SEDIKIT SAJA ANAK PANAH BERGESER FOKUSNYA, MAKA AKAN TERJADI PERGESERAN SANGAT BESAR DARI TITIK BIDIK. PERUBAHAN KECIL PADA MASA SEKARANG ,AKAN MEMBAWA PERUBAHAN BESAR DIMASA YANG AKAN DATANG
***
Tersebutlah seorang pemuda ahli maksiat. Tiada satu haripun dia lalui kecuali dia gunakan untuk mabuk-mabukkan, berjudi, main wanita dan sederet kemaksiatan lainnya.
Suatu malam dia berkeliling mencari wanita yang mau diajak kencan.Pucuk dicinta ulampun tiba. Dari sebuah rumah berlentera terang, terdengar olehnya suara merdu. Pemuda itu segera tahu bahwa didalam rumah berdiam seorang wanita cantik tak bersuami, dan tanpa pikir panjang diapun segera masuk. Namun ketika sudah berada di dalam rumah, dia malah tertegun. Dia melihat wanita tersebut sedang membaca Al-quran.
Diapun semakin terhanyut, tatkala mendengar wanita itu membaca ayat ke-16 dari QS Al-Hadid (57); “BELUM TIBAKAH WAKTUNYA BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN UNTUK TUNDUK HATI MEREKA UNTUK MENGINGAT ALLAH DAN KEPADA KEBENARAN YANG TELAH TURUN KEPADA MEREKA?”
Sontak saja hati sang pemuda tergetar. Ayat itu seakan-akan ditujukan kepadanya. Hatinya yang sekian lama dibaluri karatan dosa seakan terkuak. Cahaya Iman yang telah sekian lama padam kini bersinar kembali. Saat itu, ambruklah nafsu syahwatnya. Dia tertunduk lesu dan menangis.Dia berlari ke mesjid untuk bersujud kepada Allah yang telah lama dilupakannya.
Sejak peristiwa itu, kelakuan sang pemuda berubah 180 derajat. Dia larut dalam ibadah dan mencari ilmu. Pemuda itu bernama Fudhail bin’ Iyadh. Kemudian dia dikenal sebagai Sufi dan ulama besar pada zamannya.
***
Sedikit saja anak panah bergeser fokusnya, maka akan terjadi pergeseran sangat besar dari titik balik. Perubahan kecil pada masa sekarang, akan membawa perubahan besar dimasa yang akan datang. Karena itu , kemampuan memilih sikap bisa mengubah total kehidupan seseorang dimasa datang. Itulah yang terjadi pada Fudhail bin ‘Iyadh.
Hanya lewat satu peristiwa , dia mengubah haluan hidupnya, sehingga berubah pula perjalanan nasibnya, dari seorang ahli maksiat menjadi ahli Taat yang namanya terus abadi hingga berabad-abad lamanya. “TEGURAN” dari Allah benar-benar menohok jiwanya, hingga dia tersadarkan dari tidur panjang berselimutkan kejahiliyahan.
Tiada diragukan lagi, hidayah Allah-lah yang menjadikan seseorang berubah. Namun hidayah dari Allah bukan barang Gratisan, karena ia harus dicari. Tidak bisa kita mengatakan bahwa Allah belum memberi kita hidayah, sementara hidayah Allah bertebaran dimana-mana, disetiap waktu, disetiap tempat dan disetiap peristiwa. Masalahnya mau atau tidak kita mengambilnya.
Andaikan hidayah itu Televisi, maka kita harus berikhtiar agar dapat menyalakannya.
Andaikan Hidayah itu ada di majelis Ilmu , kita harus rajin mendatanginya.
Andaikan hidayah itu ada dalam doa, rajin-rajinlah berdoa memohon hidayah.
Berdoalah untuk diri sendiri, untuk pasangan hidup, untuk orang tua, untuk anak cucu, untuk sanak saudara, serta orang-orang yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Orang yang belum pernah berbuat baik maupun orang yang pernah menzalimi kita.
Sekali lagi Allah Ta’ala menebarkan kunci-kunci hidayah disekitar kita.
Didalam setiap peristiwa yang ditakdirkan , terkandung limpahan hidayah yang bisa membuat seseorang terbangkitkan energi dirinya.
Ada yang berubah ketika ditinggal mati orangtuanya.
Ada yang berubah ketika mendapat hinaan dari atasannya,
Ada yang berubah ketika bangkrut usahanya,
Ada yang berubah ketika mendapat nasehat dari orang berilmu,
Ada yang berubah ketika dia masuk penjara,
Ada yang berubah ketika patah hati dan dikecewakan,
Ada yang berubah ketika melihat bening mata bayi kecilnya, dsb.
Bahkan jatuhnya sebutir Apel dari pohon dapat mengubah wajah dunia secara keseluruhan, seperti yang terjadi pada Isaac newton. Jatuhnya Apel telah menginspirasinya untuk menemukan Hukum relativitas.
Yang terpenting maukah kita membuka hati dan pikiran?
Maukah kita belajar serta mau mengakui kelemahan diri?
Jika hal ini dilakukan , akan lebih mudah bagi kita untuk meraih limpahan hidayah Allah, kapanpun dan dimanapun kita berada.
Namun jika belum mau juga, tampaknya kita harus menderita terlebih dulu sebelum melakukan perubahan.
Biasanya penderitaan Efektik mengubah seseorang
***
(Dikutip dari “ Mengantar Ginjal Ke Surga” karya Eman Sulaiman )
Selasa, 26 Januari 2010
SUAPAN PERTAMA UNTUK ANAKKU
Ada banyak cara yang berkembang di masyarakat untuk menyambut datangnya bayi. Islam mengajarkan agar bayi yang baru lahir ditahnik, yaitu memberi kurma (atau makanan manis) yang sudah dilumatkan lebih dulu.
Lahirnya seorang bayi merupakan awal dari kehidupannya di dunia. Dia mulai merasakan aktivitas hidup di dunia ini. Tentunya tak patut ayah dan ibu yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih membiarkan hari-hari pertamanya berjalan tanpa dihiasi tuntunan syariat yang mulia ini, bahkan dikotori oleh hal-hal yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu a’alaihi wasallam.
Banyak hal dipandang oleh masyarakat sebagai adat untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Ada yang memasang lentera di kuburan ari-ari (plasenta) bayi, ada yang memasang gunting atau senjata tajam lain di dekat kepala bayi, ada yang meletakkan rangkaian bawang dan cabai merah di atas kepala bayi, ada pula yang memasang gelang dari benang untuk penangkal bala’ bagi si bayi. Bahkan sebagian orang meyakini, kalau hal itu tidak dilakukan, maka keselamatan si jabang bayi pun terancam. Kalau sudah begini, dikhawatirkan kesyirikan akan masuk tanpa terhindarkan.
Sebenarnya apa yang harus dilakukan pada hari-hari pertama setelah kelahiran telah diajarkan oleh Allah Ta'ala. Melalui perbuatan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam kita bisa melihat dengan jelas penetapan syariat dalam hal ini. Kita simak, apa yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap seorang bayi yang baru saja lahir, sebagaimana penuturan istri beliau, ‘Aisyah bintu Abi Bakr Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anhum :
Apabila didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah, maka beliau mendoakan barakah kepadanya dan mentahniknya.” (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5468 dan Imam Muslim no. 2147)
Tahnik adalah mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan, kemudian menyuapkannya ke mulut bayi. Apabila tidak didapatkan kurma, maka diganti dengan makanan manis lain yang bisa digunakan untuk mentahnik. Para ulama bersepakat bahwa istihbab (disenangi) melakukan tahnik pada hari kelahiran seorang anak. Demikian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi t ketika menerangkan tentang tahnik ini.
Gambaran perbuatan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam ini bisa kita lihat dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : “Aku membawa ‘Abdullah bin Abi Thalhah al-Anshari kepada Rasulullah pada hari kelahirannya, dan waktu itu beliau mengenakan mantelnya sedang mengecat untanya dengan ter. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau membawa kurma?” Aku menjawab, “Ya.” Kemudian kuberikan pada beliau beberapa buah kurma, lalu beliau masukkan ke mulut dan mengunyahnya. Kemudian beliau membuka mulut bayi dan meludahkan kurma itu ke mulut bayi itu. Mulailah bayi itu menggerak-gerakkan lidahnya untuk merasakan kurma tersebut. Maka Rasulullah bersabda, “Kesukaan Anshar adalah kurma.” dan beliau memberinya nama ‘Abdullah. (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5470 dan Imam Muslim no. 2144)
Hadits Anas bin Malik di atas juga memberikan penjelasan kepada kita bahwa tahnik dilakukan dengan menggunakan kurma, dan ini yang disenangi. Apabila dilakukan dengan selain kurma, maka tahnik itu pun telah terlaksana, namun kurma lebih utama. Dari sini pula kita memetik faidah bahwa tahnik dilakukan oleh orang yang shalih, baik laki-laki ataupun perempuan. (Syarh Shahih Muslim)
Begitu pula bisa kita simak kisah-kisah tentang pelaksanaan tahnik yang datang dari sahabat-sahabat yang lainnya. Abu Musa al-Asy’ari z menceritakan:
Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku membawanya kepada Nabi shallallahu a’alaihi wasallam, kemudian beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma. (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5467 dan Imam Muslim no. 2145)
Asma’ bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhum mengisahkan ketika dia mengandung anaknya, ‘Abdullah ibnu az-Zubair di Mekkah :
“Dia mengatakan: Aku keluar (untuk hijrah), sementara telah dekat waktuku melahirkan. Maka aku pergi ke Madinah dan aku singgah di Quba’, serta melahirkan di sana. Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam, lalu beliau meletakkan anakku di pangkuannya. Kemudian beliau meminta kurma, dan mengunyahnya lalu meludahkannya ke dalam mulut anakku. Maka yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludah Rasulullah. Beliau mentahniknya dengan kurma, kemudian mendoakannya dan memintakan barakah baginya. Dan dia adalah bayi pertama yang dilahirkan dalam Islam (dari kalangan Muhajirin). (Shahih,, HR Imam Bukhari no. 5469 dan Imam Muslim no. 2146)
Kisah Asma’ radhiyallahu ‘anha ini memberikan faidah kepada kita tentang disenanginya mendoakan bayi yang dilahirkan itu ketika tahnik. (Syarh Shahih Muslim)
Tak luput dari perhatian kita, semua yang kita simak dari Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari serta Asma’ bintu Abi Bakr radhiallahu ‘anhum di atas menunjukkan bolehnya memberi nama anak pada hari kelahirannya. Ini pun diperkuat oleh penuturan sahabat yang mulia, Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu :
“Didatangkan al-Mundzir putra Abu Usaid ke hadapan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam ketika dia dilahirkan. Maka Nabi shallallahu a’alaihi wasallam meletakkannya di atas pangkuannya, sedangkan Abu Usaid duduk. Pada waktu itu Rasulullah sedang sibuk sehingga Abu Usaid memerintahkan agar anaknya dibawa kembali, maka anak itu diangkat dari pangkuan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam dan mereka pun mengembalikannya pada Abu Usaid. Ketika Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam selesai dari kesibukannya, beliau bertanya, “Di mana bayi tadi?” Abu Usaid pun menjawab, “Kami membawanya kembali, ya Rasulullah!” Lalu beliau bertanya, “Siapa namanya?” Jawab Abu Usaid, “Fulan, ya Rasulullah!” Beliau pun bersabda, “Tidak, akan tetapi namanya Al-Mundzir.” Kemudian pada hari itu beliau memberinya nama Al-Mundzir. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2149)
Inilah tuntunan syariat bagi setiap orang tua yang mengharap kebaikan bagi anaknya. Tak layak semua ini dilewatkan begitu saja, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam..
Wallahu ta’ala a’lam.
Lahirnya seorang bayi merupakan awal dari kehidupannya di dunia. Dia mulai merasakan aktivitas hidup di dunia ini. Tentunya tak patut ayah dan ibu yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih membiarkan hari-hari pertamanya berjalan tanpa dihiasi tuntunan syariat yang mulia ini, bahkan dikotori oleh hal-hal yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu a’alaihi wasallam.
Banyak hal dipandang oleh masyarakat sebagai adat untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Ada yang memasang lentera di kuburan ari-ari (plasenta) bayi, ada yang memasang gunting atau senjata tajam lain di dekat kepala bayi, ada yang meletakkan rangkaian bawang dan cabai merah di atas kepala bayi, ada pula yang memasang gelang dari benang untuk penangkal bala’ bagi si bayi. Bahkan sebagian orang meyakini, kalau hal itu tidak dilakukan, maka keselamatan si jabang bayi pun terancam. Kalau sudah begini, dikhawatirkan kesyirikan akan masuk tanpa terhindarkan.
Sebenarnya apa yang harus dilakukan pada hari-hari pertama setelah kelahiran telah diajarkan oleh Allah Ta'ala. Melalui perbuatan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam kita bisa melihat dengan jelas penetapan syariat dalam hal ini. Kita simak, apa yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap seorang bayi yang baru saja lahir, sebagaimana penuturan istri beliau, ‘Aisyah bintu Abi Bakr Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anhum :
Apabila didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah, maka beliau mendoakan barakah kepadanya dan mentahniknya.” (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5468 dan Imam Muslim no. 2147)
Tahnik adalah mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan, kemudian menyuapkannya ke mulut bayi. Apabila tidak didapatkan kurma, maka diganti dengan makanan manis lain yang bisa digunakan untuk mentahnik. Para ulama bersepakat bahwa istihbab (disenangi) melakukan tahnik pada hari kelahiran seorang anak. Demikian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi t ketika menerangkan tentang tahnik ini.
Gambaran perbuatan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam ini bisa kita lihat dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : “Aku membawa ‘Abdullah bin Abi Thalhah al-Anshari kepada Rasulullah pada hari kelahirannya, dan waktu itu beliau mengenakan mantelnya sedang mengecat untanya dengan ter. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau membawa kurma?” Aku menjawab, “Ya.” Kemudian kuberikan pada beliau beberapa buah kurma, lalu beliau masukkan ke mulut dan mengunyahnya. Kemudian beliau membuka mulut bayi dan meludahkan kurma itu ke mulut bayi itu. Mulailah bayi itu menggerak-gerakkan lidahnya untuk merasakan kurma tersebut. Maka Rasulullah bersabda, “Kesukaan Anshar adalah kurma.” dan beliau memberinya nama ‘Abdullah. (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5470 dan Imam Muslim no. 2144)
Hadits Anas bin Malik di atas juga memberikan penjelasan kepada kita bahwa tahnik dilakukan dengan menggunakan kurma, dan ini yang disenangi. Apabila dilakukan dengan selain kurma, maka tahnik itu pun telah terlaksana, namun kurma lebih utama. Dari sini pula kita memetik faidah bahwa tahnik dilakukan oleh orang yang shalih, baik laki-laki ataupun perempuan. (Syarh Shahih Muslim)
Begitu pula bisa kita simak kisah-kisah tentang pelaksanaan tahnik yang datang dari sahabat-sahabat yang lainnya. Abu Musa al-Asy’ari z menceritakan:
Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku membawanya kepada Nabi shallallahu a’alaihi wasallam, kemudian beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma. (Shahih, HR Imam Bukhari no. 5467 dan Imam Muslim no. 2145)
Asma’ bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhum mengisahkan ketika dia mengandung anaknya, ‘Abdullah ibnu az-Zubair di Mekkah :
“Dia mengatakan: Aku keluar (untuk hijrah), sementara telah dekat waktuku melahirkan. Maka aku pergi ke Madinah dan aku singgah di Quba’, serta melahirkan di sana. Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam, lalu beliau meletakkan anakku di pangkuannya. Kemudian beliau meminta kurma, dan mengunyahnya lalu meludahkannya ke dalam mulut anakku. Maka yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludah Rasulullah. Beliau mentahniknya dengan kurma, kemudian mendoakannya dan memintakan barakah baginya. Dan dia adalah bayi pertama yang dilahirkan dalam Islam (dari kalangan Muhajirin). (Shahih,, HR Imam Bukhari no. 5469 dan Imam Muslim no. 2146)
Kisah Asma’ radhiyallahu ‘anha ini memberikan faidah kepada kita tentang disenanginya mendoakan bayi yang dilahirkan itu ketika tahnik. (Syarh Shahih Muslim)
Tak luput dari perhatian kita, semua yang kita simak dari Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari serta Asma’ bintu Abi Bakr radhiallahu ‘anhum di atas menunjukkan bolehnya memberi nama anak pada hari kelahirannya. Ini pun diperkuat oleh penuturan sahabat yang mulia, Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu :
“Didatangkan al-Mundzir putra Abu Usaid ke hadapan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam ketika dia dilahirkan. Maka Nabi shallallahu a’alaihi wasallam meletakkannya di atas pangkuannya, sedangkan Abu Usaid duduk. Pada waktu itu Rasulullah sedang sibuk sehingga Abu Usaid memerintahkan agar anaknya dibawa kembali, maka anak itu diangkat dari pangkuan Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam dan mereka pun mengembalikannya pada Abu Usaid. Ketika Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam selesai dari kesibukannya, beliau bertanya, “Di mana bayi tadi?” Abu Usaid pun menjawab, “Kami membawanya kembali, ya Rasulullah!” Lalu beliau bertanya, “Siapa namanya?” Jawab Abu Usaid, “Fulan, ya Rasulullah!” Beliau pun bersabda, “Tidak, akan tetapi namanya Al-Mundzir.” Kemudian pada hari itu beliau memberinya nama Al-Mundzir. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2149)
Inilah tuntunan syariat bagi setiap orang tua yang mengharap kebaikan bagi anaknya. Tak layak semua ini dilewatkan begitu saja, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam..
Wallahu ta’ala a’lam.
Makna Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi
''Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'' Mereka berkata: ''Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?''. Tuhan berfirman: ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui''(Al-Baqarah:30)
Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi'' (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.''
Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya'', Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.
Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?''.
Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.
Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :
Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ''Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam'' yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ''Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,'' yaitu ketika Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam.
Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta'ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ''Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (asy-Syuura: 11)
Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ''Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung''(Ali Imran: 173). ''Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.''(Hud: 12). ''Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.''(At-Thalaq: 3). ''Dan cukuplah Allah sebagai Wakil''(An-Nisa': 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, ''Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)''
Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur'an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi''. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.'' Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi'', atau Dia mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi'', atau ''menjadikan khalifah-Ku''. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ''Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.''
Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ''menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.
Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur'an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.
Referensi:
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i
Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi'' (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.''
Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya'', Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.
Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?''.
Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.
Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :
Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ''Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam'' yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ''Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,'' yaitu ketika Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam.
Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta'ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ''Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (asy-Syuura: 11)
Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ''Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung''(Ali Imran: 173). ''Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.''(Hud: 12). ''Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.''(At-Thalaq: 3). ''Dan cukuplah Allah sebagai Wakil''(An-Nisa': 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, ''Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)''
Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur'an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi''. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.'' Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi'', atau Dia mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi'', atau ''menjadikan khalifah-Ku''. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ''Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.''
Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ''menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.
Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur'an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.
Referensi:
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i
Senin, 25 Januari 2010
KECIL Nan TULUS
Seusai salam sholat jum'at di Masjid Jami di salah satu Universitas Islam, daerah Ciputat, para jama'ah diminta kesediaan untuk mensholatkan jenazah. Jenazah diminta dibawa masuk ke dalam masjid dan ditempatkan di depan. Ketika berdiri dan mencari shof lebih di depan yang telah ditinggalkan jama'ah yang tidak ikut sholat jenasah, badanku terasa bergetar, "Ya Allah, aku iri dengan jenasah ini. Engkau buat ia meninggal di hari Jum'at sehingga ia dapat disholatkan oleh jama'ah sebanyak ini", seruku dalam hati.
Nama jenasah ini Bapak Ramdhan, apa amal almarhum yang membuat ia dapat kemudahan seperti ini? Wah, iri aku jadinya.
Tetapi setelah itu, aku mencoba kembali berpikir setelahnya. Kita boleh iri terhadap berapa hal, pertama iri kepada orang berilmu yang mengamalkan dan mau membagi ilmunya, kemudian orang kaya yang dermawan, dan iri pada orang miskin yang sabar dan mau berderma.
Entah amal apa yang membuat Pak Ramdhan ini dapat keberuntungan seperti ini. Mungkin tidak amal besar yang dihandalkan Pak Ramdhan, tapi mungkin amal kecil yang dikerjakan dengan tulus dan konsisten.
Aku jadi teringat, beberapa minggu yang lalu ketika aku berangkat ke Gorontalo, bertemu dua orang yang berbeda profesi dan bertolak belakang persepsi serta kebiasaannya.
Pertama seorang bapak yang gaji per bulannya diatas dua puluh dua juta rupiah menjabat sebagai direksi di multinational corporate di Gorontalo, dan satunya seorang bapak yang gajinya hanya lima ratus ribu yang menjadi guru madrasah ibtidayah di desa Kembang Lor, Gorontalo.
Bapak Guru sudah naik haji, sedangkan Bapak Direksi belum naik haji.
ketika bertanya kepada bapak direksi, "Bagaimana saya akan naik haji? Sekarang ini pengeluaran saya sangat banyak, dan ditambah lagi kesibukan saya saat ini", jelas Bapak Direksi. Jika mengetahui rincian pengeluarannya memang sangat luar biasa, contohnya biaya listrik rumahnya saja perbulan dua juta rupiah.
Sebaliknya Bapak Guru, "Saya naik haji karena menabung setiap bulannya dua ratus ribu rupiah".
Aku terperanjat mendengarnya karena tidak mungkin secara logika seseorang yang sudah berkeluarga dengan gaji lima ratus ribu rupiah bisa menabung dua ratus ribu rupiah.
"Saya seorang guru, terkadang orang tua murid membayar sekolah atau mengirimi kami bahan makanan atau makanan sudah jadi, hal itu sering terjadi sehingga kami bisa menghemat", urainya tentang bagaimana dia bisa menabung.
kemudian, Bapak Guru mendapatkannya, ”Tugas saya sederhana, memberikan yang terbaik dalam mendidik setiap murid saya".
Aku semakin paham perbedaan dua bapak di atas setelah semalam menonton acaranya Mario Teguh. Ada kutipan di layar TV yang tertulis "Jika orang mencari kebahagiaan, maka kebahagiaan ada di luar dirinya. Tapi jika orang mensyukuri kebahagiaan maka kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya".
Bapak Direksi melihat hidup adalah BEBAN sehingga ia BEKERJA KERAS terus untuk MENGATASInya.
Sedang Bapak Guru melihat hidup adalah WUJUD TANGGUNG JAWAB-nya sehingga ia berusaha MEMBERI yang TERBAIK, akibatnya dia memberi dengan TULUS dan MENIKMATI hidupnya.
Apa amal dan cara hidup Pak Ramdhan mirip dengan Bapak Guru? Entahlah, tugasku sebagai sesama muslim mensholatkan, maka sesudah mensholatkan aku ikut mengangkat kerandanya ke mobil ambulan.
Semoga Allah SWT menemukan kami di Jannatun Na’im. Amin.
Jakarta, 22 Januari 2010.
11.01. pm
Nama jenasah ini Bapak Ramdhan, apa amal almarhum yang membuat ia dapat kemudahan seperti ini? Wah, iri aku jadinya.
Tetapi setelah itu, aku mencoba kembali berpikir setelahnya. Kita boleh iri terhadap berapa hal, pertama iri kepada orang berilmu yang mengamalkan dan mau membagi ilmunya, kemudian orang kaya yang dermawan, dan iri pada orang miskin yang sabar dan mau berderma.
Entah amal apa yang membuat Pak Ramdhan ini dapat keberuntungan seperti ini. Mungkin tidak amal besar yang dihandalkan Pak Ramdhan, tapi mungkin amal kecil yang dikerjakan dengan tulus dan konsisten.
Aku jadi teringat, beberapa minggu yang lalu ketika aku berangkat ke Gorontalo, bertemu dua orang yang berbeda profesi dan bertolak belakang persepsi serta kebiasaannya.
Pertama seorang bapak yang gaji per bulannya diatas dua puluh dua juta rupiah menjabat sebagai direksi di multinational corporate di Gorontalo, dan satunya seorang bapak yang gajinya hanya lima ratus ribu yang menjadi guru madrasah ibtidayah di desa Kembang Lor, Gorontalo.
Bapak Guru sudah naik haji, sedangkan Bapak Direksi belum naik haji.
ketika bertanya kepada bapak direksi, "Bagaimana saya akan naik haji? Sekarang ini pengeluaran saya sangat banyak, dan ditambah lagi kesibukan saya saat ini", jelas Bapak Direksi. Jika mengetahui rincian pengeluarannya memang sangat luar biasa, contohnya biaya listrik rumahnya saja perbulan dua juta rupiah.
Sebaliknya Bapak Guru, "Saya naik haji karena menabung setiap bulannya dua ratus ribu rupiah".
Aku terperanjat mendengarnya karena tidak mungkin secara logika seseorang yang sudah berkeluarga dengan gaji lima ratus ribu rupiah bisa menabung dua ratus ribu rupiah.
"Saya seorang guru, terkadang orang tua murid membayar sekolah atau mengirimi kami bahan makanan atau makanan sudah jadi, hal itu sering terjadi sehingga kami bisa menghemat", urainya tentang bagaimana dia bisa menabung.
kemudian, Bapak Guru mendapatkannya, ”Tugas saya sederhana, memberikan yang terbaik dalam mendidik setiap murid saya".
Aku semakin paham perbedaan dua bapak di atas setelah semalam menonton acaranya Mario Teguh. Ada kutipan di layar TV yang tertulis "Jika orang mencari kebahagiaan, maka kebahagiaan ada di luar dirinya. Tapi jika orang mensyukuri kebahagiaan maka kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya".
Bapak Direksi melihat hidup adalah BEBAN sehingga ia BEKERJA KERAS terus untuk MENGATASInya.
Sedang Bapak Guru melihat hidup adalah WUJUD TANGGUNG JAWAB-nya sehingga ia berusaha MEMBERI yang TERBAIK, akibatnya dia memberi dengan TULUS dan MENIKMATI hidupnya.
Apa amal dan cara hidup Pak Ramdhan mirip dengan Bapak Guru? Entahlah, tugasku sebagai sesama muslim mensholatkan, maka sesudah mensholatkan aku ikut mengangkat kerandanya ke mobil ambulan.
Semoga Allah SWT menemukan kami di Jannatun Na’im. Amin.
Jakarta, 22 Januari 2010.
11.01. pm
Kamis, 21 Januari 2010
Komunikasi Dalam Mengajar
KOMUNIKASI DALAM MENGAJAR
Dulu waktu saya jadi murid, guru saya yang banyak bicara sementara saya lebih banyak diam. Sekarang, dalam profesi sebagai pengajar di beberapa kelas pelatihan, mau tidak mau saya juga harus berbicara, terutama pada waktu menjelaskan sebuah konsep.
Rasanya masih segar dalam ingatan saya, sebuah peristiwa di masa SD dulu. Ada murid yang dilabel nakal oleh guru-guru. Begitu terkenal si murid ini akan kenakalannya, sehingga seringkali ia dituduh melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Murid-murid lain (kalau berani) juga dengan mudah menimpakan kesalahan pada dia. Guru-guru juga sudah memiliki prasangka pada murid tersebut. Dalam berkata-kata kepada murid tersebut, yang terdengar hanya larangan dan bentakan. Hampir tidak ada guru yang berkata manis pada dia. Anak itu akhirnya tinggal kelas.
Entah kenapa saya bersimpati pada murid tersebut. Saya kemudian tahu dia dari keluarga kurang mampu, ayahnya penjual kompor minyak tanah dan ibunya buruh cuci. Secara ekonomi memang tidak memadai karena saudaranya ada 5. Saya lalu ajak dia main ke rumah. Saya pinjami buku-buku yang sudah tidak diperlukan karena saya naik kelas. Dia berjanji akan mengembalikan setelah 1 tahun pelajaran. Saya juga punya beberapa kelebihan buku tulis, yang juga saya serahkan pada dia. Ternyata dia jago main gitar, dan bersedia mengajari saya.
Kami berbicara banyak hal. Sambil dia bernyanyi di pucuk pohon cemara, kadang-kadang saya membantunya memahami pelajaran, sesekali ibu datang membawa gorengan. Wah indah betul persahabatan saat itu. Dan saya menemukan bahwa teman saya ini ternyata mampu menyerap materi pelajaran dengan cepat. Hampir setiap hari kami bertemu. Dia selalu datang naik sepeda, dengan membawa gitar bikinan sendiri dan tas berisi buku pelajaran.
Di akhir tahun pelajaran, dia berhasil naik kelas dan masuk 3 besar. Semua orang termasuk guru-gurunya heran dengan prestasinya ini. Lalu dia benar-benar menepati janjinya mengembalikan buku setelah 1 tahun pelajaran lewat dan berkata bahwa dia senang dengan persahabatan ini. Untuk pertama kalinya menurut dia, ada orang mau berkomunikasi kepada dia secara positif. Tidak melarang, tidak berprasangka, mau menghargai dan menerima pendapat orang. Dan justru dengan cara seperti ini, dia mau mengubah dirinya.
Pada saat mendengar kata-katanya itu, saya sungguh-sungguh terharu dan menyadari sepenuhnya bahwa apa-apa yang kita ucapkan keluarkan dari mulut kita benar-benar seperti pedang bermata dua. Kata-kata kita bisa berakibat menghancurkan seseorang tetapi juga bisa membangun seseorang.
Sungguh sebuah pelajaran berharga yang bisa saya tangkap dan saya ingat-ingat betul sampai sekarang. Dan terbawa pada waktu saya harus mengajar di depan kelas. Ada orang bijak yang bilang bahwa kita bisa berjalan di sebelah kiri jalan atau di sebelah kanan jalan. Tapi kita tidak bisa berjalan di tengah jalan. Demikian pula akibat dari kata-kata kita. Bisa berakibat baik atau buruk terhadap seseorang dan tidak pernah berakibat setengah-setengah.
Kata kita pilihan kita. Kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah hasil dari sebuah proses yang tidak sederhana. Dalam menentukan kata apa yang akan dikeluarkan, ada ruang untuk memilih. Jadi kata yang keluar adalah pilihan kita sendiri.
Harus diakui kadang-kadang kita ’memilih untuk menyakiti’ lawan bicara kita. Kita sengaja menggunakan kata-kata yang kita tahu akan meyakiti hatinya, menjatuhkan harga dirinya, dan membuat dia terluka.
Harus diakui pula bahwa menggunakan kata-kata positif untuk tujuan baik bukan hal yang mudah. Jika ada orang berbuat salah atau mendapat hasil yang jelek, kita cenderung menyalahkan dan merendahkan. Pernah seorang teman mengomentari hasil rapor anaknya yang kebetulan jelek : Hey, that’s a silly things for a clever person like you.
Harus diakui pula bahwa kadang-kadang dalam peran sebagai pengajar, seperti ada kekuasaan atau otoritas lebih. Perasaan ini yang menggoda kita untuk mencela peserta didik yang bodoh (dasar tukang bengong kalau di kelas), menggunakan kata-kata yang meneror (masa gitu aja nggak bisaa…!!), mengancam (kalau kelas ini nggak bisa diam, akan dijemur semuanya !), atau menghukum (sekarang tuliskan : Saya memang anak bandel 100 x).
Mengingat dampak dari kata-kata kita sebagai pengajar terhadap anak didik, maka sebaiknya kita betul-betul memilih kata-kata yang tidak akan menghancurkan dia (bodoh, payah, dungu, keterlaluan, nggak pakai otak, dsb), tapi justru mendorong atau memacu dia (ayo kamu pasti bisa, sedikit lagi benar, jangan takut, wah hebat, semangat, dsb).
Bagaimana supaya kita bisa menggunakan kata-kata yang positif dalam mengajar ?
1. Persiapan
Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya. Kuasai materi, kalau sempat latihan sebentar untuk membawakan di rumah.
2. 10 di dahi
Bayangkan Anda melihat angka 10 sebagai simbol kesempurnaan di dahi setiap peserta didik Anda. Ini akan membantu Anda mengubah cara pandang terhadap anak didik menjadi lebih positif, sehingga berakibat pemilihan kata akan lebh baik.
3. Big Me Big You
Tempatkan posisi psikologis Anda sejajar dengan peserta didik. Jangan merasa Anda lebih pandai atau lebih penting dari siapapun di kelas.Datanglah dengan mentalitas bahwa Anda juga ingin belajar. Dengan demikian Anda akan menghormati mereka dan akan memilih kata-kata yang pantas.
4. Dare to Fail
Jangan takut untuk gagal. Lebih penting memaknai proses belajar apa yang ada dari setiap kegagalan. Beri ruang pada murid untuk gagal. Dari sinila mereka akan belajar. Kalau mereka gagal, jangan dicela atau dimarahi. Ajak mereka menemukan dimana kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya.
5. Rehearse rehearse and rehearse
Usahakan dalam pembicaraan sehari-hari (kepada teman, anak, kolega) menggunakan kata-kata positif. Hindari gosip dan membicarakan orang di belakang dia.
Meskipun berat, mari kita mencoba berkata-kata dengan tujuan yang baik kepada peserta didik kita. Mari memilih kata-kata yang positif. Karena akan baik untuk kita dan baik untuk mereka.
Dulu waktu saya jadi murid, guru saya yang banyak bicara sementara saya lebih banyak diam. Sekarang, dalam profesi sebagai pengajar di beberapa kelas pelatihan, mau tidak mau saya juga harus berbicara, terutama pada waktu menjelaskan sebuah konsep.
Rasanya masih segar dalam ingatan saya, sebuah peristiwa di masa SD dulu. Ada murid yang dilabel nakal oleh guru-guru. Begitu terkenal si murid ini akan kenakalannya, sehingga seringkali ia dituduh melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Murid-murid lain (kalau berani) juga dengan mudah menimpakan kesalahan pada dia. Guru-guru juga sudah memiliki prasangka pada murid tersebut. Dalam berkata-kata kepada murid tersebut, yang terdengar hanya larangan dan bentakan. Hampir tidak ada guru yang berkata manis pada dia. Anak itu akhirnya tinggal kelas.
Entah kenapa saya bersimpati pada murid tersebut. Saya kemudian tahu dia dari keluarga kurang mampu, ayahnya penjual kompor minyak tanah dan ibunya buruh cuci. Secara ekonomi memang tidak memadai karena saudaranya ada 5. Saya lalu ajak dia main ke rumah. Saya pinjami buku-buku yang sudah tidak diperlukan karena saya naik kelas. Dia berjanji akan mengembalikan setelah 1 tahun pelajaran. Saya juga punya beberapa kelebihan buku tulis, yang juga saya serahkan pada dia. Ternyata dia jago main gitar, dan bersedia mengajari saya.
Kami berbicara banyak hal. Sambil dia bernyanyi di pucuk pohon cemara, kadang-kadang saya membantunya memahami pelajaran, sesekali ibu datang membawa gorengan. Wah indah betul persahabatan saat itu. Dan saya menemukan bahwa teman saya ini ternyata mampu menyerap materi pelajaran dengan cepat. Hampir setiap hari kami bertemu. Dia selalu datang naik sepeda, dengan membawa gitar bikinan sendiri dan tas berisi buku pelajaran.
Di akhir tahun pelajaran, dia berhasil naik kelas dan masuk 3 besar. Semua orang termasuk guru-gurunya heran dengan prestasinya ini. Lalu dia benar-benar menepati janjinya mengembalikan buku setelah 1 tahun pelajaran lewat dan berkata bahwa dia senang dengan persahabatan ini. Untuk pertama kalinya menurut dia, ada orang mau berkomunikasi kepada dia secara positif. Tidak melarang, tidak berprasangka, mau menghargai dan menerima pendapat orang. Dan justru dengan cara seperti ini, dia mau mengubah dirinya.
Pada saat mendengar kata-katanya itu, saya sungguh-sungguh terharu dan menyadari sepenuhnya bahwa apa-apa yang kita ucapkan keluarkan dari mulut kita benar-benar seperti pedang bermata dua. Kata-kata kita bisa berakibat menghancurkan seseorang tetapi juga bisa membangun seseorang.
Sungguh sebuah pelajaran berharga yang bisa saya tangkap dan saya ingat-ingat betul sampai sekarang. Dan terbawa pada waktu saya harus mengajar di depan kelas. Ada orang bijak yang bilang bahwa kita bisa berjalan di sebelah kiri jalan atau di sebelah kanan jalan. Tapi kita tidak bisa berjalan di tengah jalan. Demikian pula akibat dari kata-kata kita. Bisa berakibat baik atau buruk terhadap seseorang dan tidak pernah berakibat setengah-setengah.
Kata kita pilihan kita. Kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah hasil dari sebuah proses yang tidak sederhana. Dalam menentukan kata apa yang akan dikeluarkan, ada ruang untuk memilih. Jadi kata yang keluar adalah pilihan kita sendiri.
Harus diakui kadang-kadang kita ’memilih untuk menyakiti’ lawan bicara kita. Kita sengaja menggunakan kata-kata yang kita tahu akan meyakiti hatinya, menjatuhkan harga dirinya, dan membuat dia terluka.
Harus diakui pula bahwa menggunakan kata-kata positif untuk tujuan baik bukan hal yang mudah. Jika ada orang berbuat salah atau mendapat hasil yang jelek, kita cenderung menyalahkan dan merendahkan. Pernah seorang teman mengomentari hasil rapor anaknya yang kebetulan jelek : Hey, that’s a silly things for a clever person like you.
Harus diakui pula bahwa kadang-kadang dalam peran sebagai pengajar, seperti ada kekuasaan atau otoritas lebih. Perasaan ini yang menggoda kita untuk mencela peserta didik yang bodoh (dasar tukang bengong kalau di kelas), menggunakan kata-kata yang meneror (masa gitu aja nggak bisaa…!!), mengancam (kalau kelas ini nggak bisa diam, akan dijemur semuanya !), atau menghukum (sekarang tuliskan : Saya memang anak bandel 100 x).
Mengingat dampak dari kata-kata kita sebagai pengajar terhadap anak didik, maka sebaiknya kita betul-betul memilih kata-kata yang tidak akan menghancurkan dia (bodoh, payah, dungu, keterlaluan, nggak pakai otak, dsb), tapi justru mendorong atau memacu dia (ayo kamu pasti bisa, sedikit lagi benar, jangan takut, wah hebat, semangat, dsb).
Bagaimana supaya kita bisa menggunakan kata-kata yang positif dalam mengajar ?
1. Persiapan
Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya. Kuasai materi, kalau sempat latihan sebentar untuk membawakan di rumah.
2. 10 di dahi
Bayangkan Anda melihat angka 10 sebagai simbol kesempurnaan di dahi setiap peserta didik Anda. Ini akan membantu Anda mengubah cara pandang terhadap anak didik menjadi lebih positif, sehingga berakibat pemilihan kata akan lebh baik.
3. Big Me Big You
Tempatkan posisi psikologis Anda sejajar dengan peserta didik. Jangan merasa Anda lebih pandai atau lebih penting dari siapapun di kelas.Datanglah dengan mentalitas bahwa Anda juga ingin belajar. Dengan demikian Anda akan menghormati mereka dan akan memilih kata-kata yang pantas.
4. Dare to Fail
Jangan takut untuk gagal. Lebih penting memaknai proses belajar apa yang ada dari setiap kegagalan. Beri ruang pada murid untuk gagal. Dari sinila mereka akan belajar. Kalau mereka gagal, jangan dicela atau dimarahi. Ajak mereka menemukan dimana kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya.
5. Rehearse rehearse and rehearse
Usahakan dalam pembicaraan sehari-hari (kepada teman, anak, kolega) menggunakan kata-kata positif. Hindari gosip dan membicarakan orang di belakang dia.
Meskipun berat, mari kita mencoba berkata-kata dengan tujuan yang baik kepada peserta didik kita. Mari memilih kata-kata yang positif. Karena akan baik untuk kita dan baik untuk mereka.
Lima Tahapan Kehidupan Yang Dialami Manusia
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Dinamakan dengan hari akhir karena sudah tidak ada hari lagi sesudahnya dan ini adalah tahapan akhir yang dialami manusia. Dan manusia itu mengalami lima tahapan kehidupan:
Tahapan ketiadaan, kemudian tahapan di alam rahim, kemudian alam dunia, dan kemudian alam barzakh, dan kemudian alam akhirat.
1. Tahapan ketiadaan adalah sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Tabaroka wata'ala,
هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (al Insan: 1)
Dan Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." (al Hajj: 5)
2. Adapun tahapan alam rahim, Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (az Zumar: 6)
3. Adapun tahapan kehidupan dunia, Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (an Nahl: 78)
Dan pada tahapan inilah yang menentukan bahagia dan celakanya dan merupakan negeri ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah Tabaroka wat'ala,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (al Mulk: 2)
4. Adapun tahapan alam barzakh, Allah Subhanahu wata'ala berfirman tentangnya,
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan" (al Mukminun: 100)
5. Adapun tahapan kehidupan akhirat adalah tahapan tujuan dan ujung dari semuanya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman setelah menyebutkan tahapan- tahapan kehidupan manusia,
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
"Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (al Mukminun: 16)
Mengimani apa-apa yang akan terjadi setelah kematian
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Beriman dengan segala yang dikabarkan nabi Shallallahu'alaihi wasallam dari apa-apa yang akan terjadi setelah kematian.
Semua ini masuk dalam keimanan dengan hari akhir. Yang demikian itu karena manusia apabila telah mati dia akan memasuki hari akhir tersebut, sehingga dikatakan: orang yang telah mati itu telah terjadi kiamatnya. Dan segala sesuatu yang terjadi seelah kematian adalah termasuk bagian dari hari akhir. Kalau demikian betapa dekatnya hari akhir dengan kita, tidaklah ada pembatas antara kita dengan hari akhir kecuali kematian manusia. Kemudian kita masuk ke dalam hari akhir yang mana tidak ada di sana kecuali balasan-balasan amalan. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memperhatikan perkara ini.
Pikirkanlah wahai manusia. Engkau mendapati dirimu dalam bahaya, karena maut itu tidak seorangpun di antara kita yang mengetahui kedatangannya. Terkadang seseorang keluar rumahnya akan tetapi dia tidak kembali lagi ke rumahnya. Terkadang ada manusia yang duduk di atas kursi di kantornya tetapi dia tidak bisa bangkit lagi darinya. Terkadang seseorang tidur di atas kasurnya akan tetapi tidurnya membawanya ke atas tempat pemandian jenazah. Dan ini adalah perkara- perkara yang mewajibkan kita untuk memanfaatkan kesempatan umur kita untuk bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan agar manusia itu terus menerus merasakan dirinya bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan kembali kepada-Nya. Sehingga jika datang ajalnya dia dalam keadaan baik amalannya seperti yang dia cita-citakan.
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 13-17]
Dinamakan dengan hari akhir karena sudah tidak ada hari lagi sesudahnya dan ini adalah tahapan akhir yang dialami manusia. Dan manusia itu mengalami lima tahapan kehidupan:
Tahapan ketiadaan, kemudian tahapan di alam rahim, kemudian alam dunia, dan kemudian alam barzakh, dan kemudian alam akhirat.
1. Tahapan ketiadaan adalah sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Tabaroka wata'ala,
هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (al Insan: 1)
Dan Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." (al Hajj: 5)
2. Adapun tahapan alam rahim, Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (az Zumar: 6)
3. Adapun tahapan kehidupan dunia, Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (an Nahl: 78)
Dan pada tahapan inilah yang menentukan bahagia dan celakanya dan merupakan negeri ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah Tabaroka wat'ala,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (al Mulk: 2)
4. Adapun tahapan alam barzakh, Allah Subhanahu wata'ala berfirman tentangnya,
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan" (al Mukminun: 100)
5. Adapun tahapan kehidupan akhirat adalah tahapan tujuan dan ujung dari semuanya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman setelah menyebutkan tahapan- tahapan kehidupan manusia,
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
"Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (al Mukminun: 16)
Mengimani apa-apa yang akan terjadi setelah kematian
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Beriman dengan segala yang dikabarkan nabi Shallallahu'alaihi wasallam dari apa-apa yang akan terjadi setelah kematian.
Semua ini masuk dalam keimanan dengan hari akhir. Yang demikian itu karena manusia apabila telah mati dia akan memasuki hari akhir tersebut, sehingga dikatakan: orang yang telah mati itu telah terjadi kiamatnya. Dan segala sesuatu yang terjadi seelah kematian adalah termasuk bagian dari hari akhir. Kalau demikian betapa dekatnya hari akhir dengan kita, tidaklah ada pembatas antara kita dengan hari akhir kecuali kematian manusia. Kemudian kita masuk ke dalam hari akhir yang mana tidak ada di sana kecuali balasan-balasan amalan. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memperhatikan perkara ini.
Pikirkanlah wahai manusia. Engkau mendapati dirimu dalam bahaya, karena maut itu tidak seorangpun di antara kita yang mengetahui kedatangannya. Terkadang seseorang keluar rumahnya akan tetapi dia tidak kembali lagi ke rumahnya. Terkadang ada manusia yang duduk di atas kursi di kantornya tetapi dia tidak bisa bangkit lagi darinya. Terkadang seseorang tidur di atas kasurnya akan tetapi tidurnya membawanya ke atas tempat pemandian jenazah. Dan ini adalah perkara- perkara yang mewajibkan kita untuk memanfaatkan kesempatan umur kita untuk bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan agar manusia itu terus menerus merasakan dirinya bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan kembali kepada-Nya. Sehingga jika datang ajalnya dia dalam keadaan baik amalannya seperti yang dia cita-citakan.
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 13-17]
Langganan:
Postingan (Atom)