Rabu, 28 April 2010

Pembuka - Pembuka Keberkahan Rejeki

Kadang kita merasa orang yang sangat tidak beruntung jika melihat perekonomian di atas kita sehingga kita sering tidak bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan…. Kita merasa kadang hidup sangatlah sulit dan atas itu semua kita mencari alasan untuk menyalahkan siapa atau apa….. Jarang atau bahkan kurang kita dalam melihat kenyataan yang ada disekitar kita.

Ada beberapa cara mungkin yang dapat kita jalankan jika ingin rejeki kita lancar dan berlimpah, di antaranya adalah :

1. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).

2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)

4. Istighfar
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuh: 10-12).

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”

6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)

7. Berbuat Kebaikan
“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Alqashash:84)

Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)

8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)

9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, “Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)

Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)

10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)

Semoga kita dapat melakukan dan mempraktekannya demi kehidupan yang lebih baik. Amin ya Rabbi…..

Source: Yusuf Mansur

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Bismillahirrahmanirrahim…
Sinar pagi hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata indranya, dan cahaya kebenaran hanya terlihat oleh orang orang yang terbuka mata hatinya...

~ Aku perhatikan sebagian orang merasa paling benar dengan agamanya, kemudian aku perhatikan firman Allah : “Sesungguhnya agama yang (diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam…, Barang siapa mencari agama selain agama islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu di sisi-Nya.” Karena itu aku memilih masuk Islam.

~ Aku perhatikan setiap orang mencari kecerdasan, pegangan hidup dengan petunjuk, hukum buatan manusia. Aku perhatikan firman Allah : “Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petujuk dan rahmat.. petunjuk kepada jalan yang lurus.. Tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa… bagi mereka berakal”. Aku memilih menjadi orang yang berakal dan bertaqwa, maka ku jadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupku.

~ Aku perhatikan setiap orang dalam kebingungan akan perilaku idolanya. Aku perhatikan firman Allah : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan hari akhirat..”. Maka aku memilih Rasullullah sebagai idola sepanjang masa hidupku.

~ Aku perhatikan semua orang mempunyai kekasih. mereka ingin sehidup semati dengan kekasihnya. Aku memilih amal saleh sebagai kekasihku, karena ia menyertaiku bila aku masuk kubur, juga menemaniku ketika menghadapi panggilan Ilahi nanti.

~ Aku perhatikan firman Allah : “Adapun orang yang takut di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, surgalah tempat tinggalnya”. Tuhan benar. Aku memilih syurga. Aku takut kepada Allah dan berjuang mengendalikan hawa nafsuku.

~ Aku perhatikan setiap orang memikili kekayaan. mereka menghargai, menilai dan memelihara kekayaan itu. Lalu aku perhatikan firman Allah : “Apa yang ada padamu akan hilang. Apa yang ada disi Allah abadi.” Kapan saja aku memperoleh kekayaan, aku serahkan kekayaanku untuk Allah, supaya terpelihara di sisi-Nya.

~ Aku perhatikan semua orang mempunyai nilai yang dikejar. Harta, pangkat, kemuliaan, dan keturunan. Semuanya bagiku tidak bernilai. Aku perhatikan firman Allah : “ Sesungguhnya Yang termulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” Aku ingin menjadi orang yang mulia. Karena itu, aku memilih taqwa.

~ Aku perhatikan orang saling menusuk, saling mengutuk. Semuanya karena dengki. Setelah aku perhatikan Allah berfirman : “Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ini.” Aku memilih tinggalkan dengki. Aku jauhi pertikaian di antara orang-orang banyak.

~ Semua orang mempunyai musuh yang mereka benci dan perangi. Aku perhatikan firman Allah, “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.” Aku memilih menjadikan setan sebagai musuhku yang abadi. Dan aku lepaskan permusuhan dengan makhluk yang lain.

~ Aku perhatikan orang berebutan rezeki. Kadang-kadang ada orang yang menghinakan dirinya, memasuki yang tidak halal. Aku perhatikan firman Allah, “Tidak ada yang merangkak di bumi melaikan rezekinya ada pada Allah.” Aku adalah salah satu yang merangkak di bumi. Aku kerjakan kewajibanku kepada Allah. Aku tidak hiraukan apa kewajiban Allah terhadapku.

~ Aku perhatikan setiap orang bersandar pada makhluk untuk mencari rezekinya. Aku perhatikan Allah berfirman : “Siapa yang menyandarkan diri kepada Allah, Allah akan mencukupkan rezekinya.” Aku memilih bersandar pada Allah saja.

Potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia tertutup karena kebodohannya, emosi, dan persepsi yang salah.

~Wallahu A’lam Bishshawaab.~

Ketika Adzan Memanggil Kukejar Allah Dengan Sepeda

Hari meranggas petang, para pekerja mulai meninggalkan tempat kerjanya. Bis-bis kota dan metro mini sarat penumpang berhenti di banyak halte dan persimpangan. Wajah-wajah lelah terlihat menuruni tangga bis kota.
Sukardi, siap menghadang wajah-wajah lelah ini di perempatan Rawa Badak, Tanjung Priok. Pria bertubuh tinggi besar, berkulit gelap dengan sorot mata tajam, serta dilengkapi topi “baretta” yang menahan teriknya matahari Jakarta, menantikan mereka di atas sadel sepedanya.
Ia telah pernah bekerja pada sebuah pabrik kaca milik investor Jepang di bilangan Pulo Gadung, Jakarta. Pekerjaan itu digeluti nya selama empat tahun. Namun kini ia harus meninggalkan pekerjaannya itu, karena ia pernah absen beberapa lama, karena sakit yang dideritanya. Karena itulah ia di-PHK. Perusahaan tak mau rugi, tak mau pula menanggung biaya kesehatan … maka PHK-lah jalan keluarnya.
Pak Sukardi siap menerima kenyataan ini, karena keyakinannya telah tertempa oleh nilai Islam yang diyakininya. “Saya yakin, rejeki mah Allah yang ngatur …” Berangkat dari keyakinan yang
tulus itu, serta menyadari keterbatasannya yang tidak lulussekolah dasar, ia banting stir keusaha yang tak pernah ia impi kan sebelumnya: menjadi pengemudi ojek! Keyakinan dan usaha itu memang membuahkan hasilnya, “Setiap hari paling sedikit saya bisa mengantongi tujuh ribu perak. Alhamdulillah, bisa untuk makan dan membiayai anak-anak …” Ia mempunyai empat orang anak. Yang paling besar di SLTA, dua orang di SLTP, yang paling kecil masih di SD. “Sekarang ini, kalau kita nggak kuat mendidik anak dengan agama, gawat! Banyak sekali gangguannya. Kita sering dengar ada anak gadis hamil duluan sebelum nikah. Nauzu biLlah min zalik! Itu kesalah orang tuanya yang tidak mendidik dengan pelajaran agama.”
Kiranya Pak Sukardi benar, arus kejahiliyahan memang tengah merayap di sela-sela kehidupan kita. Arus itu melilit dan meracuni semua lapisan sosial dengan segala perwujudannya. Tidak hanya meracuni si kaya, tapi juga si miskin. Pak Sukardi tak ingin
terlindas arus itu. “Saya tanamkan Islam pada anak-anak melalui pengajian dan halaqoh di Masjid, dan saya “ngasih” contoh pada mereka. Misalnya kalau sholat subuh, kita bangunkan mereka, kita ajak ke masjid …”
“Habis, kita hidup ini untuk apa sih kalau bukan untuk iba ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku. Jadi semua hidu kitaini untuk ibadah. Bekerja ibadah, belajar
ibadah, pokoknya semua lah! Untuk apa hidup di dunia ini kalau cuman bergelimang harta tanpa tujuan yang jelas? Dan kekurangan material bukanlah halangan untuk memilih tujuan hidup yang benar dan pasti!”
Keyakinan itulah yang agaknya terpatri kuat dalam jiwa tukang ojek kita ini. Maka ketika azan memanggil, ia tak menyia-nyiakan waktu untuk tetap berada dalam tujuan utama hidupnya. Ia bergegas pulang ke rumah menunaikan kewajibannya di masjid dekat rumahnya.
“Kalau ngedenger azan terus kita belum sholat, rasanya nggak enak, kayak punya utang saja. Hati gelisah, pengennya mau pulang melulu … padahal lagi ada penumpang.”
“Kenapa mesti pulang segala Pak? Bukankah masjid di sekitar Tanjung Priok ini banyak, di setiap jalan ada masjid?” “Bukan begitu … celana saya kotor, baju juga bau keringet …
Masak mau “ngadep” Alloh, pakai celana dan baju kotor? Sedangkan kalau mau ngadep Pak Lurah aja, kita rapih, ya nggak?”
Pak Sukardi sudah menganggap, ibadah baginya merupakan kebu tuhan. Ia merasa punya beban jika kewajiban terhadap Alloh belum ditunaikan. Tidak hanya itu saja, ia bahkan berusaha mendirikan kewajiban tersebut dengan cara yang terbaik. “Pernah ada teman
saya yang “ngetawa’in” dan ngejek saya, karena saya pakai payung waktu “narik” di siang bolong. Waktu itu bulan Ramadhan. Saya diamkan saja. Habis, dari pada saya batal puasa karena kepanasan?” ceritanya tentang pengalamannya menarik ojek di bulan
suci Ramadhan. “Saya menyayangkan teman-teman saya yang tidak puasa di bulan Ramadhan. Padahal kita bisa ngatur waktu untuk menjaga dan mempertahankan puasa kita. Misalnya kalu narik di bulan Ramadhan, sebaiknya dari pagi sampai sekitar jam sebelasan
lah, jangan lebih. Habis itu kita pulang, sholat Zuhur, tidur di rumah sampai Ashar. Habis Ashar kita bisa narik lagi sampai malem. Itu ‘kan nggak terlalu menguras tenaga? Kita bisa tetap puasa, udah gitu dapet rejeki lagi. Alhamdulillah, selama saya
narik ojek ini, saya nggak pernah “bolong” puasa, bukannya nyom bong nih!”
Pernah suatu hari ia mendapat penumpang, dan sudah menjadi kebiasannya ia selalu mengajak ngobrol orang yang memerlukan jasanya. Pembicaraan berkisar pada soal hujan yang sudah lama tidak turun, entah bagaimana tiba-tiba orang itu mengatakan bahwa berkat kecanggihan, teknologi sekarang hujan sudah bisa dibuat. Pernyataan ini langsung disergah oleh Pak Sukardi. “Hujan mah, biar gimana, buatan Alloh, Pak! Manusia nggak bisa bikin hujan. Kita jangan sombong dengan ilmu pengetahuan kita, sebab kalau
dibandingkan dengan ilmunya Alloh, ilmu kita mah nggak ada artinya. Kita manusia cuma bisa berusaha, Alloh yang menentukan. Kita aja yang ngaku-ngaku bisa bikin hujan buatan, padahal semuanya dari Alloh.”
begitu saja. Ia selalu menyelipkan da’wah nilai-nilai Islam barang sepatah dua patah kata. “Kita ini harus mengajak manusia ke jalan Alloh. Kita ummat Islam semua ini, adalah da’i. Balighu
‘anni walau ayah. Sampaikan dariku walau hanya satu ayat, begitu kata Nabi Muhammad.”ketika ditanya tentang aktifitas keislamannya, dan dari mana ia memperoleh bahan-bahan yang up-to-date untuk berda’wah, ia mengatakan:
” Saya tiap malem Selasa, selalu ngaji di Masjid Al-Mukaromah di Jalan Mangga. Saya pergi sama anak saya yang di SMA, pakai sepeda ini. Alhamdulillah, sepeda ini disamping bisa untuk nyari duit, juga bisa dipakai untuk pergi ngaji ….”
Hari-hari pak Sukardi adalah sepeda dan da’wah, keringat dan ibadah. Sebuah fenomena yang menyejukkan yang dapat kita saksikan di tengah gemuruhnya “pemurtadan” dan pendangkalan aqidah dimana-mana.

KENDARAAN KE AKHIRAT

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya
bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti,
sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini
tentang pengorbanan Nabi Allah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi
memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang,
ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk kambing coklat
tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah
tidak kurang" kata si pedagang berpromosi
matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si
pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan
rumput" kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan
harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.

Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban
mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu
rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih
terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si pedagang setengah
malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas
meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki
(Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)
Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu
di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan
dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya
mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya
sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek,
kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan
selembar lima puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si
kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg cukup jujur
memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi
mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa
ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu
ya),
sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti,
InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu)."

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua
yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail
milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya
tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik
ke arah berlawanan dalam pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap
bulan oleh si kakek.

Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang
berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku
sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan
memilikinya
Yang sanggup membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku
di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali
saat membelinya.

Selasa, 27 April 2010

God Why My Mommy Crying

A Boy frequently ask to His God..
"God, why my mom is crying??"
God said, " Because your Mom is a woman
When I made a women she had to be special..

I made her shoulder strong enough to carry
the weight of the world yet gently enough to give comfort

I gave her an inner strength to endure childbirth
and the rejection that many comes from her children

I gave her a hardness that allows her to keep going
when everyone else gives up and take care of her family through sickness
and fatigue without complaining

I gave her the sensitivity to love her children
under any and all circumstances, even when her children has hoer them very badly

This same sensitivity helps her make a child's boo-boo feel better and shares in their teenager anxieties and fears

I gave her strength to carry her husband through his faults
and fashioned her from his rib to protect his heart

I gave her wisdom to know that a good husband never hurt his wife
but sometimes tests her strengths’ and her resolve to stand beside him unfalteringly

I gave her a tear to shed, It's hers exclusively to use whenever it is needed
it's her only weakness.. It’s a tear for mankind..

Berkah Sebuah Ketaqwaan

Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman - temannya : "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing- masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya ber-tanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab: "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayah-mu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata: "Ayahmu itu dulu seorang pencuri?"!

Pemuda itu berkata: "Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya- untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Ibunya menyela: "Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab: "Ya, begitu kata guruku." Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya' dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh). Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu ditingalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya: "Ini rumah anak yatim, dan Allah memperi-ngatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim". Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya.

Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Ha, di sini", gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berke-liling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyim-panan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata: "Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudia dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabis-kan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri: "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.

Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Isterinya bertanya: "Apa ini?" Dijawab suaminya: "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri pencuri itu: "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata: "Shalat dulu, baru bicara. Ayo pergilah berwudhu' lalu shalat bersama. Tuan rumah-lah yang berhak jadi imam".

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi -wallahu a'lam- bagaimana dia bisa shalat. Selesai shalat dia bertanya: "Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab: "Saya ini pencuri". "Lalu apa yang kau per-buat dengan buku-buku catatanku itu?", tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab: "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak", Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu ke-heranan. Lalu dia berkata: "Hai, ada apa denganmu sebe-narnya. Apa kau ini gila?" Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya.

Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata: "Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekre-taris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku." Ia menjawab: "Aku setuju." Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad Nikah Puterinya.

Belajar Dari Wajah

Menarik sekali jika kita terus menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya, hari ini kita belajar tentang WAJAH.

Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah PANCARAN yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri:
"Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa?“
“Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?"
Karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.
Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah istri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapa pun hari ini, marilah kita BELAJAR ilmu tentang WAJAH.

Subhanallah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah.
Tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita.
Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan.
Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya?
Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan.
Ada yang sorot matanya tajam menghujam, tapi menyejukkan.
Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Ada pula seorang ULAMA yang tubuhnya MUNGIL, dan diberi karunia KELUMPUHAN sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar KESEJUKAN yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam KETENTRAMAN BATIN yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang MENENTRAMKAN, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa SENYUMANnya yang TULUS; PANCARAN WAJAHNYA, nampak ingin sekali ia MEMBAHAGIAKAN siapa pun yang menatapnya.

Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang WAJAHNYA BENGIS , struktur KATANYA KETUS, sorot MATANYA KEJAM, SENYUMANnya SINIS, dan SIKAPnya pun TIDAK RAMAH.
Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu, bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

AMBILLAH kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita.
BUANG jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.


Tidak ada salahnya jika kita EVALUASI DIRI di depan CERMIN. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk BERUSAHA senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal MENINGKATKAN lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi.

Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita MEMBAHAGIAKAN orang lain?
Ingin tidak kita membuat di sekitar kita TERCAHAYAI?

Nabi Muhammad saw memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa PUAS. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bila ada orang yang menyapanya, menganggap orang tersebut adalah orang yang PALING UTAMA di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi saw berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap SIKAP dan PERASAAN orang yang diajak bicara.


Ada pun KEMURAMDURJAAN, KETIDAKENAKAN, KEGELISAHAN itu muncul karena kita BELUM menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang PALING UTAMA. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya SEPARUH MATA, berbicara hanya SEPARUH PERHATIAN.

Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah TIDAK MENGUTAMAKAN ORANG LAIN, maka curahan KATA-KATA, cara MEMANDANG, cara BERSIKAP, itu tidak akan punya DAYA SENTUH. Tidak punya DAYA PANCAR yang kuat.

Orang karena itu, marilah kita berlatih diri MENELITI WAJAH, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, MENGAMBIL TAULADAN wajah yang baik, MENGHINDARI yang tidak baiknya, dan cari KUNCInya kenapa sampai seperti itu? Lalu PRAKTEKKAN dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu BELAJARLAH untuk MENGUTAMAKAN orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik.