setelah ini jika ada orang yang melakukan perkosaan dia diberikan hukuman mati. Saya meminta Anda, dalam skenario seperti, akan tingkat pemerkosaan di Amerika meningkat, ia akan tetap sama, atau akan itu menurun? Jika hukum Islam diterapkan di bagian manapun di dunia, wanita akan bernapas lebih mudah.
Kesimpulan
Sebelum saya menyimpulkan, saya ingin memberikan contoh. Seperti yang saya katakan di awal pembicaraan saya, Islam percaya pada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan - Kesetaraan tidak berarti identicality. Misalkan di kelas 2 siswa, siswa 'A' dan 'B', selama pemeriksaan keduanya keluar pertama - Kedua tanda 80% aman - 80 dari 100. Bila Anda menganalisis pertanyaan kertas, kertas pertanyaan memiliki 10 pertanyaan ent berbeda, masing-masing membawa 10 tanda. Dalam pertanyaan 1 siswa 'A' sampai 9 dari 10, dan siswa 'B' punya 7 dari 10 - Jadi, dalam pertanyaan 1 siswa 'A' lebih tinggi daripada mahasiswa 'B'. Pada pertanyaan 2, siswa 'A' sampai 7 dari 10 dan siswa 'B' punya 9 dari 10 - Mahasiswa 'B' lebih tinggi dari siswa 'A' dalam pertanyaan nomor 2. Pada pertanyaan 3 keduanya mendapat 8 dari 10, keduanya sama. Jadi ketika kita menambahkan tanda semua sepuluh pertanyaan, baik siswa 'A' dan 'B' sampai 80 dari 100. Jadi singkatnya, siswa 'A' dan siswa 'B' lebih dari semua sama. Dalam A 'beberapa pertanyaan' lebih tinggi dari 'B', B 'beberapa pertanyaan' lebih tinggi dari 'A', di lain keduanya sama. Dalam cara yang sama, mengambil contoh bahwa karena Allah telah memberikan pria yang lebih kuat - Misalkan pencuri memasuki rumah yang akan Anda kirim, 'percaya Aku di dalam hak-hak perempuan - saya percaya pada hak-hak perempuan' - akan Anda memberitahu ibumu, kakak Anda dan putri Anda, untuk pergi dan memerangi pencuri itu? " Tidak, tapi alami Anda akan melawan dia - Jika diperlukan mereka dapat mengganggu - Dalam keadaan normal karena Allah telah memberikan Anda lebih banyak kekuatan fisik, Anda harus pergi dan mengatasi si pencuri. Jadi di sini, dalam kekuatan fisik, manusia adalah satu derajat lebih tinggi dari perempuan itu Mari kita ambil contoh lain dimana ia datang untuk menghormati orang tua - Anak-anak harus menghormati ibu 3 kali lebih dari ayah (sebagaimana disebutkan sebelumnya). Di sini wanita memiliki satu derajat lebih tinggi dari laki-laki - Lebih dari semua baik sama Jadi Islam percaya pada kesetaraan, tidak identik - Pria dan wanita lebih dari semua sama dalam Islam. Hal ini singkat, highlights, dari 'Hak Perempuan dalam Islam'. Setelah ini apa masyarakat muslim lakukan adalah berbeda - Banyak masyarakat Muslim tidak memberikan hak-hak perempuan dan mereka menyimpang jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah. Masyarakat Barat sebagian besar bertanggung jawab untuk ini - karena masyarakat Barat, banyak masyarakat muslim telah menjadi over protective, atas tindakan pencegahan dan telah pergi ke satu ekstrim dan menyimpang jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Pada ekstrem lain, beberapa masyarakat Muslim beralih ke budaya Barat, dan mengikuti budaya mereka. Saya ingin memberitahu masyarakat Barat bahwa jika Anda menganalisa hak-hak perempuan dalam Islam menurut Al-Qur'an dan Sunnah - Anda akan menyadari itu modernisasi dan tidak ketinggalan jaman.
Langganan:
Komentar (Atom)